Pengikut

Rabu, 07 Juni 2023

Tentang Kepergian

TENTANG KEPERGIAN

Tulisan ini aku buat sebagai suatu usaha untuk tidak lagi berlarut-larut dalam kesedihan dan perihnya luka saat harus ditinggalkan oleh seorang sahabat. Tentang suatu upayah untuk tetap terlihat baik-baik saja ditengah kerinduan karena telah terpisahkan dua Alam.

Kilas balik dimana penyesalan itu berawal, yaitu di tanggal 12 februari 2021, tahun ke dua covid-19 menjadi hal yang menakutkan di Indonesia, saat semua akitivitas di luar rumah dibatasi. Saking terbatasnya seorang sahabatpun tak kudengar kabarnya selama seminggu, upayaku untuk menelponnya untuk berbagi kabar tentang apa yang dilakukan selama satu minggu itu tanpa pernah melibatkanku, yang tidak seperti biasanya.

                “Halo Mardi”, Sapaku lewat telpon genggam Xiaomi milikku.’

                “Sibukko?”, “Apa mu bikin” tanyaku lanjut.

                “Sorry musda, lagi di rumahnyaka kakak iparku tinggal, bukan di barukang”. Jawabnyanya lewat suara telpon.

                “Ohh… pantas nda pernah ki keluar jalan” sahutku tanpa lagi melanjutkan pertanyaan yang Panjang lebar.

                “Kabarika nah kalau sudah ada di rumah (Barukang). akhir dari percakapan  ku dengan mardi hari itu.

*Barukang adalah nama satu jalan yang ada di kecamatan ujung tanah, kota makassar. Karena Jarak rumahku dan rumahnya yang tidak terlalu jauh membuat kita bergantian saling jemput satu sama lain saat ingin menghibur diri, entah nongkrong di sebuah kafe yang ber-Wifi kencang, Nonton film yang sedang hits kala itu, atau menyusuri jalan kota makassar tanpa tujuan yang jelas.

Setelah hari itu, tanpa ku sadari bahwa itu adalah hari terakhirku berkabar dengan dia melalui suara. Februari, maret, April, Hingga bulan Mei, setiap hari ku menunggu kabarnya. Dia yang hampir setiap hari ku berkirim kabar lewat WA tak pernah dibalas, pun dibalas ia hanya membalasnya dengan singkat.

Tepat di awal Ramadhan bulan mei 2021, saya Kembali menanyakan kabarnya via chat wa. Mungkin sedikit bernada memaksa, saya khawatir dengan keadaanmu yang tak pernah lagi ke rumahku atau kekhawatiran kami teman-tamannya dalam satu grup WA yang tidak lagi seramai dan sehebo dulu, karena tidak ada mardi yang memulai obrolan , meski hanya melalui ruang obrolan WA. Namun sama, dia tak memberi jawaban Panjang lebar, singgkat hingga komunikasipun dengannya Kembali terputus.

Grup WA itu kami beri nama “WK singkatan dari “Wanita karir” yang saat itu kami sedang berada di fase senang-senangnya ngumpul berdelapan, jalan berdelapan, foto berdelapan, hingga kami kerap dianggap sebagai genk WK yang kerjaannya hanya have Fun, cewek-cewek high class dan terkesan boros. Genk yang kami beri nama WK (Wanita karir) bukan untuk mengkelas-kelaskan suatu pertemanan, nama itu kami buat dengan alasan kami masih sibuk dengan dunia kerja dan masih ingin menikmati masa muda, sebelum masuk ke fase selanjutnya dalam kehidupan. WK tidak terlepas dari pencetus awalnya adalah mardiana (Seorang Wanita yang kerja di perusahaan provider ternama di Indonesia, posisinyapun sdh tidak dapat dipandang sebelah mata lagi di cabang kota makassar), Amma Aziz (Wanita cerdas dibidang Kimia, profesinya sebagai guru dan dosen di salah satu kampus swasta di bulukumba) Amha Zuhaer(Profesinya kala itu sama seperti Amma Aziz yang mengjar di sekolah yang sama, sebelum amha kemudian dipersunting oleh anak kiai dari Lembaga Pendidikan tersebut), Hartini Djalil (Wanita pintar berikutnya dibidang Ilmu Gizi, saat itu dia yang memilih untuk melanjutkan pendidikannya di IPB Bogor), Tenri Maulani (ia juga memilih mengabdi di suatu Lembaga Pendidikan kala itu) Adhe (Wanita Fasionble di genk kami, ia berkarir sebagai karyawan bank swasta di makassar) Khaerana sunusi (Cewek jurusan system Informasi yang  memilih meneruskan usaha sukses milik bapaknya) terkahir adalah saya sendiri Musda ( saya juga memilih mengabdi di Lembaga Pendidikan di kota makassar). Kerena kesibukan kita kala itu, orang-orang yang melihat pertemanan kami di media sosial, seperti sekumpulan cewek-cwek hedon, mandiri dan mungkin keras kepala. Wkwkwk

Mei adalah bulan yang membuat semuanya tak lagi sama. obrolan di grup, jalan bareng dan hal-hal lain yang dulu seru kini seakan penuh kehati-hatian untuk memulai suatu percakapan di grup wa WK.

Tarwih pertama dibulan Ramadhan, ku ajak dia untuk melaksanakan sholat tarwih di masjid, tahun 2021 tahun kedua covid-19 di Indonesia, meski sudah dibolehkan untuk masyarakat berkumpul melaksanakan ibadah namun tetap dengan protokoler-protokoler covid yang di wajibkan oleh pemerintah.

“Mardi ayo pergi tarwih di masjid raya” sapa ku mengawali percakapan setelah berbulan-bulan ia tak memberikan kabar.

“Tarwih di rumah jka dulu musda, belum boleh kena angin malam” Jawabnya singkat.

“Sakit apako mmg kah?, sy ke rumah mu deh..” tanyaku seakan memaksa ia membuka diri dengan keadaanya yang selalu berusaha untuk ia tutupi.

“Sakitka musda, sudah satu bulan mka ini kerja dari rumah, ku kasih tau mko deh karena nda berhenti ko bela menelpon” Katanya.

“tapi jangan dulu beritahu ke teman-teman yang lain kalau saya sakit, kau ji dulu ini yang tahu ki.” Sambungnnya lagi” chat yang membuatku kala itu khawatir sekaligus penasaran, sebab dia tidak seperti biasanya jika sakit.

“sakitka musda, ada benjolan disekitar ketiak dan payudaraku, semoga kempes mi karena sementara berobat bugis jka ini di rumahnya kakak ipar ku. *berobat bugis yang dimaksud suku bugis makassar adalah pengobatan tradisional melalui media air dan doa-doa tertentu, pun ditambah dengan ramuan-ramuan dari bahan-bahan alami seperti kunyit, daun-daunan tertentu dan sebagainya.

“semoga sembuh mi ini, karena kurasa sudah agak mendinganmi benjolannya, tinggal batukku yang nda berhenti mana lagi BB ku yang drastis sekali turun karena dijagai makananku, nda boleh daging dan goreng-gorengan. Sambungnya Panjang lebar yang sudah terbuka tidak seperti sebelumnya.

“doakan ka sembuh nah, nanti bukber ki sama WK. Jangan mi dulu beritahu anak-anak yang lain nah, kamu juga jgn mko dulu ke rumah, karena kadang pergika berobat jadi tidak di rumah ka.

“Iyo pale beb, kabari mka kalau sdh bisa mka ke rumah mu nah, atau siapa tau ada mau nu makan kabari mka nnt ku bawakan ke rumah mu. Cepat sembuh beb…” kataku.

“Thanku Musda, baek na deh”. Akhir dalam percakapan malam itu.

Pikirku saat itu, bahwa saat itu dia pasti tidak baik-baik saja seperti yang dia jelaskan ke saya, khawatir tapi sumpah saat itu saya binggung, khawatir karena kenapa dia melarang untuk dikunjungi dan binggung kenapa saya tidak boleh memberi tahu ke teman-teman WK yang lain. Alasan kenapa dia memilih berobat bugis, mungkin karena persoalan biaya, mungkin dia takut membebani keluargnya jika harus berobat ke rumah sakit, sebab setahu ku dia memang tulang punggung keluarganya. Pikir ku penat.

Minggu kedua Ramadhan, teman-teman WK sibuk menanyakan jadwal kapan bukber, kapan lagi ngumpul tanpa mereka tau kondisi sebenarnya dari mardi.

Malam itu chat dari mardi berbunyi di handphone ku.

                “Musda mauku makan onde-onde goreng” katanya.

                “Onde-Onde goreng yang di pasar malam? Tanyaku lagi. “Tunggu mka ku bawakan ke rumah mu”.

Selang beberapa jam saya dari rumahnya, ku terima lagi pesan darinya.

                “makasih banyak na musda onde-onde gorengnya, sama jagung rebus putih kesukaan ku” katanya.

                “ku titip sama kakak mu ji tadi, karena katanya sudah tidur mi” Balas ku, kecewa karena tidak sempat melihat kondisinya.

                “Iya beb, sorry.. tidurka tadi sedikit, ini bangun mka lagi karena na kasih bangunka kakak ku” jawabnya menjelaskan.

                “Iya beb, makan mi yang banyak. Bilang mi lg nanti kalau ada mu maui” sambungku mengakhiri.

Pekan terakhir dibulan Ramadhan, bergantian dari teman-teman di grup WK mengirim pesan ke saya secara pribadi menanyakan kondisi mardi yang terkesan ku tutupi.

                “Musda, kenapa mardi? Pasti mu tau ji kondisinya. Masa nda mu tau” Tanya suara amha Zuhaer di ujung telepon.

                Tanpa berpikir Panjang, tanpa ada usaha untuk menutupi lagi. Takut menyimpannya sendiri.

                “Amha” teriakku dengan nada Panjang menyebut Namanya.

                “Iya amha sakit ki kodonk, baru tidak mau di tau. Saya juga seandainya tidak ku paksa bicara, tidak na kasih taukka. Sakit ki kodonk, ada katanya benjolan di sekitar payudaranya”. Kataku menjeleskan dengan suara sesak.

                “pantas pernah bertnya sama saya, tentang madu yang biasa na minum kak ba’du, tapi tidak na balasmi siapa yang mau minum, bertanya ji masalah harga” sambung amha di ujung telepon.

                “Kodonk, kenapa tidak mau bilang-bilang, tidak enak memang feeling kuu, bahkan mau mka ke rumahnya lihat ki, tapi tidak sempat-sempatka bela”. Sambungnya lagi.

                “nanti sudah lebaran prg mki ziarah ke rumahnya bareng-bareng” nanti berkabarki mau datang besok, ternyata belum maupi di lihat” Kataku menenangkan amha. Doa untuk mardi hari itu mengakhiri percakapan ku dengan amha.

Tepat di lima hari setelah lebaran, kabar mardi tak kunjung memberikan ketenangan ke kami teman-temannya. Semuanya sudah tau, tentang kondisi mardi yang sebenarnya. Hanya saja kami belum sempat memiliki waktu yang pas untuk berkunjung bersamaan dengan teman-teman WK.

Kala itu saya dan khaerana berkunjung lebih dulu ke rumah mardi dari yang lain. Saat itu kali ke dua ku lihat kondisi mardi yang sepertinya tidak memberikan perubahan yang signifikan saat ku lihat di awal-awal iya memberi kabar kalau dia sakit.

                “ooo mardi beb bagaimana mi kabarmu? sambut nanna di awal saat melihat mardi keluar dari gorden ruang dapur dengan memakai mukenah biru muda.

                “Alhamdulillah, baik-baik jka beb, batukku ji ini yang bikin dilarangka keluar rumah” jawabnya.

Singkat cerita hari itu, kami bertukar obrolan dari yang tiba-tiba tertawa kemudian terdiam Kembali. Hingga akhirnya saya dan nanna pamit untuk pulang.

                “Pulang mka na mardi, sehat-sehatki na beb, biar bisaki jalan. Ini ada buah-buahan sedikit untuk kamu makan”. Ucap nanna sambil berdiri dari kursi kayu Panjang.

                “sehat-sehatko nah” sambungku.

                “ba beb.. terima kasih banyak nah”.. balas mardi dengan suara yang sangat pelan.

Hari-hari terlewati tanpa ada perubahan yang signifikan dengan mardi, teman-teman pun bergantian datang membesuk.

Sore itu, sepulang dari pesta pernikahan salah seorang guru kami di pesantren, kami berlima tanpa adhe dan tenri sepakat untuk mampir sebentar untuk melihat kondisi mardi. Dan benar tak ada yang berubah membaik dari kondisinya. Dari kondisinya yang masih mampu untuk turun tangga, kini sudah tidak mampu lagi melewati anak tangga di rumahnya. Hingga akhirnya kami yang harus naik menuju kamar tidurnya. Tidak ada kata yang mampu kami ucapkan, keluh diujung bibir diam saling menatap satu sama lain karena melihat kondisi mardi. Semakin kurus, kaku dan pucat gambaran kondisi mardi kala itu. Takut dan khawatir pikir kami kala itu. Saat kami berlima melihat kondisi mardi tangis yang tertahan di ujung mata.

                Sore itu dipenuhi basa-basi yang kami buat, berusaha tetap tertwa dihadapan mardi, sesekali terdiam hening. Obrolan basa-basi yang kami upayakan untuk menutupi kekhawatiran kami dengan kondisinya. Akhirnya kami pulang, setelah sholat magrib berjamaah dirumahnya, kami mengakhirinya dengan mendoakan kesembuhannya dan dukungan agar kita bisa berkumpul lagi.

                Bulan berlalu setelah kami berkunjung kerumahnya, saya yang masih selalu menanyakan kabarnya lewat WA, begitupun mungkin dengan teman-teman yang lain. Tepat tanggal 24 Agustus 2021 empat hari sebelum hari ulang tahunnya. Tepat jam 05:40 pagi, hari selasa kami menerima kabar secara bersamaan di grup WA kalau mardi sudah berpulang ke pangkuan sang Ilahi, saya yang masih tidak percaya dengan apa yang ku baca di dalam grup obrolan pagi itu, secara bersamaan kakak laki-laki mardi yang bekerja sebagai petugas kebersihan dilingkungan rumah ku, lewat tepat di depan rumahku dan ku tanyakan kebenaran kabar yang baru saja ku dengar, dan ternyata benar. Tangis kuuuu pedih, sakit hati belum ingin kehilangan teman seperti dia, penyesalan tentang kenapa saya yang tidak memberi tahu teman-teman yang lain di bulan-bulan awal dia sakit. Seandainya lebih awal kuberi tahu kabar mardi yang sakit parah kepada yang lain, mungkin akhrinya tidak akan seperti ini, pasti kami bergantian membujukknya ke dokter untuk berobat. Sampai hari ini dan akhir dari tulisan ini, penyesalan itu selalu datang mengampiri setiap malam, sebelum tidurku, tangis ku masih tentang sahabat yang ingin ku usahakan kesembuhannya, masih tentang keinginan untuk berusaha merawatnya saat sakit.

               

                                                                                                                                                                Makassar,05 juni 2023


Sabtu, 27 Mei 2023

Aamiin yang ku Ikhlaskan

 AAMIIN YANG KU IKHLASKAN

Ku pikir dalam benakku, aku hanya menyukai mu

meski aku tak pernah berharap ingin memiliki mu, terbesitpun tidak.

mungkin aku yang tersadarkan oleh keadaan yang jelas di hadapku, 

bahwa aku akan bersaing dengan wanita-wanita yang lebih taat pada tuhannya, dan doa yang memintamu lebih hebat dari ku !

kini tak lagi ku harap, hadirmu yang membuatku tertunduk malu.

sapa mu yang tenang dan ramah

aamiin yang kini harus ku ikhlaskan untuk mu.

seseorang yang pernah ku simpan dalam hati ku, diam.

kini akan berbahagia dengan seseorang yg akan menemaninya berjalan, beriringan. 

teriring doa penuh bahagia untuk mu, yang kini tak lagi ku harapkan kita akan bertemu di suatu tempat yg ku kunjungi. 

berpapasan di sudut jalan dengan sapaan basi-basi namun selalu ku harap, meski jarang terjadi.

tak ada penyesalan tentang cara ku yang pernah menyukaimu, mengungkapkan perasaan ku, menjauh dan berjaga jarak karena rasa canggung, hingga kini terasa menjadi biasa, meski hal itu masih menjadi upayahku. 

terasa lebih cepat semuanya berlalu, sedangkan persaanku belum dapat ku taklukkan seutuhnya, kini biar segalanya menjadi tanggunganku, sebab aku yang memulai, sedikitpun kau tak bersalah. 

tak ada yang salah dari suatu perasaan dua insan, yang menyukai dan di sukai, bersatu dan tidak bersatupun akhir sesungguhnya bahwa manusia tak benar-benar saling memilki.

bahagialah selalu, kini menjadi doa dipenghujung tulisan ku.

semoga kan ku temukan bahagia ku sendiri, entah dengan seseorang atau dengan takdir Tuhan yang lainnya.

                                                                                                     Makassar, 27 Mei 2023




Jumat, 17 November 2017

yang berbeda

kala itu, saat musim hujan berlalu, yang tertinggal hanya kenangan..
kamu yang sempat menjadi kenangan yang tak ingin ku lupakan..
dan tempat yang kita kunjungi kala itu, masih tetap sama. yang berbeda hari ini aku menyapa tempat ini dan mengukir kenangan yang berbeda dengan orang yang berbeda pula.
hujan dan semerbak wangi bunga masih sama, sayang... kau tak disampingku menikmati itu bersama lagi..
pesan ku untukmu, jangan teralalu dalam mengukir kenangan yang bahkan nantinya kau tak ingin ingat kembali. seperti aku saat ini...

Kamis, 13 Juli 2017

posting ajah...



Saya mereviu jurnal dari hasil penelitian karya Hamzah nur dengan judul jurnal penelitiannya yaitu pendidik, tenaga kependidikan dan PolekSosBud beliau adalah dosen jurusan pendidikan teknik mesin fak teknik unm.
Pembangunan kualitas pendidikan maka akan erat kaitannya dengan bagaimana kualitas pendidik saat ini? Apakah pendidik dan tenaga pendidikan saat ini sudah dianggap profesional dan kompoten? Jika iya, apa yang menjadi tolak ukur peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia saat ini? Serta bagaimana perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan saat ini?
Dalam jurnal ini, penulis mengangkat 2 point utama yaitu : bagaimana pandangan kita terhadap pendidik dan tenaga kependidikan saat ini?, dan yang kedua, pengembangan seperti apa yang harus dilakukan untuk kependidikan saat ini?. Pada point pertama pendidik diharapkan untuk mampu bersaing ditengah perubahan globalisasi yang terjadi, sebab hal tersebutlah yang menjadi satu-satunya cara bagaimana agar indonesia tidak lagi tepuruk dalam hal kualitas pendidikan yang kemudian dapat disandingkan dengan negara maju lainnya. Namun hal tersebut haruslah ditunjang dengan kesejahtraan hidup yang baik, yang menjadi kewajiban negara. Guru selalu dituntut dengan beban kerja yang dirasa tidak sesuai dengan hak yang harusnya ia peroleh, hal tersebut diperparah dengan janji pengembangan karir yang dirasa sangat rancuh dan tidak memiliki kejelasan. Jika pendidik dituntun untuk berkorban dan berkontribusi dengan baik, dan bersemangat hendaklah pemerintah menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama untuk menjadikan indonesia lebih maju.
Pada point selanjutnya, guru diharapkan untuk mampu menjunjung tinggi profesi yang telah ia pilih dengan cara menjadikan dirinya sebagai seorang yang diharapkan mampu mengembangan kualitas hidup orang lain dan dirinya, merasa bertanggung jawab dengan pribadi peserta didiknya, merasa puas dengan prestasi yang telah dicapai oleh peserta didiknya, dan merasa senang saat melihat peserta didiknya bermanfaat dalam kehidupan yang ia jalani.
Point selanjutnya, guru diharapkan mampu memposisikan dirinya, bahwa ia tidaklah menjadi satu-satunya sumber utama dalam pembelajaran, tidak menjadikan dirinya pusat sentral, atau figur satu-satunya dalam proses pembelajaran, melainkan ia mampu untuk mengajak siswa berfikir dan bertindak secara demokratis.
Selanjutnya yaitu, pengembangan kualitas kependidikan seperti apa yang diharapkan? Pada kenyataan yang ada profesionalisme adalah hal yang selalu kita dengarkan kapanpun dan dimanapun itu. Tapi pada tahap pelaksanaannya profesionalisme hanyalah suatu wacana belaka. Hal tersebut terlihat bagaimana saat suatu institusi merekrut seorang pegawai yang harusnya berdasarkan pada kompetensi yang dimiliki dengan yang dibutuhkan hal itulah yang disebut profesionalisme. Penyebab lain dari buruknya pengembangan pendidikan saat ini adalah pendekatan politik, dimana orang-orang yang memiliki kekuasaan dan jabatan hanya akan memilih orang-orang yang memiliki hubungan emosional politik, yang kemudian memiliki tujuan agar saling memberikan keuntungan. Dan yang terakhir adalah pendekatan kedaerahan yang juga merupakan dampak dari adanya otonomi daerah.
Dalam hasil riviu diatas, penulis memandang bahwa pusat sentral dalam permasalahan pendidikan saat ini adalah ketidak seriusan pemerintah dalam menangani atau menyelesaikan berbagai polemik yang terjadi di dunia pendidikan saat ini. Pemerintah mengharapkan bahwa sekolah mampu membentuk pribadi anak bangsa indonesia yang mampu bersaing dengan negara lain, dan orang tua mengharapkan agar anaknya mampu mencapai pringkat tertinggi dengan segudang prestasi. Pemerintah dan orang tua memiliki tuntutan yang sama yang kemudian ditujukan kepada pendidik dan ia lupa bahwa ia menuntut tanpa diiringan dengan pemberian hak yang baik, yang memadai. Sehingga pada akhirnya jika sekolah tidak mampu memberikan apa yang diharapkan pemerintah terhadap anak indonesia dan orang tua kepada anaknya maka yang menjadi penyebab utama dan pihak yang dianggap bertanggung jawab adalah pihak sekolah, yaitu pedidik dan tenaga kependidikan.
Pemerintah hendaknya memulai dari konsep dan arah tujuan yang jelas terkait dengan target yang diharpakan dalam suatu sistem pendidikan, yang dimulai dari proses perekrutan tenaga pendidik dengan melihat kompetensi guru, pentingnya kompetensi guru tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Hamalik bagi dunia pendidikan antara lain: 1. kompetensi guru sebagai alat seleksi penerimaan guru, 2. kompetensiguru penting dalam rangka pembinaan guru. 3. kompetensi guru penting dalam rangka penyusunan kurikulum, dan 4. kompetensi guru penting dalam hubungannya dengan kegiatan dan hasil belajar siswa. Kemampuan kompotensi yang dimiliki seorang pendidik yang melalu proses perekrutan yang profesional mendorong kemampuan pendidik untuk dapat mengembangkan penguasaan materi pembelajaran secara mendalam dan luas sehingga pendidikan mampu membuat bahan kajian akademik dan penelitian ilmiah.
Pada proses perekrutan yang baik pendidik diberikan berbagai pelatihan yang sifatnya dapat memberikan motivasi dalam bekerja, baik dalam hal pemberian finansial yang memadai atau dengan jenjang karir yang jelas untuk dapat meningkatkan semangat kerja para pendidik, sebagaimana yang dikemukakan oleh McClleand dalam Mulyasa bahwa motivasi adalah unsur penentu yang mempengaruhi perilaku yang terdapat dalam setiap individu. Motivasi adalah daya penggerak yang telah menjadi aktif, yang terjadi pada saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sempat dirasakan atau mendesak. Pengembangan kompetensi pendidik hendaknya dilakukan secara berkelanjutan sehingga pendidik dan tenaga kependidikan merasa memiliki peran dan tanggung jawab yang besar terhadap profesinya.
Penyeleksian pendidik dan tenaga kependidikan yang ketat serta jumlah yang dibatasi dan pemerataan penempatan tugas kerja pendidik juga harus diperbaiki. Penempatan tugas kerja pendidik tidak hanya pada provinsi atau kota yang sudah maju, melainkan dengan pertukaran tempat tugas pendidik juga diperlukan, semisalnya bahwa negara korea dalam lima tahun sekali merolling pendidik yang bertugas di kota dengan pendidik yang bertugas di desa, artinya bahwa pendidik di korea di tuntut tidak hanya merasa cukup puas dalam mengajar hanya pada satu sekolah tertentu saja, melainkan untuk memberikan perhatian dan semangat yang sama kepada sekolah lain yang berada di pedesaan atau sekolah yang berbeda dari tempat dimana ia mengajar sebelummnya.
Indonesia baiknya juga mampu mencontoh hal yang sama dan baik dari negara korea, dengan begitu proses pendidikan di Indonesia merata secara nyata yang tidak hanya pemerataan dari segi meterial tapi juga dari segi nonmaterial seperti semangat bersaing tenaga pendidik dan kependidikan yang di bawa oleh tenaga pendidik kota ke desa dan semangat belajar anak-anak pedesaan atau pelosok ke anak-anak kota bahwa ia masih  memiliki semangat belajar di tengah keterbatasan fasilitas yang ada.
Sebagai kesimpulan akhir penulis mengutip dari sebuah artikel asing terkait tentang pendidikan, yaitu Teaching Is not Learning oleh Dr. Mariappan Jawaharlal, Ackoff and Greenberg, the authors of the book Turning Learning Right Side Up, mengatakan bahwa “Traditional education assumes that for every ounce of teaching there is an ounce of learning by those who are taught.” Bahwa pengajaran adalah guru, dan belajar ialah peserta didik, belajar membutuhkan waktu dan proses layaknya seorang anak kecil yang hendak belajar merangkak, berdiri, berjalan dan kemudian berlari, Pendidik hanya perlu memberikan motivasi untuk bagaimana peserta didiknya mampu melakukan yang lebih baik dari apa yang telah ia lakukan sebelumnya, mengajarkan tentang trial and error bahwa pembelajaran intinya langsung belajar untuk melakukannya. Belajar yang sesungguhnya adalah saat peserta didik menemukan hal baru dengan cara menyenangkan agar peserta didik mampu menemukan kembali konsep penting dalam pikiran mereka.

Kamis, 27 Oktober 2016

Aku

akan ada hari yang membuatmu tertawa
akan ada hari yang membuatmu sedih
aku ingin memilih kalimat pertama saja
hari di mana hanya ku lihat kisahku yang penuh tawa, senang dan bahagia
ketika inginku menjalani kehidupan dan segala skenario tuhan dengan hanya penuh rasa senang dan bahagia..
mungkin tuhan akan berkata kepadaku " hambaku : aku menciptakan air mata dan rasa sedih agar kau mengigatku, lebih sering menemuiku dalam hamparan sajadah mu, mendengar rintihmu dalam sepertiga malam dan ku dengar keluh dari bibir mu hambaku, hambaku: aku menciptakan bahagia agar kau lebih bersyukur, lebih sering mengucap syukur bukan hanya kepada ku, tetapi sesama manusia, bersyukur kepada alam semesta dan orang-orang disekelilingmu yang mencintai mu hambaku"...
tuhan, cinta hamba mu ini palsu..
tuhan, hamba mu ini ragu..
tuhan, hamba mu ini dungu..
tuhan , hamba mu ini pilu..
dekap hamba tuhan..
rengkuh hamba tuhan..
jangan kau palingkan wajah mu dari hamba mu ini..
tetapkan hatiku untuk selalu mencintai mu dalam segala ketidaktahuan ku..

Selasa, 18 Agustus 2015

Kesedihan yang ku sembunyikan



                                                   Ku katakan, aku sangat menyayangi Mu
Pernah ku katakan kalau aku baik-baik saja ...
Kau percaya itu?? Aku bohong..
Saat ku katakan aku tak menyayangi mu atau bahkan tak ada kata sama sekali..
Percayalah aku menangis saat mengingat kau akan pergi ...
                Tak pernah ku tunjukkan padamu klw ku menyanyangi mu, percayalah krn ku tak tau bgmn cara menunjukkan sayang itu..
                Tak pernah ku perduli akan dirimu di depan mu dan orang banyak, percayalah klw ku selalu menanyakan apa yang sdg kau lakukan yang mungkin tak pernah ku tau..
                Hingga saat ini, kau akan pergi jauh entah berapa tahun lamanya.. aku takut klw aku sangat merindukan mu nantinya...
                Mungin lusa kau pergi, aku takut kalau aku akan kesepian...
                Dan jika hari ini kau akan pergi, mungkinkah aku akan tetap bertahan  ???
Hal yang kusesali, tak ada banyak kenangan dengan mu, hingga kenyataan yang datang padaku kalau kau harus pergi ...
Hal yang ku sesali, harusnya kau menjadi orang yang selalu ada di dekatku, namun kenyataannya kau terasa asing... yang sebenarnya kau yang paling kusayang...
                Mungkin ini cara tuhan mengajarkan ku, bahwa katakan pd orang yang ada disekitarmu kalau kau mencintainya...
                Mungkin ini cara tuhan untuk menyadarkan ku, bahwa rasa sayang  itu timbul tdk menunggu saat salah satuh dr org yang kalian cintai harus pergi terbih dahulu hingga kau sadari ke tdk berdayaanmu tanpanya...
                Berharap tuhan akan berkata pada Ku “kuatlah untuk waktu yang singkat, orng yang kau sayang akan prg sejenak, mengejar impiannya, mencari kebahagian dalam hidupnya sendiri... kau sabar menanti kebahagianmu, yg akan datang secepatnya, aku sedang merencanakn sesuatu yang indah untuk Mu,belajarlah memaknai KERINDUAN itu, terlebih kepada orang tua,saudara, kawan dan seseorang yang akan ada disamping mu” ...
                                Tak dapat ku ungkapkan rasa sayang ku itu pada kalian, orang tua, saudara, dan kawan2ku... namun aku takut bahwa satu persatu dari kalian akan ada yg pergi...
....................................................................................selesai...................................................................

Rabu, 21 Mei 2014

sajak kala KKN



                                                                                Sajak Pseudo Kehidupan

Meja bundar telah penuh
Berisi lingkaran orang yang berhimpitan
Satu kursi untuk satu pantat
Satu meja untuk semua siku.
Sebagian saling menatap
Selebihnya tak ada makna yang menetap.
Padahal semuanya saling menghadap dan mendekap.

Aku, melihatmu ragu-ragu termangu.
Dengan ponsel-gadget
Kawan di sampingmu sendiri asyik menjamu,
Entah siapa yang menjadi tamu.
juga kawan di kiri-kananku
mereka terbahak menghadap dunia yang semu.

Syahdan, semua sibuk menguntit keanehan ini.
Serentak tombol berhala kecil dikotak-katik
Semuanya lupa diri dalam kebersamaan
Masing-masing diri usah menarik diri,
Dari kenyataan menuju kemayaan.
sukmanya mengembara dalam jejaring sosial.
berkelana memasuki akun-akun twiter,
mengomentari status-status facebook,
dan mengukir kata di dinding kepalsuan.
hingga sukmanya terpelanting dalam tawa dan sedih yang tak keruan.

Oh kawan….
Apalah artinya bahasa dan kehidupan
Bila pertemuan sesak tanpa ungkapan,
Apalah artinya bersua dalam kebersamaan
Bila tatapan memandang tanpa senyuman.
Bahasa dan air muka hanyalah onggokan basa-basi,
Bahasa dan air muka tak lagi mewakili isi hati.
Kini ia hanya sesumbar suara dan rupa
Menyelusup lewat cela-cela euphoria dunia mereka.

Tetapi, Aku-kamu tetap seperti dulu,
Yang yakin bahwa pertemuan ini adalah kenyataan,
Dan pertemuan mereka adalah khayalan.
Ya! Inilah tandas Baudrillard sebagai hyperreality.
Khayalan telah sepadan dengan kenyataan
Menjadi medan magnet yang menarik ke dalam pseudo kehidupan.
Muhammad Aam D.
Pegiat Sanggar Ra’jat Kepanasan
Makassar, 3 Mei 2014.