SEDEKAH TAK PERLU HITUNG-HITUNGAN
Logika rezeki itu seperti pipa
saluran air di air terjun. Semakin besar diameter pipa yang kita salurkan, akan
semakin besar pula air yang memenuhi pipa tersebut, semakin deras pula pula air
yang mengalir. Air terjun di umpamakan sebagai limpahan karunia tuhan yang
mahakaya yang senantiasa mengalir setiap saat.
Pada era tahun 1970-1985 ada seorang
pengusaha rotan dari Kalimantan. Ia seorang pengusaha sukses yang terkenal
dengan kedermawanannya. Jika ada orang yang datang memerlukan bantuan, beliau
tidak tanggung-tanggu memberikan uang bantuan dalam jumlah yang besar, terlebih
kepada orang-orang yang kekurangan untuk menunaikan ibadah haji. Setiap kali
selesai transaksi bisnis, pengusaha tersebut mendapat keuntungan puluhan juta
rupiah.
Sampai-sampai ia harus menyimpannya
dalam sebuah karung. Selain itu, beliau memiliki kebiasaan unik dalam
bersedekah. Sebelum pulang kerumah, beliau selalu menyempatkan mampir sebentar
di sebuah pondok pesantren dan menemui sahabat beliau yang merupakan ulama
besar sekaligus pemimpin pondok pesantren tersebut.
Tanpan ragu-ragu beliau membelah
karung tepung yang berisi uang tersebut menjadi dua bagian. Bagian pertama, ia
sedekahkan tanpa menghitung berapa jumlahnya. Sedangkan sebagian yang lainnya
ia bungkus kembali untuk di bawa pulang. Ketika di tanyakan mengapa beliau
melakukan kebiasaan bersedekah seperti itu, pengusaha itu menjawab “ BUKANKAH
ALLAH TIDAK PERNAH MENGHITUNG-HITUNG MEMBERIKAN KITA REZEKI, LANTAS MENGAPA
KITA HARUS MENGHITUNG-HITUNG MEMBELANJAKAN REZEKI DI JALANNYA?”
Pengusaha itu memang sengaja tidak
pernah mau menghitung berapa jumlah harta yang telah beliau sumbangkan,
lantaran tidak ingin perasan riya atau tidak ikhlas muncul di hatinya. Prinsip
beliau hanya ingin mendepositkan hartanya sebanyak-banyaknya untuk kebahagian
di akhirat. Senada dengan hadits Rasulullah saw, “tangan kanan memberi, tangan
kiri tak perlu tahu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar