Pengikut

Rabu, 21 Mei 2014

sajak kala KKN



                                                                                Sajak Pseudo Kehidupan

Meja bundar telah penuh
Berisi lingkaran orang yang berhimpitan
Satu kursi untuk satu pantat
Satu meja untuk semua siku.
Sebagian saling menatap
Selebihnya tak ada makna yang menetap.
Padahal semuanya saling menghadap dan mendekap.

Aku, melihatmu ragu-ragu termangu.
Dengan ponsel-gadget
Kawan di sampingmu sendiri asyik menjamu,
Entah siapa yang menjadi tamu.
juga kawan di kiri-kananku
mereka terbahak menghadap dunia yang semu.

Syahdan, semua sibuk menguntit keanehan ini.
Serentak tombol berhala kecil dikotak-katik
Semuanya lupa diri dalam kebersamaan
Masing-masing diri usah menarik diri,
Dari kenyataan menuju kemayaan.
sukmanya mengembara dalam jejaring sosial.
berkelana memasuki akun-akun twiter,
mengomentari status-status facebook,
dan mengukir kata di dinding kepalsuan.
hingga sukmanya terpelanting dalam tawa dan sedih yang tak keruan.

Oh kawan….
Apalah artinya bahasa dan kehidupan
Bila pertemuan sesak tanpa ungkapan,
Apalah artinya bersua dalam kebersamaan
Bila tatapan memandang tanpa senyuman.
Bahasa dan air muka hanyalah onggokan basa-basi,
Bahasa dan air muka tak lagi mewakili isi hati.
Kini ia hanya sesumbar suara dan rupa
Menyelusup lewat cela-cela euphoria dunia mereka.

Tetapi, Aku-kamu tetap seperti dulu,
Yang yakin bahwa pertemuan ini adalah kenyataan,
Dan pertemuan mereka adalah khayalan.
Ya! Inilah tandas Baudrillard sebagai hyperreality.
Khayalan telah sepadan dengan kenyataan
Menjadi medan magnet yang menarik ke dalam pseudo kehidupan.
Muhammad Aam D.
Pegiat Sanggar Ra’jat Kepanasan
Makassar, 3 Mei 2014.

malam... tahukah kau??



Malam… tahu kah kau, hari ini seorang gadis telah di sambut dengan jepretan kamera mewah…
Kanan-kiri tengok gadis itu, di sekililingnya terlihat mereka yang berdasi, berjas dgn wajah tampan, dan meraka dengan highheels-nya tampil dengan anggun bak cinderella dengan dayang-dayang yg setia mendampingi…
Malam … tahu kah kau, semua menatap dengan tajam, entah kepada siapa tatapan itu di tujukan. “hei,, lihat siapa dia dengan pakaian biru lusuh, jeans hitam kusam dan sendal coklat karna lumpur yang melekat” … seolah tatapan yang mengisyaratkan sindiran itu..
Malam … tahu kah kau, gadis itu pulang dengan perasaan “apa yg salah dengan penampilanku seperti ini?” ku tundukkan kepala, layaknya tersangka korupsi dalam layar kaca, karna MALU? Jelas IYA terus dengan alasan apa lagi..
Malam … gadis itu sampai di depan pintu rumah yang sederhana, di sambut dengan senyum wanita paruh baya yang nampak lelah seharian, kaki yang lemah dan kaku lantaran kelamaan menginjak mesin jahit yang menghasilkan pakaian layaknya selebriti dalam majalah terkenal… “kau sudah pulang nak?” Tanyanya pada gadis itu..
Malam … tahu kah kau, terjadi percakapan singkat antara gadis dengan wanita paruh baya itu..
Malam.. tahukah kau, apa yg mereka perbincangkan?? “kapan pakaian ku bisa semewah orang-orang tadi? Kapan dan bagaimana agar ku dapat menegakkan kepala tanpa ada rasa malu dan minder saat tatapan tajam orang-orang yang tadi terulang lagi?...
Malam … tahukah kau,, wanita paruh baya itu menjawab dengan sejuk layaknya embun di pagi hari, kata-kata yang terangkai dalam bentuk DOA… dari bibir kering tanpa warna yg menghiasi itu, keluar sebuah petuah “Nak, kain mewah yang menutupi tubuh tak menjadi jaminan kesuksesan seseorang, bukankah untuk sampai ke atas harus di mulai dengan satu pijakan yang paling bawah terlebih dulu?,, kelak kau akan menjadi seperti apa yang kau impikan, namun pastikan hal itu terwujud karna usaha dan kerja keras mu sendiri..”
Malam … tahu kah kau,,, kini gadis itu bertekad untuk menggapai bintang, takkan berpaling hanya karna satu batu sandungan kecil yang menghalangi..
Malam … tahu kah kau? Bahkan kini gadis itu hendak menjadi PUTIH, menjadi diri-nya sendiri tanpa harus menjadikan orang lain sebagai tolak ukurnya dalam menggapai bintang …
                                                                                                            Makassar 20-mei-2014
                                                                                                            Pukul 01:11
                                                                                                            Kamar tidur yang sederhana


Jumat, 02 Mei 2014

KKN UIN Alauddin angk. 49 , kecamatan galesong utara,



SAJAK WAKTU TANGGAL SATU
                                                Oleh: Muhammad Aam Darmawan.
                                                                     Korcam Galeseong Utara

Kami telah pulang
Meninggalkan seribu cerita
Pagi itu puluhan orang telah datang
kepada kami mereka bergumam cita.

Berjubel setengah tegak dan bungkuk sebagian
baya, muda, dan bocah bersua dalam kegalauan.
Ada berselimut sarung
Sempat senyum lalu kembali murung
Ada tanpa baju
menjabatiku lalu nangis melulu.
Ternyata mereka sedih
Tak ada lagi senyuman murah
Dan wajah baru yang ramah.

Dua bulan kami tinggal bersama
Makan bersama, Cerita bersama, Tidur bersama, dan kerja bersama, oh ya sesekali lapar bersama.
Dengan tuan rumah dan tetangga,
Yang balita hingga dewasa, tua-muda hingga janda
Hidup kami riang ceria
Saban bertemu saling menyapa
Saban hari selalu bersahaja. 
Awal rasa nelangsa
Tergusur ungkapan canda
Memekik dalam ruang tamu, ranjang, meja makan, balla’-balla’
Semuanya, menggema dalam luapan tawa.
Sayangnya berakhir dengan linangan air mata.

Gelinding air mata berkata:
Hati-hati, terima kasih, jangan lupa kenangan kita.
Air mata, keringat, bau mulut, rasa haru dan kenangan
Menyatu dalam diri dan kenyataan
Dalam bayangan ia menjadi hamparan tanah
Lalu menjelma menjadi sawah
Menyuara dalam gemricik saluran irigasi
mengilau bak sinar kemuning padi di sore hari,
dan menyebar kesejahteraan bagi keluarga para petani.

Tapi malang, nasib negeriku tak seindah tulisku
Serupa kampung parang, tak ada perubahan setelah kepergianku.
Tak beruntung mereka menangisi,
Apalagi mencintai,
Sebab kami, hanya memberi janji
dan kebohongan yang tersembunyi:
Tentang Posdaya dan Peradaban.
Maaf  kawan, Kami telah mengibuli.
Makassar, 2 Mei 2014.