Pengikut

Minggu, 09 Juni 2013

sang kiai dan air hujan


KISAH KIAI DAN AIR HUJAN
Di sebuah desa, terjadi kemarau panjang. Pada tahun itu panen gagal total, Sungai-sungai kering. Penyakit aneh pun mulai mewabah. Semua usaha sudah di lakukan warga, namun tidak membawa hasil apa-apa. Salah seorang warga mengusulkan untuk meminta doa dari seorang kiai sakti yang di yakini doanya sangat makbul.
 Pada hari yang sudah di sepakati, pergilah warga berbondong-bondong menuju tempat kediaman kiai tersebut di lereng gunung. Sesampai disana, sang kiai sudah menunggu kedatangan mereka. Salah satu tokoh desa maju kedepn dan mengajukan permintaan agar sang kiai berkenan mendoakan agar hujan turun di desa mereka.
Sebelum berdoa, sang kiai bertanya, “ apakah diantara kalian ada yang berdosa ? semua celingkukan, saling berpandang satu sama lain.
“ apakah kalian sudah meminta ampun atas dosa-dosa kalian dan memperbanyak membaca istigfar?” Tanya sang kiai lagi.
“ ya, kami sudah beristigfar dan memohon ampun atas dosa-dosa kami, bahkan kami sudah berulang-ulang melakukan ( doa memohon pertolongan)dan shalat istisyqa ( shalat meminta hujan ). Serta berzikir bersama, tapi tetap saja hujan belum juga turun,” sahut pemimpin desa, sedamgkan warga lainnya mengiyakan.
“ apakah kalian yakin kalau doa dan permohonan kalian di dengar oleh tuhan dan pasti di kabulkan?”  sang kiai kembali bertanya.
Kali ini semua warga menyahut serempak, “ ya kami sangat yakin tuhan maha mendengar doa-doa kami, dan dia pasti akan mengabulkan permohonan kami !”
“kalau begitu apakah kalian sudah mempersiapkan drum, ember, dan baskom kosong untuk menampung air ?” Tanya sang kiai dengan mimic wajah yang meragukan.
Warga desa pun menggeleng-geleng kepala.
“ kalian bagaimana sih,,,!!!!?? Dengan nada agak emosi sang kiai berdiri dan berkata, “ kalian yakin bahwa tuhan maha mendengar. Kalian yakin permohonan doa-doa kalian pasti dikabulkan, lantas mengapa kalian tidak mempersiapkan tempat untuk menampung air hujan yang akan turun??!!!
“ tapi bukankah belum ada tanda-tanda hujan akan turun?” sergah pemimpin desa.
“ bukankah doa-doa yang kalian pinta itu, merupakan tanda bahwa tuhan akan mengabulkan permintaan kalian? Sekiranya tidak mau menurunkan hujan sama sekali, dia pun akan menutup hati kalian untuk berdoa dan mengingat namaNya!! Sudah pulang sana!
Tak lama setelah sang kiai berkata seperti itu, tiba-tiba hujan mendadak turun. Semua warga berlarian menikmati hujan yang telah lama tidak membasahi desa mereka yang kering kerontang. Saking senangnya, mereka bermain air sampai basah kuyup hingga hujan kembali reda.
Begitu hujan reda,mereka baru sadar, ternyata  satu ada satu ember pun yang menanpung air hujan. Semenjak itu, hujan tak kunjung turun lagi berbulan-bulan lamanya. Tuhan memang sudah mengabulkan permohonan mereka, tapi mereka tidak pernah mempersiapkan anugrah besar itu.
Filosofi dari kisah diatas sederhana saja. Kisah ini menggambarkan tentang fenomena orang-orang yang sering kali berdoa mengharapkan sesuatu, akan tetapi dia tidak pernah mau mempersiapkan kehadiran sesuatu itu.

Selasa, 21 Mei 2013

inspirasi kami


Gurunda
Hingga pada akhirnya hanya Air mata yang mampu menggambarkan rasa kehilangan ini..
Apa yang  telah engkau berikan kepada kami hanya doa yang mampu kami berikan padamu..
Bahkan hal itu tak cukup untuk membalaskan keikhlasan ilmu yang senantiasa engkau curuhkan pada kami….
Engkau meninggalkan begitu banyak berkah untuk kami…
Ilmu, kebaikan, pengetahuan,  tuntunan untuk selalu berjalan diatas perintah Allah dan rasulnya…
Engkau tak lagi di dunia ini,, namun bagi kami engkau masih tetap hidup dalam hati dan jiwa kami..
Yang senang tiasa berjalan beriringan dengan kebaikan dan ilmu yang engkau tanamkan pada kami..
Tenanglah disana… beristirahatlah dengan penuh kedamaian…
Kini Amanah yang engkau emban sudah selesai kau tunaikan dengan baik…
 Hanya tugas kami sekarang untuk meneruskan kebaikan yang  telah engkau berikan pada kami..
Allah merindukan mu,, merindukan untuk segera memberimu Mahkota ……………………………………Selamat jalan gurunda tercinta…………………………

Kamis, 09 Mei 2013

IBU


UMMU
Saat aku melihat wajahmu yg penuh dengan keteduhan
Sungguh tuhan telah menciptakan manusia yang rela terluka..
Manusia yang rela tubuhnya di basahi oleh keringat bahkan darah sekalipun..
Saat ia berdoa kepada tuhannya, doa kebaikan yg di peruntukkan bukan untuk hidupnya,,
                                           Ia berusaha untuk mewujudkan sesuatu yang mustahil ia berikan
                                           Tapi tidak ada kata “tak mungkin” kata “tdk bisa”
                                            Bahkan jika yang aku pinta adalah bintang
                                 Kurasa ia akan terbang dan mengambil beribu bintang di langit
                                 Hanya untukku.
Namun di saat ia rela memberikan hidup dan matinya hanya untukku
Yang ku balas hanyalah rasa sakit dan umpatan-umpatan yang menyakitkan hati
Aku bahkan tak ingin mengingat apa yang telah engkau perjuangkan untukku
Dan ku katakan kalau hal itu sudah menjadi kewajiban mu untuk membahagiakan ku..
                              Hingga saat ku sadari semuanya,yang kau berikan tanpa ingin menerima
                              Kebahagianku adalah cintamu, tangisku adalah derita mu.
                              Syukurmu adalah senyum ku..
                               Dan kesuksesan ku adalah tujuan hidup mu..
IBU… IBU…IBU…
Kau adalah malaikat ku..
Kasih mu bagaikan udara yang tak akan habis
Cinta mu seluas hamparan laut di bumi
                                Maafkan anak mu ini,yang tak bisa membalas dan tak akan pernah bisa
                                Bahkan jika aku menopang mu untuk mendaki gunung yang tinggi
                                 Hal itu takkan mampu membalas setetes air susu mu..       
                                 Menggantikan setetes keringat yang membasahi tubuh mu..
Maafkan aku ibu..
Maafkan anak mu ini…
Maafkan krn tak berdayaan ku untuk membahagiakan mu..
Sekali lagi ku katakan maaf beribu-ribu maaf.. 

Senin, 25 Februari 2013

KEPERGIAN MU


KEPERGIAN MU
Di bandara sultan hasanuddin ,hari selasa pukul 13:35. Aku mengantar ke pergiannya yang hanya sebagai seorang sahabat.. yaaa, hanya sahabat tak lebih dari itu. Sekalipun ada perasaan yang aku pendam padanya, mungkin perasaan ini adalah perasaan yang lebih dari sekedar sahabat.
            Aku duduk terdiam sendiri di kursi besi panjang ini. hingga tak di  sadari lamunanku, membawaku pada kenangan kita dahulu. Awal di mana aku dan hafidz bertemu hingga dapat menjalin persahabatan yg tak di sangka sudah berjalan selama 2 tahun..
Saat itu, aku dan hafidz  bertemu di toko buku di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Makassar. Kulihat hafidz saat itu memegang novel  yang sebenarnya novel  itu adalah novel yang selama ini aku cari, namun saat ku tanyakan stok novel  yang saat itu sedang di pegang hafidz ke pegawai  tokonya , ternyata itu adalah novel yang  hanya tersisa satu saja dan saat itu sudah ada di genggaman hafidz .. tiba-tiba hafidz menghapiri ku dan bertanya kepada ku..
            “ Kenapa Mba,, lg cari novel ini???” sambil ia tunjuk buku itu.
            Dan ku jawab “ iya,, sudah 2 minggu aku cari novel itu tapi tak pernah dapat, giliran dapat tapi tinggal satu,,dan itu sudah ada di tangan mas”.
            Hafidz hanya tersenyum, dan ku rasakan ada keteduhan saat melihat senyumnya..
            “ mba aja yg ambil novel  ini,, aku juga enggak terlalu pengen banget sih,, cuman tadi kebetulan aja lihat dan dari judulnya sih kelihatnya memang menarik” . Katanya
            Entah apa yg kurasa saat itu, tidak sedikit pun aku berani menolak tawarannya, aku seolah telah terbius oleh keramahan dan tutur katanya yang sopan.
 “ makasih mas, novel ini bener-bener aku inginkan banget, habisnya teman saya ngomong kalau ceritanya bagus dan hal itu yg membuat ku penasaran banget untuk segera membacanya”.. kata ku sambil menjelaskannya panjang lebar.
            “oo gitu,, ya udah nii” ia menyodorkan novel itu tepat di depan wajah ku.
            “sekali lagi makasih mas” kataku
            “nggak usah di panggil mas kale’, emangnya aku kelihatan tua yaa??” masih dengan senyuman dan keteduhan yang sama ku rasakan.
            “ooh sorry,” kataku sambil menahan malu.
            “enggak apa-apa ko..  eh, Kenalin aku hafidz,, kamu?” sambil kau ulurkan tanganmu, mengajak ku bersalaman.
            “aku syifah, tapi panggil aja ifah”.
            “ifah.. ifah..ifah.. bagus juga namanya”
            “makasih” sahut ku
Pertemuan itu pun berlanjut, kita berkenalan, telpon-telponan, sms-an, jalan bareng, tukar tukaran buku bacaan, sharing, dan curhatan,. Hingga hubungan kita berjalan sebagai sahabat..
Itulah kisah awal, awal dimana kita bertemu, dan saat ini kenyataan yang akan aku hadapi beberapa menit kedepan adalah kata perpisahan.. yaaa,,, perpisahan!!! dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan.. Dan kenangan dari awal dimana kita bertemu itulah yang tak akan pernah aku lupakan..
            “ hay ifah… kenapa melamun’??? kemudian duduk di samping ku.
            “enggak, enggak apa-apa,,?? Sambil ku usap mata ku..
            “udah jangn bohong deh,, lagi mikirin seseorang  yaa?? Kau tanyakan hal itu dengan memandangku.
Entah lah,, sepertinya kamu tau apa yg kurasakan saat ini, dan kamu hanya berpura-pura menyakan hal itu seolah-olah kamu hanya ingin menenangkan perasaan ku”. gumam ku di dalam hati.
            “udalah aku enggak apa-apa kok” ku berusaha untuk tetap tersenyum
            “ifah,, nanti klw aku udah sampe di Malaysia.. aku pasti langsung kabarin kamu deh,, kamu kan sahabat terbaik ku” katamu sembari mencubit pipi ku..
Yaaa,, sahabat!!! Kau ucapkan kata sahabat,, dan itu membuatku semakin lemah,, aku juga binggung dengan perasaan ku,, sepertinya aku tak terima dengan status ku yg hanya sebagai sahabat di mata mu,, aku ingin lebih dari itu.. tapi tak sanggup ku katakan perasaan ini,, perasaan yang hanya menyesakkan dada..
            “hafidz,, sebentar lagi kita berangkat nak” kata lelaki paru baya itu,, dia sosok ayah yang berkharismatik yang membuat siapa saja yang memandaginya merasakn kedamaian.
Aku dan hafidz bangkit dari tempat duduk yang terbuat dari besi itu secara bersamaan..
            Dan ku katakn“ hati-hati yaa om,, semoga sampai di malaysia dengan selamat” ku cium tangan nya sebagai bentuk penghormatan ku terhadap org yg tlh memberiku banyak nasihat.
            “ ia nak,, kamu juga baik-baik di Makassar, lanjutkan study mu ke perguruan tinggi dan kejar cita-ciata mu, buat orang-orang di sekeliling mu merasa bahagia saat di dekat mu” sembari menepuk bahu ku.
Aku sdh menganggap laki2 ini sbg org tua ku sendiri, bagiku ayah hafidz ini adalah orang yang setia,, walaupun telah lama di tinggal pergi oleh Almrhumah istrinya, tapi ia tetap menjaga kesetiaan cintax,, dan kurasa itulah cinta yang abadi.
            “iya Om,, ifah akan selalu mengingat nasihat om” kataku
            “ayah tunggu km di dpn yaa fidz, 2 menit lg kita masuk ke pesawat” ia pun berlalu dengan mendorong troli yg di bawanya..
            “emm,,,hafidz, terimah kasih yaa  karna selama ini kamu sudah menjadi sahabat sekaligus kakak yang baik buat ku, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mu” Ku katakan itu dengan senyum  yang di paksakan, karna aku tak mau dia melihat ada guratan kesedihan di wajah ku.
            “ fah nii aku punya coklat, anggap ini sebagai kenang-kenagan buat kamu” lalu ia meletakkan sebungkus coklat itu diatas tangan ku..
Ku pandangi Coklat itu , coklat yg terbungkus dengan selembar kertas berwarna merah hati,, berbeda dari bungkusan coklat pada umumnya..
            “itu bukan sembarang coklat,, coklat itu akan menenagkan hati dan perasaan bagi siapa sj yg memakanx..”  kembali ia menjelaskan.
            Ia menggenggam kedua tangan ku dan menatap wajah ku lalu berkata “ tetaplah menjadi ifah yg ku kenal, ifah yg ku kenal selama ini adalah wanita yg ceria,semangat dan selalu tersenyum” 
kata-kata itu membuatku merasa sedikit tenang dan segera ku tundukkan kepala ku agar ia tak melihat air mata yg sepertinya sebentar lagi akan jatuh membasahi pipi ku..
            Dan ku berkata “ iya,, aku akan tetap menjadi ifah, ifah yg kau kenal sejak awal kita bertemu”
Lalu genggaman tangan mu perlahan kau lepaskan, selangkah demi selangkah kau mulai menjauh dari hadapan ku, ku coba untuk tetap tersenyum kepada mu.. lambaian tanggan itu mengisyaratkan jarak di antara kita semakin jauh..
            Tapi tunggu sebentar,, Aku ingin mengucapkan sesuatu kepadamu untuk terakhir kalinya sebelum engkau benar-benar terbang jauh menembus awan.. “jerit ku dalam hati”
            “ hafidz……. aku sayang kamu, rasa sayang yang lebih dari sekedar sahabat” air mataku pun tumpah semakin tak terbendung lagi,, masih ku genggam sebungkus coklat dengan kertas berwarna merah hati yang kau berikan itu..
Tapi semua telah terlambat, kamu telah menjauh dari pelupuk mataku,, entah kapan aku akan melihat senyum yang teduh itu lagi dari wajah mu.. ku hanya mendoakan agar kau dapat menggapai cita-cita mu sebagai seorang Arsitek,, cita-cita yang selalu kau katakn padaku..
Ku usap air mata yang jatuh membasahi pipih, dan segera ku buka coklat yang terbungkus kertas berwarna merah hati ini, Tak ku sangka coklat yang terbungkus rapih dengan kertas berwarna merah hati ini adalah selembar surat,, isi surat ini menjawab semua kegundahan hati ku selama ini.. karna ternyata kamu menyimpan perasaan yang sama terhadapku..
syifah,, sebenarnya aku suka sama kamu, mungkin perasaan itu hanya sekedar perasaan  kalau aku hanya  kagum saja  kepada mu, tetapi ternyata tidak demikian,,, perasaan cinta di hatiku tumbuh seiring berjalannya waktu,, dan aku tidak mau merusak persahabatan kita hanya karena sikap ku yg terburu-buru  mengutarakan perasaan ini,, jadi ku memilih untuk memendam perasaan sayang ini kpd mu.. kuharap  kamu juga  merasakan hal yg sama!!! Sekarang kita terpisah sementara waktu untuk mengejar cita-cita kita masing-masing, sampai pada akhirnya kita bertemu kembali dengan membawa kisah kesuksesan yang telah kita ukir… Ku mohon tunggu aku,,, aku pergi  tidak akan lama dan aku akan segera kembali untuk mu”.
By  A. Muh. Hafidz
Tak ada kata-kata yang sanggup terucap,,, setelah membaca surat mu .. aku hanya terdiam, sambil mencium surat mu yang basah karena linagan air mata ku..
“ Aku akan menunggu mu sampai kapan pun, hafidz”.. kata ku di dalam hati..