SAJAK
WAKTU TANGGAL SATU
Oleh:
Muhammad Aam Darmawan.
Korcam Galeseong Utara
Kami
telah pulang
Meninggalkan
seribu cerita
Pagi
itu puluhan orang telah datang
kepada
kami mereka bergumam cita.
Berjubel
setengah tegak dan bungkuk sebagian
baya,
muda, dan bocah bersua dalam kegalauan.
Ada
berselimut sarung
Sempat
senyum lalu kembali murung
Ada
tanpa baju
menjabatiku
lalu nangis melulu.
Ternyata
mereka sedih
Tak
ada lagi senyuman murah
Dan
wajah baru yang ramah.
Dua
bulan kami tinggal bersama
Makan
bersama, Cerita bersama, Tidur bersama, dan kerja bersama, oh ya sesekali lapar
bersama.
Dengan
tuan rumah dan tetangga,
Yang
balita hingga dewasa, tua-muda hingga janda
Hidup
kami riang ceria
Saban
bertemu saling menyapa
Saban
hari selalu bersahaja.
Awal
rasa nelangsa
Tergusur
ungkapan canda
Memekik
dalam ruang tamu, ranjang, meja makan, balla’-balla’
Semuanya,
menggema dalam luapan tawa.
Sayangnya
berakhir dengan linangan air mata.
Gelinding
air mata berkata:
Hati-hati,
terima kasih, jangan lupa kenangan kita.
Air
mata, keringat, bau mulut, rasa haru dan kenangan
Menyatu
dalam diri dan kenyataan
Dalam
bayangan ia menjadi hamparan tanah
Lalu
menjelma menjadi sawah
Menyuara
dalam gemricik saluran irigasi
mengilau
bak sinar kemuning padi di sore hari,
dan
menyebar kesejahteraan bagi keluarga para petani.
Tapi
malang, nasib negeriku tak seindah tulisku
Serupa
kampung parang, tak ada perubahan setelah kepergianku.
Tak
beruntung mereka menangisi,
Apalagi
mencintai,
Sebab
kami, hanya memberi janji
dan
kebohongan yang tersembunyi:
Tentang
Posdaya dan Peradaban.
Maaf kawan, Kami telah mengibuli.
Makassar, 2 Mei 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar