KEPERGIAN
MU
Di
bandara sultan hasanuddin ,hari selasa pukul 13:35. Aku mengantar ke pergiannya
yang hanya sebagai seorang sahabat.. yaaa, hanya sahabat tak lebih dari itu.
Sekalipun ada perasaan yang aku pendam padanya, mungkin perasaan ini adalah
perasaan yang lebih dari sekedar sahabat.
Aku duduk terdiam sendiri di kursi
besi panjang ini. hingga tak di sadari
lamunanku, membawaku pada kenangan kita dahulu. Awal di mana aku dan hafidz bertemu
hingga dapat menjalin persahabatan yg tak di sangka sudah berjalan selama 2
tahun..
Saat
itu, aku dan hafidz bertemu di toko buku
di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Makassar. Kulihat hafidz saat itu
memegang novel yang sebenarnya novel itu adalah novel yang selama ini aku cari,
namun saat ku tanyakan stok novel yang saat
itu sedang di pegang hafidz ke pegawai
tokonya , ternyata itu adalah novel yang hanya tersisa satu saja dan saat itu sudah ada
di genggaman hafidz .. tiba-tiba hafidz menghapiri ku dan bertanya kepada ku..
“ Kenapa Mba,, lg cari novel ini???”
sambil ia tunjuk buku itu.
Dan ku jawab “ iya,, sudah 2 minggu
aku cari novel itu tapi tak pernah dapat, giliran dapat tapi tinggal satu,,dan
itu sudah ada di tangan mas”.
Hafidz hanya tersenyum, dan ku
rasakan ada keteduhan saat melihat senyumnya..
“ mba aja yg ambil novel ini,, aku juga enggak terlalu pengen banget
sih,, cuman tadi kebetulan aja lihat dan dari judulnya sih kelihatnya memang menarik”
. Katanya
Entah apa yg kurasa saat itu, tidak
sedikit pun aku berani menolak tawarannya, aku seolah telah terbius oleh
keramahan dan tutur katanya yang sopan.
“ makasih mas, novel ini bener-bener aku
inginkan banget, habisnya teman saya ngomong kalau ceritanya bagus dan hal itu
yg membuat ku penasaran banget untuk segera membacanya”.. kata ku sambil
menjelaskannya panjang lebar.
“oo gitu,, ya udah nii” ia
menyodorkan novel itu tepat di depan wajah ku.
“sekali lagi makasih mas” kataku
“nggak usah di panggil mas kale’,
emangnya aku kelihatan tua yaa??” masih dengan senyuman dan keteduhan yang sama
ku rasakan.
“ooh sorry,” kataku sambil menahan
malu.
“enggak apa-apa ko.. eh, Kenalin aku hafidz,, kamu?” sambil kau
ulurkan tanganmu, mengajak ku bersalaman.
“aku syifah, tapi panggil aja ifah”.
“ifah.. ifah..ifah.. bagus juga
namanya”
“makasih” sahut ku
Pertemuan
itu pun berlanjut, kita berkenalan, telpon-telponan, sms-an, jalan bareng, tukar
tukaran buku bacaan, sharing, dan curhatan,. Hingga hubungan kita berjalan
sebagai sahabat..
Itulah
kisah awal, awal dimana kita bertemu, dan saat ini kenyataan yang akan aku
hadapi beberapa menit kedepan adalah kata perpisahan.. yaaa,,, perpisahan!!!
dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan.. Dan kenangan dari awal dimana kita
bertemu itulah yang tak akan pernah aku lupakan..
“ hay ifah… kenapa melamun’???
kemudian duduk di samping ku.
“enggak, enggak apa-apa,,?? Sambil
ku usap mata ku..
“udah jangn bohong deh,, lagi
mikirin seseorang yaa?? Kau tanyakan hal
itu dengan memandangku.
Entah lah,,
sepertinya kamu tau apa yg kurasakan saat ini, dan kamu hanya berpura-pura
menyakan hal itu seolah-olah kamu hanya ingin menenangkan perasaan ku”. gumam
ku di dalam hati.
“udalah aku enggak apa-apa kok” ku
berusaha untuk tetap tersenyum
“ifah,, nanti klw aku udah sampe di
Malaysia.. aku pasti langsung kabarin kamu deh,, kamu kan sahabat terbaik ku”
katamu sembari mencubit pipi ku..
Yaaa,,
sahabat!!! Kau ucapkan kata sahabat,, dan itu membuatku semakin lemah,, aku juga
binggung dengan perasaan ku,, sepertinya aku tak terima dengan status ku yg
hanya sebagai sahabat di mata mu,, aku ingin lebih dari itu.. tapi tak sanggup
ku katakan perasaan ini,, perasaan yang hanya menyesakkan dada..
“hafidz,, sebentar lagi kita
berangkat nak” kata lelaki paru baya itu,, dia sosok ayah yang berkharismatik yang
membuat siapa saja yang memandaginya merasakn kedamaian.
Aku dan
hafidz bangkit dari tempat duduk yang terbuat dari besi itu secara bersamaan..
Dan ku katakn“ hati-hati yaa om,,
semoga sampai di malaysia dengan selamat” ku cium tangan nya sebagai bentuk
penghormatan ku terhadap org yg tlh memberiku banyak nasihat.
“ ia nak,, kamu juga baik-baik di
Makassar, lanjutkan study mu ke perguruan tinggi dan kejar cita-ciata mu, buat
orang-orang di sekeliling mu merasa bahagia saat di dekat mu” sembari menepuk
bahu ku.
Aku sdh
menganggap laki2 ini sbg org tua ku sendiri, bagiku ayah hafidz ini adalah orang
yang setia,, walaupun telah lama di tinggal pergi oleh Almrhumah istrinya, tapi
ia tetap menjaga kesetiaan cintax,, dan kurasa itulah cinta yang abadi.
“iya Om,, ifah akan selalu mengingat
nasihat om” kataku
“ayah tunggu km di dpn yaa fidz, 2
menit lg kita masuk ke pesawat” ia pun berlalu dengan mendorong troli yg di bawanya..
“emm,,,hafidz, terimah kasih
yaa karna selama ini kamu sudah menjadi
sahabat sekaligus kakak yang baik buat ku, aku akan selalu mendoakan yang
terbaik untuk mu” Ku katakan itu dengan senyum
yang di paksakan, karna aku tak mau dia melihat ada guratan kesedihan di
wajah ku.
“ fah nii aku punya coklat, anggap
ini sebagai kenang-kenagan buat kamu” lalu ia meletakkan sebungkus coklat itu diatas
tangan ku..
Ku
pandangi Coklat itu , coklat yg terbungkus dengan selembar kertas berwarna
merah hati,, berbeda dari bungkusan coklat pada umumnya..
“itu bukan sembarang coklat,, coklat
itu akan menenagkan hati dan perasaan bagi siapa sj yg memakanx..” kembali ia menjelaskan.
Ia menggenggam kedua tangan ku dan
menatap wajah ku lalu berkata “ tetaplah menjadi ifah yg ku kenal, ifah yg ku
kenal selama ini adalah wanita yg ceria,semangat dan selalu tersenyum”
kata-kata
itu membuatku merasa sedikit tenang dan segera ku tundukkan kepala ku agar ia
tak melihat air mata yg sepertinya sebentar lagi akan jatuh membasahi pipi ku..
Dan ku berkata “ iya,, aku akan tetap
menjadi ifah, ifah yg kau kenal sejak awal kita bertemu”
Lalu
genggaman tangan mu perlahan kau lepaskan, selangkah demi selangkah kau mulai
menjauh dari hadapan ku, ku coba untuk tetap tersenyum kepada mu.. lambaian
tanggan itu mengisyaratkan jarak di antara kita semakin jauh..
Tapi tunggu sebentar,, Aku ingin
mengucapkan sesuatu kepadamu untuk terakhir kalinya sebelum engkau benar-benar
terbang jauh menembus awan.. “jerit ku dalam hati”
“ hafidz……. aku sayang kamu, rasa
sayang yang lebih dari sekedar sahabat” air mataku pun tumpah semakin tak terbendung
lagi,, masih ku genggam sebungkus coklat dengan kertas berwarna merah hati yang
kau berikan itu..
Tapi
semua telah terlambat, kamu telah menjauh dari pelupuk mataku,, entah kapan aku
akan melihat senyum yang teduh itu lagi dari wajah mu.. ku hanya mendoakan agar
kau dapat menggapai cita-cita mu sebagai seorang Arsitek,, cita-cita yang selalu
kau katakn padaku..
Ku usap
air mata yang jatuh membasahi pipih, dan segera ku buka coklat yang terbungkus
kertas berwarna merah hati ini, Tak ku sangka coklat yang terbungkus rapih
dengan kertas berwarna merah hati ini adalah selembar surat,, isi surat ini
menjawab semua kegundahan hati ku selama ini.. karna ternyata kamu menyimpan
perasaan yang sama terhadapku..
“ syifah,,
sebenarnya aku suka sama kamu, mungkin perasaan itu hanya sekedar perasaan kalau aku hanya kagum saja kepada mu, tetapi ternyata tidak demikian,,,
perasaan cinta di hatiku tumbuh seiring berjalannya waktu,, dan aku tidak mau
merusak persahabatan kita hanya karena sikap ku yg terburu-buru mengutarakan perasaan ini,, jadi ku memilih
untuk memendam perasaan sayang ini kpd mu.. kuharap kamu juga merasakan hal yg sama!!! Sekarang kita
terpisah sementara waktu untuk mengejar cita-cita kita masing-masing, sampai
pada akhirnya kita bertemu kembali dengan membawa kisah kesuksesan yang telah
kita ukir… Ku mohon tunggu aku,,, aku pergi tidak akan lama dan aku akan segera kembali
untuk mu”.
By
A. Muh. Hafidz
Tak ada
kata-kata yang sanggup terucap,,, setelah membaca surat mu .. aku hanya
terdiam, sambil mencium surat mu yang basah karena linagan air mata ku..
“ Aku
akan menunggu mu sampai kapan pun, hafidz”.. kata ku di dalam hati..