TENTANG KEPERGIAN
Tulisan ini aku buat sebagai
suatu usaha untuk tidak lagi berlarut-larut dalam kesedihan dan perihnya luka
saat harus ditinggalkan oleh seorang sahabat. Tentang suatu upayah untuk tetap
terlihat baik-baik saja ditengah kerinduan karena telah terpisahkan dua Alam.
Kilas balik dimana penyesalan itu
berawal, yaitu di tanggal 12 februari 2021, tahun ke dua covid-19 menjadi hal
yang menakutkan di Indonesia, saat semua akitivitas di luar rumah dibatasi. Saking
terbatasnya seorang sahabatpun tak kudengar kabarnya selama seminggu, upayaku
untuk menelponnya untuk berbagi kabar tentang apa yang dilakukan selama satu
minggu itu tanpa pernah melibatkanku, yang tidak seperti biasanya.
“Halo
Mardi”, Sapaku lewat telpon genggam Xiaomi milikku.’
“Sibukko?”,
“Apa mu bikin” tanyaku lanjut.
“Sorry
musda, lagi di rumahnyaka kakak iparku tinggal, bukan di barukang”. Jawabnyanya
lewat suara telpon.
“Ohh…
pantas nda pernah ki keluar jalan” sahutku tanpa lagi melanjutkan pertanyaan
yang Panjang lebar.
“Kabarika
nah kalau sudah ada di rumah (Barukang). akhir dari percakapan ku dengan mardi hari itu.
*Barukang
adalah nama satu jalan yang ada di kecamatan ujung tanah, kota makassar. Karena
Jarak rumahku dan rumahnya yang tidak terlalu jauh membuat kita bergantian
saling jemput satu sama lain saat ingin menghibur diri, entah nongkrong di
sebuah kafe yang ber-Wifi kencang, Nonton film yang sedang hits kala itu, atau
menyusuri jalan kota makassar tanpa tujuan yang jelas.
Setelah hari
itu, tanpa ku sadari bahwa itu adalah hari terakhirku berkabar dengan dia
melalui suara. Februari, maret, April, Hingga bulan Mei, setiap hari ku
menunggu kabarnya. Dia yang hampir setiap hari ku berkirim kabar lewat WA tak
pernah dibalas, pun dibalas ia hanya membalasnya dengan singkat.
Tepat di awal
Ramadhan bulan mei 2021, saya Kembali menanyakan kabarnya via chat wa. Mungkin
sedikit bernada memaksa, saya khawatir dengan keadaanmu yang tak pernah lagi ke
rumahku atau kekhawatiran kami teman-tamannya dalam satu grup WA yang tidak
lagi seramai dan sehebo dulu, karena tidak ada mardi yang memulai obrolan , meski
hanya melalui ruang obrolan WA. Namun sama, dia tak memberi jawaban Panjang
lebar, singgkat hingga komunikasipun dengannya Kembali terputus.
Grup WA itu kami beri nama “WK singkatan dari “Wanita karir” yang saat itu kami sedang berada di fase senang-senangnya ngumpul berdelapan, jalan berdelapan, foto berdelapan, hingga kami kerap dianggap sebagai genk WK yang kerjaannya hanya have Fun, cewek-cewek high class dan terkesan boros. Genk yang kami beri nama WK (Wanita karir) bukan untuk mengkelas-kelaskan suatu pertemanan, nama itu kami buat dengan alasan kami masih sibuk dengan dunia kerja dan masih ingin menikmati masa muda, sebelum masuk ke fase selanjutnya dalam kehidupan. WK tidak terlepas dari pencetus awalnya adalah mardiana (Seorang Wanita yang kerja di perusahaan provider ternama di Indonesia, posisinyapun sdh tidak dapat dipandang sebelah mata lagi di cabang kota makassar), Amma Aziz (Wanita cerdas dibidang Kimia, profesinya sebagai guru dan dosen di salah satu kampus swasta di bulukumba) Amha Zuhaer(Profesinya kala itu sama seperti Amma Aziz yang mengjar di sekolah yang sama, sebelum amha kemudian dipersunting oleh anak kiai dari Lembaga Pendidikan tersebut), Hartini Djalil (Wanita pintar berikutnya dibidang Ilmu Gizi, saat itu dia yang memilih untuk melanjutkan pendidikannya di IPB Bogor), Tenri Maulani (ia juga memilih mengabdi di suatu Lembaga Pendidikan kala itu) Adhe (Wanita Fasionble di genk kami, ia berkarir sebagai karyawan bank swasta di makassar) Khaerana sunusi (Cewek jurusan system Informasi yang memilih meneruskan usaha sukses milik bapaknya) terkahir adalah saya sendiri Musda ( saya juga memilih mengabdi di Lembaga Pendidikan di kota makassar). Kerena kesibukan kita kala itu, orang-orang yang melihat pertemanan kami di media sosial, seperti sekumpulan cewek-cwek hedon, mandiri dan mungkin keras kepala. Wkwkwk
Mei adalah
bulan yang membuat semuanya tak lagi sama. obrolan di grup, jalan bareng dan
hal-hal lain yang dulu seru kini seakan penuh kehati-hatian untuk memulai suatu
percakapan di grup wa WK.
Tarwih pertama
dibulan Ramadhan, ku ajak dia untuk melaksanakan sholat tarwih di masjid, tahun
2021 tahun kedua covid-19 di Indonesia, meski sudah dibolehkan untuk masyarakat
berkumpul melaksanakan ibadah namun tetap dengan protokoler-protokoler covid
yang di wajibkan oleh pemerintah.
“Mardi ayo
pergi tarwih di masjid raya” sapa ku mengawali percakapan setelah
berbulan-bulan ia tak memberikan kabar.
“Tarwih di
rumah jka dulu musda, belum boleh kena angin malam” Jawabnya singkat.
“Sakit apako
mmg kah?, sy ke rumah mu deh..” tanyaku seakan memaksa ia membuka diri dengan
keadaanya yang selalu berusaha untuk ia tutupi.
“Sakitka
musda, sudah satu bulan mka ini kerja dari rumah, ku kasih tau mko deh karena
nda berhenti ko bela menelpon” Katanya.
“tapi jangan
dulu beritahu ke teman-teman yang lain kalau saya sakit, kau ji dulu ini yang
tahu ki.” Sambungnnya lagi” chat yang membuatku kala itu khawatir sekaligus
penasaran, sebab dia tidak seperti biasanya jika sakit.
“sakitka
musda, ada benjolan disekitar ketiak dan payudaraku, semoga kempes mi karena
sementara berobat bugis jka ini di rumahnya kakak ipar ku. *berobat bugis yang
dimaksud suku bugis makassar adalah pengobatan tradisional melalui media air
dan doa-doa tertentu, pun ditambah dengan ramuan-ramuan dari bahan-bahan alami
seperti kunyit, daun-daunan tertentu dan sebagainya.
“semoga sembuh
mi ini, karena kurasa sudah agak mendinganmi benjolannya, tinggal batukku yang
nda berhenti mana lagi BB ku yang drastis sekali turun karena dijagai
makananku, nda boleh daging dan goreng-gorengan. Sambungnya Panjang lebar yang
sudah terbuka tidak seperti sebelumnya.
“doakan ka
sembuh nah, nanti bukber ki sama WK. Jangan mi dulu beritahu anak-anak yang
lain nah, kamu juga jgn mko dulu ke rumah, karena kadang pergika berobat jadi
tidak di rumah ka.
“Iyo pale beb,
kabari mka kalau sdh bisa mka ke rumah mu nah, atau siapa tau ada mau nu makan
kabari mka nnt ku bawakan ke rumah mu. Cepat sembuh beb…” kataku.
“Thanku Musda,
baek na deh”. Akhir dalam percakapan malam itu.
Pikirku saat itu, bahwa saat itu
dia pasti tidak baik-baik saja seperti yang dia jelaskan ke saya, khawatir tapi
sumpah saat itu saya binggung, khawatir karena kenapa dia melarang untuk
dikunjungi dan binggung kenapa saya tidak boleh memberi tahu ke teman-teman WK
yang lain. Alasan kenapa dia memilih berobat bugis, mungkin karena persoalan
biaya, mungkin dia takut membebani keluargnya jika harus berobat ke rumah
sakit, sebab setahu ku dia memang tulang punggung keluarganya. Pikir ku penat.
Minggu kedua Ramadhan,
teman-teman WK sibuk menanyakan jadwal kapan bukber, kapan lagi ngumpul tanpa
mereka tau kondisi sebenarnya dari mardi.
Malam itu chat dari mardi
berbunyi di handphone ku.
“Musda
mauku makan onde-onde goreng” katanya.
“Onde-Onde
goreng yang di pasar malam? Tanyaku lagi. “Tunggu mka ku bawakan ke rumah mu”.
Selang beberapa jam saya dari
rumahnya, ku terima lagi pesan darinya.
“makasih
banyak na musda onde-onde gorengnya, sama jagung rebus putih kesukaan ku”
katanya.
“ku
titip sama kakak mu ji tadi, karena katanya sudah tidur mi” Balas ku, kecewa
karena tidak sempat melihat kondisinya.
“Iya
beb, sorry.. tidurka tadi sedikit, ini bangun mka lagi karena na kasih bangunka
kakak ku” jawabnya menjelaskan.
“Iya
beb, makan mi yang banyak. Bilang mi lg nanti kalau ada mu maui” sambungku
mengakhiri.
Pekan terakhir dibulan Ramadhan,
bergantian dari teman-teman di grup WK mengirim pesan ke saya secara pribadi
menanyakan kondisi mardi yang terkesan ku tutupi.
“Musda,
kenapa mardi? Pasti mu tau ji kondisinya. Masa nda mu tau” Tanya suara amha
Zuhaer di ujung telepon.
Tanpa
berpikir Panjang, tanpa ada usaha untuk menutupi lagi. Takut menyimpannya
sendiri.
“Amha”
teriakku dengan nada Panjang menyebut Namanya.
“Iya
amha sakit ki kodonk, baru tidak mau di tau. Saya juga seandainya tidak ku
paksa bicara, tidak na kasih taukka. Sakit ki kodonk, ada katanya benjolan di
sekitar payudaranya”. Kataku menjeleskan dengan suara sesak.
“pantas
pernah bertnya sama saya, tentang madu yang biasa na minum kak ba’du, tapi
tidak na balasmi siapa yang mau minum, bertanya ji masalah harga” sambung amha
di ujung telepon.
“Kodonk,
kenapa tidak mau bilang-bilang, tidak enak memang feeling kuu, bahkan mau mka
ke rumahnya lihat ki, tapi tidak sempat-sempatka bela”. Sambungnya lagi.
“nanti
sudah lebaran prg mki ziarah ke rumahnya bareng-bareng” nanti berkabarki mau
datang besok, ternyata belum maupi di lihat” Kataku menenangkan amha. Doa untuk
mardi hari itu mengakhiri percakapan ku dengan amha.
Tepat di lima hari setelah
lebaran, kabar mardi tak kunjung memberikan ketenangan ke kami teman-temannya.
Semuanya sudah tau, tentang kondisi mardi yang sebenarnya. Hanya saja kami
belum sempat memiliki waktu yang pas untuk berkunjung bersamaan dengan
teman-teman WK.
Kala itu saya dan khaerana
berkunjung lebih dulu ke rumah mardi dari yang lain. Saat itu kali ke dua ku
lihat kondisi mardi yang sepertinya tidak memberikan perubahan yang signifikan
saat ku lihat di awal-awal iya memberi kabar kalau dia sakit.
“ooo
mardi beb bagaimana mi kabarmu? sambut nanna di awal saat melihat mardi keluar
dari gorden ruang dapur dengan memakai mukenah biru muda.
“Alhamdulillah,
baik-baik jka beb, batukku ji ini yang bikin dilarangka keluar rumah” jawabnya.
Singkat cerita hari itu, kami
bertukar obrolan dari yang tiba-tiba tertawa kemudian terdiam Kembali. Hingga
akhirnya saya dan nanna pamit untuk pulang.
“Pulang
mka na mardi, sehat-sehatki na beb, biar bisaki jalan. Ini ada buah-buahan
sedikit untuk kamu makan”. Ucap nanna sambil berdiri dari kursi kayu Panjang.
“sehat-sehatko
nah” sambungku.
“ba
beb.. terima kasih banyak nah”.. balas mardi dengan suara yang sangat pelan.
Hari-hari terlewati tanpa ada
perubahan yang signifikan dengan mardi, teman-teman pun bergantian datang
membesuk.
Sore itu, sepulang dari pesta
pernikahan salah seorang guru kami di pesantren, kami berlima tanpa adhe dan
tenri sepakat untuk mampir sebentar untuk melihat kondisi mardi. Dan benar tak
ada yang berubah membaik dari kondisinya. Dari kondisinya yang masih mampu
untuk turun tangga, kini sudah tidak mampu lagi melewati anak tangga di
rumahnya. Hingga akhirnya kami yang harus naik menuju kamar tidurnya. Tidak ada
kata yang mampu kami ucapkan, keluh diujung bibir diam saling menatap satu sama
lain karena melihat kondisi mardi. Semakin kurus, kaku dan pucat gambaran
kondisi mardi kala itu. Takut dan khawatir pikir kami kala itu. Saat kami
berlima melihat kondisi mardi tangis yang tertahan di ujung mata.
Sore
itu dipenuhi basa-basi yang kami buat, berusaha tetap tertwa dihadapan mardi,
sesekali terdiam hening. Obrolan basa-basi yang kami upayakan untuk menutupi
kekhawatiran kami dengan kondisinya. Akhirnya kami pulang, setelah sholat
magrib berjamaah dirumahnya, kami mengakhirinya dengan mendoakan kesembuhannya
dan dukungan agar kita bisa berkumpul lagi.
Bulan berlalu setelah kami berkunjung kerumahnya, saya yang masih selalu menanyakan
kabarnya lewat WA, begitupun mungkin dengan teman-teman yang lain. Tepat
tanggal 24 Agustus 2021 empat hari sebelum hari ulang tahunnya. Tepat
jam 05:40 pagi, hari selasa kami menerima kabar secara bersamaan di grup WA kalau
mardi sudah berpulang ke pangkuan sang Ilahi, saya yang masih tidak percaya
dengan apa yang ku baca di dalam grup obrolan pagi itu, secara bersamaan kakak
laki-laki mardi yang bekerja sebagai petugas kebersihan dilingkungan rumah ku,
lewat tepat di depan rumahku dan ku tanyakan kebenaran kabar yang baru saja ku
dengar, dan ternyata benar. Tangis kuuuu pedih, sakit hati belum ingin
kehilangan teman seperti dia, penyesalan tentang kenapa saya yang tidak memberi
tahu teman-teman yang lain di bulan-bulan awal dia sakit. Seandainya lebih awal
kuberi tahu kabar mardi yang sakit parah kepada yang lain, mungkin akhrinya
tidak akan seperti ini, pasti kami bergantian membujukknya ke dokter untuk
berobat. Sampai hari ini dan akhir dari tulisan ini, penyesalan itu selalu
datang mengampiri setiap malam, sebelum tidurku, tangis ku masih tentang
sahabat yang ingin ku usahakan kesembuhannya, masih tentang keinginan untuk
berusaha merawatnya saat sakit.
Makassar,05
juni 2023