“kring… kring….
Kring’’…. Seperti biasa setiap harinya pukul 4:25 jam weker itu selalu
membangunkan di setiap pagi ku…
“allahu akbar’”…
“alhamdulillahi lazie ahyana ba’da maa amatan wailaihin nuzurr”, terima kasih yaa
Allah, krn kau telah menghidupkan ku setalah mati kecilku”…
Hari ini, rabu
25-5-2014.. ada banyak kegiatan yang harus ku kerjakan, sebagai seorang
mahasisiwi, yang juga aktif dalam forum jurnalisme kampus.. profesi yang ku
gemari dari dulu dan kini menjadi kesibukan rutin ku. Ada banyak pengalaman
yang ku dapat dan berbagai macam karakter manusia telah ku temui dalam profesi
ini, dan terkadang nyawa dan waktu extra yang menjadi tanggungannya.
Hari ini ada
kegiatan kampus yang harus ku liput, mengenai kedatangan ketua KPK ke kampus
UIN makassar membawakan kuliah umum kepada mahasiswa dalam rangka mencegah
bahaya laten korupsi sejak dini. Kurang lebih 3 jam ketua KPK Dr. abraham samad.,S.H,M.H membawakan materi
pemberantasan korupsi di depan mahasiswa, gema suara mahasiswa dan tepukan riuh
kekaguman mahasiswa terhadap keberanian dan ketegasan ketua KPK dalam
memberantas korupsi, petuah-petuah dan motivasi yang diberikan menambah
kekaguman mahasiswa kepada putra daeng itu yang telah mengharumkan nama anak
makassar. “saya berjanji untuk terus mengabdikan diri dan tenaga saya untuk
negara dalam menangkap dan membongkar kasus korupsi skala besar di indonesia
yang telah kejam membunuh secara perlahan rakyat indonesia, saya mohon bantuan
kepada adik-adik mahasiswa untuk sama-sama mencegah bahaya korupsi yang senang
tiasa berada dekat di sekelilng kita, mulailah dari hal yang kecil” tungkas
abraham samad. “ sama seperti yang diajarkan baginda Rasulullah Saw bahwa
ketika anaknya fatimah Azzahra mencuri maka nabi sendiri yang akan memotong
tangan putrinya, maka suatu keharusan bagi sayapun bila sanak keluarga, sahabat
saya yg terlibat kasus korupsi maka saya sendiri yang akan memberantasnya”
tambah abraham samad dengan suara yang lantang dan tegas hingga membuat gemuru
tepuk tangan mahasiswa semakin riuh.
Secara pribadi,
saya mengikuti perjalanan sosok abraham samad saat mencalonkan jadi ketua KPK,
dalam benak ku, sosok pemberani ini benarkah dari makassar? Mengapa terobesis
sekali ingin menduduki jabatan di KPK? Melihat gaya bicara dan ketenagannya
dalam menjawab pertanya dari berbagai media, saya mulai yakin bahwa harapan
untuk memperbaiki bangsa ini yang sudah akut dipenuhi para perampok akan
dimulai dari sosok yang bernama Abraham samad, perawakan tinggi kurus, berkulit
hitam dengan janggut tipis yang mencerminkan sikap arogansinya dalam menuntas
kebohongan, penggelapan dana dan berbagai kebusukan lainnya yang telah menempel
di kalangan pejabat negara di tanah air
ku indonesia.
Dengan waktu
yang singkat berita ini harus diterbitkan besok, dalam cakupan kampus bila
informasi di ulur-ulur untuk mempublikasikannya akan terasa basi dan sudah tak
diminati lagi di kalangan mahasiswa.
“airin kau yang
susun ini materi kuliah umumnya pak abraham samad pagi tadi, edit dengan baik
dan publikasikan besok di majalah kampus, biar saya yang publikasikan lewat
website kampus. Kata kak agus. dia senior ku dalam forum jurnalis kampus ini,
sebagai yunior apa lagi yang harus di jawab selain mengiyakan.
“iyee kak, insya
Allah siap diterbitkan besok” jawabku dengan pasti.
“emmm…padahal
lebih enak dan mudah kalau mempublikasikan lewat website di banding majalah
kampus” gerutuku dalam hati.
Saat ku katakan
saya “siap” maka saya sudah siap menjalankan tanggung jawab ini tanpah harus
disesali. Kualitas seseorang di uji dengan kepercayaan dan tanggung jawab yang
diberikan, itu prinsipku.
Akhirnya
selesai, setelah menghabiskan waktu di depan monitor kurang lebih 5 jam akhirnya
rampung dan siap di cetak,. Soal cetak mencetak itu bukan kapasitasku dan ku
serahkan ke Adnan yang memang ahli dalam cetak mencetak.
“cetak mi’ ini
sudah saya edit, kalau ada yang kurang atau salah kita mi yang perbaiki nagh?!!
Pintaku ke Adnan. Adnan teman seperjuangan ku, sama-sama dari nol saat mulai
gabung ke komunitas ini, dia juga partner yang baik menurutku.
“ok.. bos
siiip”..
“Mau mko
pulangkah??” tanya Adnan.
“iyya deh, sore
mi bela mana lagi belum peka sholat Ashar”. Jawabku sambil menggerakkan badan
ke kiri dan ke kanan hingga terdengar suara geretak tulang yang sudah kaku,
dengan rasa lelah yang semakin berat kurasa.
“oo.. iya pale
pulang mi cepat”
Kupacu motor
bebek hijau ku, berharap bisa shalat ashar di rumah saja. Badan yang sudah
terasa lengket dan berkeringat ingin cepat-cepat ku bersihakan lalu kemudian
shalat Ashar dengan perasaan yang segar.
Saat harapan tak
sesuai dengan keadaan yang terjadi, melintasi
jalan AP. Pettarani sangat mustahil bila sore hari tidak di temukan yang namanya “macet”. Kendaraan
lumpuh total, jam segini memang jam pulang kerja, berakhirnya segala aktivitas
dari semua kalangan.
Kulihat jam
tanganku yang sudah menunjukkan pukul 16:28 ..“aisssh,,,, kalau begini terus
bisa-bisa habis waktu ashar hanya di jalan saja..”
Ku tengok
pemandangan di sekelilingku, terlihat rumah Allah berwarna hijau yang menarik
perhatian ku, dengan dikelilingi lampu hiasa sederhana, bertuliskan nama Nan
indah, “ Al- Ra’uf (maha Kasih)”,
sungguh maha kasihMu tuhan Semesta Alam. Rumah-Mu yang senang tiasa memberi
rasa aman, kepada siapa saja yang menginjakkan kaki di rumah yang suci ini,
para musafir yang menjadikan tempat istirahat yang sungguh tiada tara memberi
keteduhan dalam naugan keMaha kasih-Mu ya rabb.
Ku arahkan motor
bebek hijau ku ke pekarangan masjid itu, menunaikan kewajibanku dan ingin ku
haturkan rasa syukur atas ni’matMu yang tak henti-hentinya engkau limpahkan
kepada ku. izinkan ku sejenak melepas penat dan lelahku di rumahMu yaaa… tuhan
!!, berharap ada kekuatan jiwa raga dan keteguhan hati dalam menelusuri jejak
keridhoanMu, ketegaran melewati rintangan dan ujian bagi para penuntut ilmu,
fakir pengetahuan seperti hambaMu ini.
Basuhan air,
menyegarkan hati dan pikiran ini, menyadarkan hamba dengan kalamMu dalam kitab
suci Al-Qur’an bahwa“ Ni’mat Tuhan Manakah yang engkau ingkari”. Bukan persoalan
besar dan kecil rezki yang kita dapat melainkan seberapa sering rasa syukur
terucap di bibir ini. Doa yang ku haturkan kepadamu yaa raab, “perkenankanlah
untuk hamba, kesehatan untuk orang tua dan orang-orang yang mengajarku ilmu
pengetahuan, ampuni segala dosanya beri ia tempat yang mulia di sisiMu, bagi
guru-guru hamba yang telah tiada berilah balasan syurga atas ilmu yang telah ia
ajarkan kepada kami. Karuniakan reski yang halal untuk keluarga hamba, kuatkan
hamba dalam menggapai ridhoMu, serta lindungi hamba dan keluarga hamba dari segala
kejahatan dan marabahaya, Ya Allah hal yang wajar bila seorang wanita meminta
pria yang dapat menjadi imam untuk hamba dan ayah yang baik bagi anak-anakku
kelak, pertemukanlah hamba dengan pria yang mampu mendekatkan hamba di
jalanmu”.. Amiiinn yaaa Allah…!!
Alhamdulillah…
kalimat yang pantas mengambarkan karunia Allah hari ini..
“istirahat
sebentar dulu deh’ masih macet ki bela” dialog ku dalam hati!! Sambil duduk di
teras masjid memandangi setiap sudut jalan, keramaian orang-orang yang lalu-lalang.
Rumah makan dari yang modern ala barat sampai warungan ala anak Kos-kosan
terhampar di depan mataku..
“Jurnalisme UIN
alauddin Makassar”.. suara pria dari arah belakangku.
Seorang pria
yang tak kukenal tepat berdiri di belakangku, yang sedang membaca dengan suara
keras tulisan di bagian pundak jaket hitam yang ku kenakan.. dia tersenyum
kepada ku, namun tak ku hiraukan. Sebagai orang yang menggeluti dunia jurnalis,
sangat dekat dan sudah familiar dengan berita kriminalitas maka hal yang sangat
wajar bagi saya untuk bernegative thinking dengan pria ini. “iii… siapa itu??
Bikin takutnya! Keluhku dalam hati.. “yaa Allah lindungi hamba dari segala
bentuk kejahatan manusia”.
“Ade’ kuliah di
UIN?? Jurusan jurnalisme semester berapa??” tanya pria yang mungkin 2 tahun
lebih tua dari ku.
“semester 7”
jawabku dengan nada sedikit ketus.
“ooo.. kalau
boleh tau siapa nama ta’?” masih dengan pertanyaan yang membuatku canggung.
“Airin” jawabku
singkat.
“lagi nunggu
siapa?” tanyanya lagi.
“tdk lagi nunggu
siapa2, cuman belum mau pulang soalnya lagi macet sekali didepan”, tapi
sekarang sudah mau pulang” kataku sambil bergegas memasang sepatuku.. lagi-lagi
dipikiranku bawaanya parno melulu, takut di hipnotislah, di jambertlah..
“maaf, kalau
ganggu de’, sampai-sampai buru-buru mau pulang, saya bukan orang jahat ko dek’
saya juga habis shalat dan berdoa sambil nangis sama seperti adek’..” jelasnya
panjang lebar.
“kok dia tau
kalau saya nangis saat berdoa”?? tanyaku dalam hati yang semakin membuatku
binggung bukan mainn…
“kita lihatka
nangis waktu berdoa?” kataku penasaran.
“iyee” cuman
tidak sengaja tadi liatnya” jawab pria itu sambil tersenyum.
“loo kok diam,??
Katanya mau pulang”. Suara pria ini membuyarkan rasa penasaranku.
“saya duluan
kak, assalamu alaikum” pamitku pada pria yang tak sempat ku tanyakan namanya
itu.
“waalaikumus
salam airin”.
Mendengar pria
itu menyebut namaku membuatku merinding, semakin membuatku takut dengan sikap
yang sok kenal dan sok akrabnya yang dia tujukan.
Dua pekan
berlalu dari pertemuan dengan pria yang tak ku kenal itu, namun membuatku
penasaran ingin menayakan namanya, dan kenapa heran kalau liat orang nangis
saat berdoa?? Bukankah itu hal yang wajar?.. ahhhh.. entahlah kenapa pikiranku
jadi Kepo”(bahasa anak muda jaman sekarang) begini..
“airin besok ada
seminar yang diadakan PWI (persatuan Wartawan Indonesia) mau ikut??” suara
cempreng yang sudah tak asing ku dengar. Namanya Imma, dia juga partner baik ku
di forum jurnalisme ini, bawaan yang cerewet, jail, dan ceria sudah melekat
padanya.
“iyya,, kau mau
ikut juga?? Tanyaku balik.
“iyya mauka,
samaki pale nagh,, tapi jemputka di kos?” paksanya.
“biar tidak
bilangko, sudah ku tau memang mau mu, heheh..”
“hihihi… tau
ajah’…
Seminar PWI,
bertemu dengan wartawan-wartawan senior, bisa dapat pengalaman baru, belajar
dari cerita suka dan duka selama jadi jurnalis. Ini yang membuatku semangat 45
untuk datang ke acara ini..
“perjuangan dan
kerja keras jurnalis tak sebanding dengan gajinya,, ahh kasihan”.. keluh Imma
saat selesai mendengarkan pembicaraan dalam seminar tadi.
Semua akan
sepakat dengan apa yang dikatakan imma barusan, jadi jurnalis mengorbankan
hidup dan matinya, meninggalkan keluarga saat harus bertugas dengan lokasi yang
jauh, siap di tempatkan di mana saja, dan siap pasang badan saat ada konflik
terjadi demi mendapat hasil gambar yang bagus. Namun dengan gaji, yang sama
dengan buruh bangunan. Miris memang dengan ketidak adilan bangsa ini.
“sudahlah Imma,
mau di apa? Kalau sudah terjun di dunia jurnalis berarti siap dengan segala
konsekuensi yang ada, sabar mi saja, atau berhenti dari sekarang.” Kataku yang
mencoba menenangkan Imma.
Tanpa jawaban, Imma
hanya berjalan dengan lemas dan sedikit mo’joo (cemberut)..
“airin”… suara
itu menghentikan langkah kami berdua, dan menoleh secara bersamaan.
Wajah pria ini,
sepertinya tidak asing lagi, tapi siapa die’?? dalam benakku pertanyaan yang
jawab sendiri,”ooo… pria yang kutemui di mesjid Al-Ra’uf 2 pekan yang lalu”..
“ehhh.. kak
Imran” sapaa Imma. Yang ternyata sudah saling kenal.
“airin,, ini kak
Imran sepupunya kak Agus, senior ta’..” semangat Imma yang memperkenalkan.
“sudah mka
ketemu 2 minggu yang lalu kalau tidak salah, di mesjid jalan AP. Pettarani, cuman
Airin belum tau namaku, soalnya buru-buru ki’ mau pulang mungkin na lihat penjahatka’..
heheh.. terangnya dengan gaya khasnya yang sok akrab.
“bukan begitu
kak, cuman…” jawabku yang dengan jelas tengah mencari-cari alasan yang masuk
akal..
“endak apa2 ji
maklum jka dek’.. katanya
“hmmmmmm…… !!
suara batuk Imma yang di paksakan, untuk menegaskan kalau kami bertiga, kok
ngobrolnya cuman asyik berdua..
Dari pertemuan
kedua ku dengan kak Imran, namanya dan siapa dia sudah ku tau sedikit demi
sedikit dari informasi yang Imma berikan, dia lulusan sosiologi UNM satu tahun
yang lalu, sekarang juga aktif di dunia jurnalisme, dengan status pegawai tetap
di salah satu stasiun televisi di makassar.
Setelah
pertemuan yang kedua dihari itu, aku merasa bahwa ada rasa kagum yg kurasa saat
mendengar cerita tentang kak Imran. Perjuangannnya yang rela banting tulang
demi menghidupi keluarganya, sebagai seorang anak laki-laki yang telah di
tinggal pergi oleh ayahnya maka tugasnya harus menjadi tulang punggung dalam
keluarganya.
“Semoga hanya
sekedar rasa kagum”..
“mungkin memang
ku cinta, mungkin mmg ku sesali.. telah terhiraukan rasamu dulu.. aku hanya
ingkari kata hatiku saja.. tp mengapa kini cinta datang terlambat..” bunyi
ringtone Hpku dari maudy ayunda mengagetkan ku.. ada pangilan dari nomor
handphone yang tak di cantumkan namanya..
“yaa… halo..
Assalamu alaikum??..” terdengar suara pria dari ujung Hpku.
“waalaikumu
salam”… jawabku.
“ini dengan
Airin??”
“iyya.. ini
siapa yaa??” tanyaku balik.
“emm.. saya
Imran dek’,.” Jawabnya singkat.
Dengan mendengar
namanya, kenapa rasa kaget yang muncul,, ahh kenapa dengan diriku ini,, ini
mungkin kagum yang berlebihan..
Ku jawab segera
dengan nada suara yang sedikit terbata “oo.. kak Imran, iya kenapa Kak?”
“mauka minta
tolong sama kita, bisa ki’ temani ka bawakan materi kepenulisan di acara
pelatihan jurnalistik di anak-anak SMA??”
Kenapa harus
saya, dan mengapa pake kata2 menemani?? Aissh,, pertanya dalam hati yang
membuatku bingung sendiri memikirkan jawabannya.
“oh,, iye kak
bisa ji’, kapan kak?”
“besok lusa
dek’, sekitar jam 10:00 an, nanti saya kirimkan ki alamat lokasinya”..
“oh, iyee”..
jawaban yg tak perlu ku pertimbangkan terlalu lama, bahkan tak sempat ku
tanyakan knp harus saya yang di suruh menemani?” besok lusa, kalau begitu perlu
persiapan yang ekstra kalau begitu..”
Hari itu tiba,
kak Imran membawakan materi kepenulisan dengan gaya khas anak muda, sehingga
audiens yang mendengarnya merasa lebih mudah memahami materinya. Dengan kemeja biru
tua, dan jaket joklat kak Imran terlihat dewasa. Entahlah, kebodohan apalagi
yang terjadi padaku?.. semoga ini hanya benar-benar perasaan kagum semata, tak lebih.
Komunikasi ku
dengan Kak Imran semakin rutin, memberiku banyak pengetahuan baru, berbagi
pengalaman selama ia menjadi jurnalis biasa, dan obrolan mengenai hoby
masing-masing pun semakin nyambung. Kak imran yang senang dengan film action,
music instrumental, koleksi novel, dan penyanyi idola pun hampir sama denganku.
Empat bulan
saling mengenal satu sama lain, bukan waktu yang singkat menurutku. Hingga hari
itu tiba, hari dimana setiap wanita ingin merasakanya, hari dimana wanita
merasa di hargai dan senang.
“dek bisa ki’
ketemuan di mesjid Ar-ra’uf yang di AP. Petarani besok?”
Pesan singkat
yang ku dapat dari kak imran, perasaanku sepertinya di liputi rasa senang dan
sekaligus penasaran. Senang karna dapat bertemu dengan sosok yang ku kagumi dan
penasaran kenapa harus di mesjid Ar-ra’uf tempat pertama kali kita bertemu.
“dek’ airin””.
Kak Imran memulai percakapan.
“saya bukan
laki-laki yang sempurna, namun saya selalu mencoba untuk menjadi yang terbaik
bagimu.. saya bukan pria idaman setiap wanita, tapi saya selalu belajar untuk
bisa menjadi imam yang baik di mata mu, ayah yang baik untuk anak-anak kita
nanti, pantaskah saya untuk memintamu untuk menjadi pendamping hidupku,
menemani sisa hidupku, menjadi pelengkap dari tulang rusukku yang hilang?? aku
ingin membangun keluarga bahagia dunia akhiratku bersama mu”…
Kata-kata yang
kudengar membuatku terhanyut dan bahagia. namun, jauh di lubuk hatiku masih ada
keraguan dan rasa belum siap untuk membina rumah tangga, ingin ku ungkapkan
kegundahanku, keraguanku namun tak kuasa ku menyakiti keseriusan kak imaran.
Namun jika ku bohongi perasaan ini, akankah kami bahagia bersama saat di satu
pihak belum merasa siap dan yakin dengan pilihannya. Bukanku bermaksud tak
mensyukuri nikmat tuhan dan terkesan pilih-pilih dalam urusan jodoh, namun ku
belum yakin dengan kak imran yang menjadi pendamping untukku yang di kirimkan
Allah.. salahkah dengan perasaan ini?? Yaaa Allah, ku mohon petunjukMu agar aku
terhindar dalam golongan manusia yang tak pernah bersyukur dengan nikmat yang
kau berikan..”
keluh bibir ini
untuk mengeluarkan kata-kata yang pantas ku ucapkan kepada kak imran. kumulai
dengan ucapan maaf, “maaf kak, tak pantas bagiku untuk menjawab pertanyaan mu
tanpa harus ku mulai bertanya kepada Allah, memohon petunjuk darinya, memohon
keridhoan dan ketetapan hati dariNya”.. jawabku dengan tenang.
“iyya dek’ saya
paham maksud ta’, kita shalat istikhara mi dulu, jika yang terbaik itu akan
segera di tunjukkan secara jelas oleh Allah”..
Tiga hari ku
laksanakan shalat istikhara memohon petunjuk darinya, dalam doa kusebut nama
kak Imran, berharap ada petunjuk dari Allah.. namun suatu malam aku bermimpi,
dalam mimpi itu kulihat wajah kak Imran dalam sebuah lukisan nan indah, namun
kulihat ada seorang wanita yang membawa lukisan itu pergi jauh, tanpa ada
sepatah katapun yang ia ucap. Kulihat wanita
itu semakin jauh pergi, hilang tanpa jejak dengan membawa lukisan kak
Imran, lukisan wajah kak Imran dengan senyum kebahagiaan”.
Tidurku
terbangunkan dengan suara adzan shubuh dari rumah-rumah Allah.. dalam sadarku
terucap doa “ yaa Allah, inikah petunjuk dari mu?? Jalan hidup dariMu adalah yang terbaik
bagiku”..
Hari-hari ku
lalui tanpa pernah bertemu dengan kak Imran, tak ada komunikasi, dan belum ku
sampaikan jawaban dari shalat istikhara ku semalam yang lalu. Hari itu mengapa
sepulang dari kampus, aku merasa ingin shalat ashar di mesjid Ar-Rau’uf. Mesjid
yang mempertemukan ku dengan kak imran secara tak sengaja. Ku sebut dia dalam
doaku, semoga dia di pertemukan dengan jodoh yang terbaik untukknya, untukku
dan masa depan kami masing-masing.
Saat di ujung
pintu keluar mesjid, tanpa sengaja kami bertemu, saling memandang dengan
perasaan berkecamuk. Aku yang merasa tak enak hati, mungkin kak imran dengan
perasaan penuh harap dengan keputusanku.
“kak,” ku mulai
percakapan itu, yang sebelumnya di awali dengan diam satu-sama lain.
“maaf kak, dalam
shalat istikharaku, namamu ku sebut, doaku dengan mengikut sertakan namamu. Ku
mohon kepada Allah agar memberiku petunjuk.” dengan rasa syukurku Allah
memberiku jawaban dengan kemaha KasihNya.” Ku ceritakan mimpi yang kulihat
setelah melaksanakan shalat istikhara. Dan ku katakan pada kak Imran, kalau
saya tidak bisa menerima pinangannya, ada wanita lain yang menanti kesetian dan
cinta darimu kak, dan itu bukan aku. Kakak bukan pria dalam doaku, Allah tak
mengizinkan kita bersama.” Air mata tak terbendung, linangan air mata ini
menjadi penegas bahwa di mesjid Ar-ra’uf (MahaKasih) kita bertemu dengan keMaha
kasihNya, dan memisahkan kita dengan keMaha kasihNya yang tiada tara.. sebab
manusia saling mencintai dan saling menyayangi karna keMaha KasiMu (Ar-ra’uf) yaa
rabb, tuhan semesta Alam.
Musdalifah,
05-03-2014
Galesong Utara, kerinduan dan cerita KKN
ku.