Pengikut

Jumat, 02 Mei 2014

KKN UIN Alauddin angk. 49 , kecamatan galesong utara,



SAJAK WAKTU TANGGAL SATU
                                                Oleh: Muhammad Aam Darmawan.
                                                                     Korcam Galeseong Utara

Kami telah pulang
Meninggalkan seribu cerita
Pagi itu puluhan orang telah datang
kepada kami mereka bergumam cita.

Berjubel setengah tegak dan bungkuk sebagian
baya, muda, dan bocah bersua dalam kegalauan.
Ada berselimut sarung
Sempat senyum lalu kembali murung
Ada tanpa baju
menjabatiku lalu nangis melulu.
Ternyata mereka sedih
Tak ada lagi senyuman murah
Dan wajah baru yang ramah.

Dua bulan kami tinggal bersama
Makan bersama, Cerita bersama, Tidur bersama, dan kerja bersama, oh ya sesekali lapar bersama.
Dengan tuan rumah dan tetangga,
Yang balita hingga dewasa, tua-muda hingga janda
Hidup kami riang ceria
Saban bertemu saling menyapa
Saban hari selalu bersahaja. 
Awal rasa nelangsa
Tergusur ungkapan canda
Memekik dalam ruang tamu, ranjang, meja makan, balla’-balla’
Semuanya, menggema dalam luapan tawa.
Sayangnya berakhir dengan linangan air mata.

Gelinding air mata berkata:
Hati-hati, terima kasih, jangan lupa kenangan kita.
Air mata, keringat, bau mulut, rasa haru dan kenangan
Menyatu dalam diri dan kenyataan
Dalam bayangan ia menjadi hamparan tanah
Lalu menjelma menjadi sawah
Menyuara dalam gemricik saluran irigasi
mengilau bak sinar kemuning padi di sore hari,
dan menyebar kesejahteraan bagi keluarga para petani.

Tapi malang, nasib negeriku tak seindah tulisku
Serupa kampung parang, tak ada perubahan setelah kepergianku.
Tak beruntung mereka menangisi,
Apalagi mencintai,
Sebab kami, hanya memberi janji
dan kebohongan yang tersembunyi:
Tentang Posdaya dan Peradaban.
Maaf  kawan, Kami telah mengibuli.
Makassar, 2 Mei 2014.

Tidak ada komentar: