Sajak Pseudo Kehidupan
Meja bundar telah penuh
Berisi lingkaran orang yang berhimpitan
Satu kursi untuk satu pantat
Satu meja untuk semua siku.
Sebagian saling menatap
Selebihnya tak ada makna yang menetap.
Padahal semuanya saling menghadap dan mendekap.
Aku, melihatmu ragu-ragu termangu.
Dengan ponsel-gadget
Kawan di sampingmu sendiri asyik menjamu,
Entah siapa yang menjadi tamu.
juga kawan di kiri-kananku
mereka terbahak menghadap dunia yang semu.
Syahdan, semua sibuk menguntit keanehan ini.
Serentak tombol berhala kecil dikotak-katik
Semuanya lupa diri dalam kebersamaan
Masing-masing diri usah menarik diri,
Dari kenyataan menuju kemayaan.
sukmanya mengembara dalam jejaring sosial.
berkelana memasuki akun-akun twiter,
mengomentari status-status facebook,
dan mengukir kata di dinding kepalsuan.
hingga sukmanya terpelanting dalam tawa dan sedih yang
tak keruan.
Oh kawan….
Apalah artinya bahasa dan kehidupan
Bila pertemuan sesak tanpa ungkapan,
Apalah artinya bersua dalam kebersamaan
Bila tatapan memandang tanpa senyuman.
Bahasa dan air muka hanyalah onggokan basa-basi,
Bahasa dan air muka tak lagi mewakili isi hati.
Kini ia hanya sesumbar suara dan rupa
Menyelusup lewat cela-cela euphoria dunia mereka.
Tetapi, Aku-kamu tetap seperti dulu,
Yang yakin bahwa pertemuan ini adalah kenyataan,
Dan pertemuan mereka adalah khayalan.
Ya! Inilah tandas Baudrillard sebagai hyperreality.
Khayalan telah sepadan dengan kenyataan
Menjadi medan magnet yang menarik ke dalam pseudo
kehidupan.
Muhammad Aam D.
Pegiat Sanggar
Ra’jat Kepanasan
Makassar, 3 Mei
2014.