Pengikut

Rabu, 07 Juni 2023

Tentang Kepergian

TENTANG KEPERGIAN

Tulisan ini aku buat sebagai suatu usaha untuk tidak lagi berlarut-larut dalam kesedihan dan perihnya luka saat harus ditinggalkan oleh seorang sahabat. Tentang suatu upayah untuk tetap terlihat baik-baik saja ditengah kerinduan karena telah terpisahkan dua Alam.

Kilas balik dimana penyesalan itu berawal, yaitu di tanggal 12 februari 2021, tahun ke dua covid-19 menjadi hal yang menakutkan di Indonesia, saat semua akitivitas di luar rumah dibatasi. Saking terbatasnya seorang sahabatpun tak kudengar kabarnya selama seminggu, upayaku untuk menelponnya untuk berbagi kabar tentang apa yang dilakukan selama satu minggu itu tanpa pernah melibatkanku, yang tidak seperti biasanya.

                “Halo Mardi”, Sapaku lewat telpon genggam Xiaomi milikku.’

                “Sibukko?”, “Apa mu bikin” tanyaku lanjut.

                “Sorry musda, lagi di rumahnyaka kakak iparku tinggal, bukan di barukang”. Jawabnyanya lewat suara telpon.

                “Ohh… pantas nda pernah ki keluar jalan” sahutku tanpa lagi melanjutkan pertanyaan yang Panjang lebar.

                “Kabarika nah kalau sudah ada di rumah (Barukang). akhir dari percakapan  ku dengan mardi hari itu.

*Barukang adalah nama satu jalan yang ada di kecamatan ujung tanah, kota makassar. Karena Jarak rumahku dan rumahnya yang tidak terlalu jauh membuat kita bergantian saling jemput satu sama lain saat ingin menghibur diri, entah nongkrong di sebuah kafe yang ber-Wifi kencang, Nonton film yang sedang hits kala itu, atau menyusuri jalan kota makassar tanpa tujuan yang jelas.

Setelah hari itu, tanpa ku sadari bahwa itu adalah hari terakhirku berkabar dengan dia melalui suara. Februari, maret, April, Hingga bulan Mei, setiap hari ku menunggu kabarnya. Dia yang hampir setiap hari ku berkirim kabar lewat WA tak pernah dibalas, pun dibalas ia hanya membalasnya dengan singkat.

Tepat di awal Ramadhan bulan mei 2021, saya Kembali menanyakan kabarnya via chat wa. Mungkin sedikit bernada memaksa, saya khawatir dengan keadaanmu yang tak pernah lagi ke rumahku atau kekhawatiran kami teman-tamannya dalam satu grup WA yang tidak lagi seramai dan sehebo dulu, karena tidak ada mardi yang memulai obrolan , meski hanya melalui ruang obrolan WA. Namun sama, dia tak memberi jawaban Panjang lebar, singgkat hingga komunikasipun dengannya Kembali terputus.

Grup WA itu kami beri nama “WK singkatan dari “Wanita karir” yang saat itu kami sedang berada di fase senang-senangnya ngumpul berdelapan, jalan berdelapan, foto berdelapan, hingga kami kerap dianggap sebagai genk WK yang kerjaannya hanya have Fun, cewek-cewek high class dan terkesan boros. Genk yang kami beri nama WK (Wanita karir) bukan untuk mengkelas-kelaskan suatu pertemanan, nama itu kami buat dengan alasan kami masih sibuk dengan dunia kerja dan masih ingin menikmati masa muda, sebelum masuk ke fase selanjutnya dalam kehidupan. WK tidak terlepas dari pencetus awalnya adalah mardiana (Seorang Wanita yang kerja di perusahaan provider ternama di Indonesia, posisinyapun sdh tidak dapat dipandang sebelah mata lagi di cabang kota makassar), Amma Aziz (Wanita cerdas dibidang Kimia, profesinya sebagai guru dan dosen di salah satu kampus swasta di bulukumba) Amha Zuhaer(Profesinya kala itu sama seperti Amma Aziz yang mengjar di sekolah yang sama, sebelum amha kemudian dipersunting oleh anak kiai dari Lembaga Pendidikan tersebut), Hartini Djalil (Wanita pintar berikutnya dibidang Ilmu Gizi, saat itu dia yang memilih untuk melanjutkan pendidikannya di IPB Bogor), Tenri Maulani (ia juga memilih mengabdi di suatu Lembaga Pendidikan kala itu) Adhe (Wanita Fasionble di genk kami, ia berkarir sebagai karyawan bank swasta di makassar) Khaerana sunusi (Cewek jurusan system Informasi yang  memilih meneruskan usaha sukses milik bapaknya) terkahir adalah saya sendiri Musda ( saya juga memilih mengabdi di Lembaga Pendidikan di kota makassar). Kerena kesibukan kita kala itu, orang-orang yang melihat pertemanan kami di media sosial, seperti sekumpulan cewek-cwek hedon, mandiri dan mungkin keras kepala. Wkwkwk

Mei adalah bulan yang membuat semuanya tak lagi sama. obrolan di grup, jalan bareng dan hal-hal lain yang dulu seru kini seakan penuh kehati-hatian untuk memulai suatu percakapan di grup wa WK.

Tarwih pertama dibulan Ramadhan, ku ajak dia untuk melaksanakan sholat tarwih di masjid, tahun 2021 tahun kedua covid-19 di Indonesia, meski sudah dibolehkan untuk masyarakat berkumpul melaksanakan ibadah namun tetap dengan protokoler-protokoler covid yang di wajibkan oleh pemerintah.

“Mardi ayo pergi tarwih di masjid raya” sapa ku mengawali percakapan setelah berbulan-bulan ia tak memberikan kabar.

“Tarwih di rumah jka dulu musda, belum boleh kena angin malam” Jawabnya singkat.

“Sakit apako mmg kah?, sy ke rumah mu deh..” tanyaku seakan memaksa ia membuka diri dengan keadaanya yang selalu berusaha untuk ia tutupi.

“Sakitka musda, sudah satu bulan mka ini kerja dari rumah, ku kasih tau mko deh karena nda berhenti ko bela menelpon” Katanya.

“tapi jangan dulu beritahu ke teman-teman yang lain kalau saya sakit, kau ji dulu ini yang tahu ki.” Sambungnnya lagi” chat yang membuatku kala itu khawatir sekaligus penasaran, sebab dia tidak seperti biasanya jika sakit.

“sakitka musda, ada benjolan disekitar ketiak dan payudaraku, semoga kempes mi karena sementara berobat bugis jka ini di rumahnya kakak ipar ku. *berobat bugis yang dimaksud suku bugis makassar adalah pengobatan tradisional melalui media air dan doa-doa tertentu, pun ditambah dengan ramuan-ramuan dari bahan-bahan alami seperti kunyit, daun-daunan tertentu dan sebagainya.

“semoga sembuh mi ini, karena kurasa sudah agak mendinganmi benjolannya, tinggal batukku yang nda berhenti mana lagi BB ku yang drastis sekali turun karena dijagai makananku, nda boleh daging dan goreng-gorengan. Sambungnya Panjang lebar yang sudah terbuka tidak seperti sebelumnya.

“doakan ka sembuh nah, nanti bukber ki sama WK. Jangan mi dulu beritahu anak-anak yang lain nah, kamu juga jgn mko dulu ke rumah, karena kadang pergika berobat jadi tidak di rumah ka.

“Iyo pale beb, kabari mka kalau sdh bisa mka ke rumah mu nah, atau siapa tau ada mau nu makan kabari mka nnt ku bawakan ke rumah mu. Cepat sembuh beb…” kataku.

“Thanku Musda, baek na deh”. Akhir dalam percakapan malam itu.

Pikirku saat itu, bahwa saat itu dia pasti tidak baik-baik saja seperti yang dia jelaskan ke saya, khawatir tapi sumpah saat itu saya binggung, khawatir karena kenapa dia melarang untuk dikunjungi dan binggung kenapa saya tidak boleh memberi tahu ke teman-teman WK yang lain. Alasan kenapa dia memilih berobat bugis, mungkin karena persoalan biaya, mungkin dia takut membebani keluargnya jika harus berobat ke rumah sakit, sebab setahu ku dia memang tulang punggung keluarganya. Pikir ku penat.

Minggu kedua Ramadhan, teman-teman WK sibuk menanyakan jadwal kapan bukber, kapan lagi ngumpul tanpa mereka tau kondisi sebenarnya dari mardi.

Malam itu chat dari mardi berbunyi di handphone ku.

                “Musda mauku makan onde-onde goreng” katanya.

                “Onde-Onde goreng yang di pasar malam? Tanyaku lagi. “Tunggu mka ku bawakan ke rumah mu”.

Selang beberapa jam saya dari rumahnya, ku terima lagi pesan darinya.

                “makasih banyak na musda onde-onde gorengnya, sama jagung rebus putih kesukaan ku” katanya.

                “ku titip sama kakak mu ji tadi, karena katanya sudah tidur mi” Balas ku, kecewa karena tidak sempat melihat kondisinya.

                “Iya beb, sorry.. tidurka tadi sedikit, ini bangun mka lagi karena na kasih bangunka kakak ku” jawabnya menjelaskan.

                “Iya beb, makan mi yang banyak. Bilang mi lg nanti kalau ada mu maui” sambungku mengakhiri.

Pekan terakhir dibulan Ramadhan, bergantian dari teman-teman di grup WK mengirim pesan ke saya secara pribadi menanyakan kondisi mardi yang terkesan ku tutupi.

                “Musda, kenapa mardi? Pasti mu tau ji kondisinya. Masa nda mu tau” Tanya suara amha Zuhaer di ujung telepon.

                Tanpa berpikir Panjang, tanpa ada usaha untuk menutupi lagi. Takut menyimpannya sendiri.

                “Amha” teriakku dengan nada Panjang menyebut Namanya.

                “Iya amha sakit ki kodonk, baru tidak mau di tau. Saya juga seandainya tidak ku paksa bicara, tidak na kasih taukka. Sakit ki kodonk, ada katanya benjolan di sekitar payudaranya”. Kataku menjeleskan dengan suara sesak.

                “pantas pernah bertnya sama saya, tentang madu yang biasa na minum kak ba’du, tapi tidak na balasmi siapa yang mau minum, bertanya ji masalah harga” sambung amha di ujung telepon.

                “Kodonk, kenapa tidak mau bilang-bilang, tidak enak memang feeling kuu, bahkan mau mka ke rumahnya lihat ki, tapi tidak sempat-sempatka bela”. Sambungnya lagi.

                “nanti sudah lebaran prg mki ziarah ke rumahnya bareng-bareng” nanti berkabarki mau datang besok, ternyata belum maupi di lihat” Kataku menenangkan amha. Doa untuk mardi hari itu mengakhiri percakapan ku dengan amha.

Tepat di lima hari setelah lebaran, kabar mardi tak kunjung memberikan ketenangan ke kami teman-temannya. Semuanya sudah tau, tentang kondisi mardi yang sebenarnya. Hanya saja kami belum sempat memiliki waktu yang pas untuk berkunjung bersamaan dengan teman-teman WK.

Kala itu saya dan khaerana berkunjung lebih dulu ke rumah mardi dari yang lain. Saat itu kali ke dua ku lihat kondisi mardi yang sepertinya tidak memberikan perubahan yang signifikan saat ku lihat di awal-awal iya memberi kabar kalau dia sakit.

                “ooo mardi beb bagaimana mi kabarmu? sambut nanna di awal saat melihat mardi keluar dari gorden ruang dapur dengan memakai mukenah biru muda.

                “Alhamdulillah, baik-baik jka beb, batukku ji ini yang bikin dilarangka keluar rumah” jawabnya.

Singkat cerita hari itu, kami bertukar obrolan dari yang tiba-tiba tertawa kemudian terdiam Kembali. Hingga akhirnya saya dan nanna pamit untuk pulang.

                “Pulang mka na mardi, sehat-sehatki na beb, biar bisaki jalan. Ini ada buah-buahan sedikit untuk kamu makan”. Ucap nanna sambil berdiri dari kursi kayu Panjang.

                “sehat-sehatko nah” sambungku.

                “ba beb.. terima kasih banyak nah”.. balas mardi dengan suara yang sangat pelan.

Hari-hari terlewati tanpa ada perubahan yang signifikan dengan mardi, teman-teman pun bergantian datang membesuk.

Sore itu, sepulang dari pesta pernikahan salah seorang guru kami di pesantren, kami berlima tanpa adhe dan tenri sepakat untuk mampir sebentar untuk melihat kondisi mardi. Dan benar tak ada yang berubah membaik dari kondisinya. Dari kondisinya yang masih mampu untuk turun tangga, kini sudah tidak mampu lagi melewati anak tangga di rumahnya. Hingga akhirnya kami yang harus naik menuju kamar tidurnya. Tidak ada kata yang mampu kami ucapkan, keluh diujung bibir diam saling menatap satu sama lain karena melihat kondisi mardi. Semakin kurus, kaku dan pucat gambaran kondisi mardi kala itu. Takut dan khawatir pikir kami kala itu. Saat kami berlima melihat kondisi mardi tangis yang tertahan di ujung mata.

                Sore itu dipenuhi basa-basi yang kami buat, berusaha tetap tertwa dihadapan mardi, sesekali terdiam hening. Obrolan basa-basi yang kami upayakan untuk menutupi kekhawatiran kami dengan kondisinya. Akhirnya kami pulang, setelah sholat magrib berjamaah dirumahnya, kami mengakhirinya dengan mendoakan kesembuhannya dan dukungan agar kita bisa berkumpul lagi.

                Bulan berlalu setelah kami berkunjung kerumahnya, saya yang masih selalu menanyakan kabarnya lewat WA, begitupun mungkin dengan teman-teman yang lain. Tepat tanggal 24 Agustus 2021 empat hari sebelum hari ulang tahunnya. Tepat jam 05:40 pagi, hari selasa kami menerima kabar secara bersamaan di grup WA kalau mardi sudah berpulang ke pangkuan sang Ilahi, saya yang masih tidak percaya dengan apa yang ku baca di dalam grup obrolan pagi itu, secara bersamaan kakak laki-laki mardi yang bekerja sebagai petugas kebersihan dilingkungan rumah ku, lewat tepat di depan rumahku dan ku tanyakan kebenaran kabar yang baru saja ku dengar, dan ternyata benar. Tangis kuuuu pedih, sakit hati belum ingin kehilangan teman seperti dia, penyesalan tentang kenapa saya yang tidak memberi tahu teman-teman yang lain di bulan-bulan awal dia sakit. Seandainya lebih awal kuberi tahu kabar mardi yang sakit parah kepada yang lain, mungkin akhrinya tidak akan seperti ini, pasti kami bergantian membujukknya ke dokter untuk berobat. Sampai hari ini dan akhir dari tulisan ini, penyesalan itu selalu datang mengampiri setiap malam, sebelum tidurku, tangis ku masih tentang sahabat yang ingin ku usahakan kesembuhannya, masih tentang keinginan untuk berusaha merawatnya saat sakit.

               

                                                                                                                                                                Makassar,05 juni 2023


Tidak ada komentar: