Pengikut

Jumat, 07 Maret 2014

Bertemu dan Berpisah atas IzinMu yaa Ar-Ra'uf



“kring… kring…. Kring’’…. Seperti biasa setiap harinya pukul 4:25 jam weker itu selalu membangunkan di setiap pagi ku…
“allahu akbar’”… “alhamdulillahi lazie ahyana ba’da maa amatan wailaihin nuzurr”, terima kasih yaa Allah, krn kau telah menghidupkan ku setalah mati kecilku”…
Hari ini, rabu 25-5-2014.. ada banyak kegiatan yang harus ku kerjakan, sebagai seorang mahasisiwi, yang juga aktif dalam forum jurnalisme kampus.. profesi yang ku gemari dari dulu dan kini menjadi kesibukan rutin ku. Ada banyak pengalaman yang ku dapat dan berbagai macam karakter manusia telah ku temui dalam profesi ini, dan terkadang nyawa dan waktu extra yang menjadi tanggungannya.
Hari ini ada kegiatan kampus yang harus ku liput, mengenai kedatangan ketua KPK ke kampus UIN makassar membawakan kuliah umum kepada mahasiswa dalam rangka mencegah bahaya laten korupsi sejak dini. Kurang lebih 3 jam ketua KPK  Dr. abraham samad.,S.H,M.H membawakan materi pemberantasan korupsi di depan mahasiswa, gema suara mahasiswa dan tepukan riuh kekaguman mahasiswa terhadap keberanian dan ketegasan ketua KPK dalam memberantas korupsi, petuah-petuah dan motivasi yang diberikan menambah kekaguman mahasiswa kepada putra daeng itu yang telah mengharumkan nama anak makassar. “saya berjanji untuk terus mengabdikan diri dan tenaga saya untuk negara dalam menangkap dan membongkar kasus korupsi skala besar di indonesia yang telah kejam membunuh secara perlahan rakyat indonesia, saya mohon bantuan kepada adik-adik mahasiswa untuk sama-sama mencegah bahaya korupsi yang senang tiasa berada dekat di sekelilng kita, mulailah dari hal yang kecil” tungkas abraham samad. “ sama seperti yang diajarkan baginda Rasulullah Saw bahwa ketika anaknya fatimah Azzahra mencuri maka nabi sendiri yang akan memotong tangan putrinya, maka suatu keharusan bagi sayapun bila sanak keluarga, sahabat saya yg terlibat kasus korupsi maka saya sendiri yang akan memberantasnya” tambah abraham samad dengan suara yang lantang dan tegas hingga membuat gemuru tepuk tangan mahasiswa semakin riuh.
Secara pribadi, saya mengikuti perjalanan sosok abraham samad saat mencalonkan jadi ketua KPK, dalam benak ku, sosok pemberani ini benarkah dari makassar? Mengapa terobesis sekali ingin menduduki jabatan di KPK? Melihat gaya bicara dan ketenagannya dalam menjawab pertanya dari berbagai media, saya mulai yakin bahwa harapan untuk memperbaiki bangsa ini yang sudah akut dipenuhi para perampok akan dimulai dari sosok yang bernama Abraham samad, perawakan tinggi kurus, berkulit hitam dengan janggut tipis yang mencerminkan sikap arogansinya dalam menuntas kebohongan, penggelapan dana dan berbagai kebusukan lainnya yang telah menempel di kalangan pejabat negara  di tanah air ku indonesia.
Dengan waktu yang singkat berita ini harus diterbitkan besok, dalam cakupan kampus bila informasi di ulur-ulur untuk mempublikasikannya akan terasa basi dan sudah tak diminati lagi di kalangan mahasiswa.
“airin kau yang susun ini materi kuliah umumnya pak abraham samad pagi tadi, edit dengan baik dan publikasikan besok di majalah kampus, biar saya yang publikasikan lewat website kampus. Kata kak agus. dia senior ku dalam forum jurnalis kampus ini, sebagai yunior apa lagi yang harus di jawab selain mengiyakan.
“iyee kak, insya Allah siap diterbitkan besok” jawabku dengan pasti.
“emmm…padahal lebih enak dan mudah kalau mempublikasikan lewat website di banding majalah kampus” gerutuku dalam hati.
Saat ku katakan saya “siap” maka saya sudah siap menjalankan tanggung jawab ini tanpah harus disesali. Kualitas seseorang di uji dengan kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan, itu prinsipku.
Akhirnya selesai, setelah menghabiskan waktu di depan monitor kurang lebih 5 jam akhirnya rampung dan siap di cetak,. Soal cetak mencetak itu bukan kapasitasku dan ku serahkan ke Adnan yang memang ahli dalam cetak mencetak.
“cetak mi’ ini sudah saya edit, kalau ada yang kurang atau salah kita mi yang perbaiki nagh?!! Pintaku ke Adnan. Adnan teman seperjuangan ku, sama-sama dari nol saat mulai gabung ke komunitas ini, dia juga partner yang baik menurutku.
“ok.. bos siiip”..
“Mau mko pulangkah??” tanya Adnan.
“iyya deh, sore mi bela mana lagi belum peka sholat Ashar”. Jawabku sambil menggerakkan badan ke kiri dan ke kanan hingga terdengar suara geretak tulang yang sudah kaku, dengan rasa lelah yang semakin berat kurasa.
“oo.. iya pale pulang mi cepat”
Kupacu motor bebek hijau ku, berharap bisa shalat ashar di rumah saja. Badan yang sudah terasa lengket dan berkeringat ingin cepat-cepat ku bersihakan lalu kemudian shalat Ashar dengan perasaan yang segar.
Saat harapan tak sesuai dengan keadaan yang terjadi, melintasi  jalan AP. Pettarani sangat mustahil bila sore hari tidak  di temukan yang namanya “macet”. Kendaraan lumpuh total, jam segini memang jam pulang kerja, berakhirnya segala aktivitas dari semua kalangan.
Kulihat jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 16:28 ..“aisssh,,,, kalau begini terus bisa-bisa habis waktu ashar hanya di jalan saja..”
Ku tengok pemandangan di sekelilingku, terlihat rumah Allah berwarna hijau yang menarik perhatian ku, dengan dikelilingi lampu hiasa sederhana, bertuliskan nama Nan indah,     “ Al- Ra’uf (maha Kasih)”, sungguh maha kasihMu tuhan Semesta Alam. Rumah-Mu yang senang tiasa memberi rasa aman, kepada siapa saja yang menginjakkan kaki di rumah yang suci ini, para musafir yang menjadikan tempat istirahat yang sungguh tiada tara memberi keteduhan dalam naugan keMaha kasih-Mu ya rabb.
Ku arahkan motor bebek hijau ku ke pekarangan masjid itu, menunaikan kewajibanku dan ingin ku haturkan rasa syukur atas ni’matMu yang tak henti-hentinya engkau limpahkan kepada ku. izinkan ku sejenak melepas penat dan lelahku di rumahMu yaaa… tuhan !!, berharap ada kekuatan jiwa raga dan keteguhan hati dalam menelusuri jejak keridhoanMu, ketegaran melewati rintangan dan ujian bagi para penuntut ilmu, fakir pengetahuan seperti hambaMu ini.
Basuhan air, menyegarkan hati dan pikiran ini, menyadarkan hamba dengan kalamMu dalam kitab suci Al-Qur’an bahwa“ Ni’mat Tuhan Manakah yang engkau ingkari”. Bukan persoalan besar dan kecil rezki yang kita dapat melainkan seberapa sering rasa syukur terucap di bibir ini. Doa yang ku haturkan kepadamu yaa raab, “perkenankanlah untuk hamba, kesehatan untuk orang tua dan orang-orang yang mengajarku ilmu pengetahuan, ampuni segala dosanya beri ia tempat yang mulia di sisiMu, bagi guru-guru hamba yang telah tiada berilah balasan syurga atas ilmu yang telah ia ajarkan kepada kami. Karuniakan reski yang halal untuk keluarga hamba, kuatkan hamba dalam menggapai ridhoMu, serta lindungi hamba dan keluarga hamba dari segala kejahatan dan marabahaya, Ya Allah hal yang wajar bila seorang wanita meminta pria yang dapat menjadi imam untuk hamba dan ayah yang baik bagi anak-anakku kelak, pertemukanlah hamba dengan pria yang mampu mendekatkan hamba di jalanmu”.. Amiiinn yaaa Allah…!!
Alhamdulillah… kalimat yang pantas mengambarkan karunia Allah hari ini..
“istirahat sebentar dulu deh’ masih macet ki bela” dialog ku dalam hati!! Sambil duduk di teras masjid memandangi setiap sudut jalan, keramaian orang-orang yang lalu-lalang. Rumah makan dari yang modern ala barat sampai warungan ala anak Kos-kosan terhampar di depan mataku..
“Jurnalisme UIN alauddin Makassar”.. suara pria dari arah belakangku.
Seorang pria yang tak kukenal tepat berdiri di belakangku, yang sedang membaca dengan suara keras tulisan di bagian pundak jaket hitam yang ku kenakan.. dia tersenyum kepada ku, namun tak ku hiraukan. Sebagai orang yang menggeluti dunia jurnalis, sangat dekat dan sudah familiar dengan berita kriminalitas maka hal yang sangat wajar bagi saya untuk bernegative thinking dengan pria ini. “iii… siapa itu?? Bikin takutnya! Keluhku dalam hati.. “yaa Allah lindungi hamba dari segala bentuk kejahatan manusia”.
“Ade’ kuliah di UIN?? Jurusan jurnalisme semester berapa??” tanya pria yang mungkin 2 tahun lebih tua dari ku.
“semester 7” jawabku dengan nada sedikit ketus.
“ooo.. kalau boleh tau siapa nama ta’?” masih dengan pertanyaan yang membuatku canggung.
“Airin” jawabku singkat.
“lagi nunggu siapa?” tanyanya lagi.
“tdk lagi nunggu siapa2, cuman belum mau pulang soalnya lagi macet sekali didepan”, tapi sekarang sudah mau pulang” kataku sambil bergegas memasang sepatuku.. lagi-lagi dipikiranku bawaanya parno melulu, takut di hipnotislah, di jambertlah..
“maaf, kalau ganggu de’, sampai-sampai buru-buru mau pulang, saya bukan orang jahat ko dek’ saya juga habis shalat dan berdoa sambil nangis sama seperti adek’..” jelasnya panjang lebar.
“kok dia tau kalau saya nangis saat berdoa”?? tanyaku dalam hati yang semakin membuatku binggung bukan mainn…
“kita lihatka nangis waktu berdoa?” kataku penasaran.
“iyee” cuman tidak sengaja tadi liatnya” jawab pria itu sambil tersenyum.
“loo kok diam,?? Katanya mau pulang”. Suara pria ini membuyarkan rasa penasaranku.
“saya duluan kak, assalamu alaikum” pamitku pada pria yang tak sempat ku tanyakan namanya itu.
“waalaikumus salam airin”.
Mendengar pria itu menyebut namaku membuatku merinding, semakin membuatku takut dengan sikap yang sok kenal dan sok akrabnya yang dia tujukan.
Dua pekan berlalu dari pertemuan dengan pria yang tak ku kenal itu, namun membuatku penasaran ingin menayakan namanya, dan kenapa heran kalau liat orang nangis saat berdoa?? Bukankah itu hal yang wajar?.. ahhhh.. entahlah kenapa pikiranku jadi Kepo”(bahasa anak muda jaman sekarang) begini..
“airin besok ada seminar yang diadakan PWI (persatuan Wartawan Indonesia) mau ikut??” suara cempreng yang sudah tak asing ku dengar. Namanya Imma, dia juga partner baik ku di forum jurnalisme ini, bawaan yang cerewet, jail, dan ceria sudah melekat padanya.
“iyya,, kau mau ikut juga?? Tanyaku balik.
“iyya mauka, samaki pale nagh,, tapi jemputka di kos?” paksanya.
“biar tidak bilangko, sudah ku tau memang mau mu, heheh..”
“hihihi… tau ajah’…
Seminar PWI, bertemu dengan wartawan-wartawan senior, bisa dapat pengalaman baru, belajar dari cerita suka dan duka selama jadi jurnalis. Ini yang membuatku semangat 45 untuk datang ke acara ini..
“perjuangan dan kerja keras jurnalis tak sebanding dengan gajinya,, ahh kasihan”.. keluh Imma saat selesai mendengarkan pembicaraan dalam seminar tadi.
Semua akan sepakat dengan apa yang dikatakan imma barusan, jadi jurnalis mengorbankan hidup dan matinya, meninggalkan keluarga saat harus bertugas dengan lokasi yang jauh, siap di tempatkan di mana saja, dan siap pasang badan saat ada konflik terjadi demi mendapat hasil gambar yang bagus. Namun dengan gaji, yang sama dengan buruh bangunan. Miris memang dengan ketidak adilan bangsa ini.
“sudahlah Imma, mau di apa? Kalau sudah terjun di dunia jurnalis berarti siap dengan segala konsekuensi yang ada, sabar mi saja, atau berhenti dari sekarang.” Kataku yang mencoba menenangkan Imma.
Tanpa jawaban, Imma hanya berjalan dengan lemas dan sedikit mo’joo (cemberut)..
“airin”… suara itu menghentikan langkah kami berdua, dan menoleh secara bersamaan.
Wajah pria ini, sepertinya tidak asing lagi, tapi siapa die’?? dalam benakku pertanyaan yang jawab sendiri,”ooo… pria yang kutemui di mesjid Al-Ra’uf 2 pekan yang lalu”..
“ehhh.. kak Imran” sapaa Imma. Yang ternyata sudah saling kenal.
“airin,, ini kak Imran sepupunya kak Agus, senior ta’..” semangat Imma yang memperkenalkan.
“sudah mka ketemu 2 minggu yang lalu kalau tidak salah, di mesjid jalan AP. Pettarani, cuman Airin belum tau namaku, soalnya buru-buru ki’ mau pulang mungkin na lihat penjahatka’.. heheh.. terangnya dengan gaya khasnya yang sok akrab.
“bukan begitu kak, cuman…” jawabku yang dengan jelas tengah mencari-cari alasan yang masuk akal..
“endak apa2 ji maklum jka dek’.. katanya
“hmmmmmm…… !! suara batuk Imma yang di paksakan, untuk menegaskan kalau kami bertiga, kok ngobrolnya cuman asyik berdua..
Dari pertemuan kedua ku dengan kak Imran, namanya dan siapa dia sudah ku tau sedikit demi sedikit dari informasi yang Imma berikan, dia lulusan sosiologi UNM satu tahun yang lalu, sekarang juga aktif di dunia jurnalisme, dengan status pegawai tetap di salah satu stasiun televisi di makassar.
Setelah pertemuan yang kedua dihari itu, aku merasa bahwa ada rasa kagum yg kurasa saat mendengar cerita tentang kak Imran. Perjuangannnya yang rela banting tulang demi menghidupi keluarganya, sebagai seorang anak laki-laki yang telah di tinggal pergi oleh ayahnya maka tugasnya harus menjadi tulang punggung dalam keluarganya.
“Semoga hanya sekedar rasa kagum”..
“mungkin memang ku cinta, mungkin mmg ku sesali.. telah terhiraukan rasamu dulu.. aku hanya ingkari kata hatiku saja.. tp mengapa kini cinta datang terlambat..” bunyi ringtone Hpku dari maudy ayunda mengagetkan ku.. ada pangilan dari nomor handphone yang tak di cantumkan namanya..
“yaa… halo.. Assalamu alaikum??..” terdengar suara pria dari ujung Hpku.
“waalaikumu salam”… jawabku.
“ini dengan Airin??”
“iyya.. ini siapa yaa??” tanyaku balik.
“emm.. saya Imran dek’,.” Jawabnya singkat.
Dengan mendengar namanya, kenapa rasa kaget yang muncul,, ahh kenapa dengan diriku ini,, ini mungkin kagum yang berlebihan..
Ku jawab segera dengan nada suara yang sedikit terbata “oo.. kak Imran, iya kenapa Kak?”
“mauka minta tolong sama kita, bisa ki’ temani ka bawakan materi kepenulisan di acara pelatihan jurnalistik di anak-anak SMA??”
Kenapa harus saya, dan mengapa pake kata2 menemani?? Aissh,, pertanya dalam hati yang membuatku bingung sendiri memikirkan jawabannya.
“oh,, iye kak bisa ji’, kapan kak?”
“besok lusa dek’, sekitar jam 10:00 an, nanti saya kirimkan ki alamat lokasinya”..
“oh, iyee”.. jawaban yg tak perlu ku pertimbangkan terlalu lama, bahkan tak sempat ku tanyakan knp harus saya yang di suruh menemani?” besok lusa, kalau begitu perlu persiapan yang ekstra kalau begitu..”
Hari itu tiba, kak Imran membawakan materi kepenulisan dengan gaya khas anak muda, sehingga audiens yang mendengarnya merasa lebih mudah memahami materinya. Dengan kemeja biru tua, dan jaket joklat kak Imran terlihat dewasa. Entahlah, kebodohan apalagi yang terjadi padaku?.. semoga ini hanya benar-benar perasaan kagum semata, tak lebih.
Komunikasi ku dengan Kak Imran semakin rutin, memberiku banyak pengetahuan baru, berbagi pengalaman selama ia menjadi jurnalis biasa, dan obrolan mengenai hoby masing-masing pun semakin nyambung. Kak imran yang senang dengan film action, music instrumental, koleksi novel, dan penyanyi idola pun hampir sama denganku.
Empat bulan saling mengenal satu sama lain, bukan waktu yang singkat menurutku. Hingga hari itu tiba, hari dimana setiap wanita ingin merasakanya, hari dimana wanita merasa di hargai dan senang.
“dek bisa ki’ ketemuan di mesjid Ar-ra’uf yang di AP. Petarani besok?”
Pesan singkat yang ku dapat dari kak imran, perasaanku sepertinya di liputi rasa senang dan sekaligus penasaran. Senang karna dapat bertemu dengan sosok yang ku kagumi dan penasaran kenapa harus di mesjid Ar-ra’uf tempat pertama kali kita bertemu.
“dek’ airin””. Kak Imran memulai percakapan.
“saya bukan laki-laki yang sempurna, namun saya selalu mencoba untuk menjadi yang terbaik bagimu.. saya bukan pria idaman setiap wanita, tapi saya selalu belajar untuk bisa menjadi imam yang baik di mata mu, ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti, pantaskah saya untuk memintamu untuk menjadi pendamping hidupku, menemani sisa hidupku, menjadi pelengkap dari tulang rusukku yang hilang?? aku ingin membangun keluarga bahagia dunia akhiratku bersama mu”…
Kata-kata yang kudengar membuatku terhanyut dan bahagia. namun, jauh di lubuk hatiku masih ada keraguan dan rasa belum siap untuk membina rumah tangga, ingin ku ungkapkan kegundahanku, keraguanku namun tak kuasa ku menyakiti keseriusan kak imaran. Namun jika ku bohongi perasaan ini, akankah kami bahagia bersama saat di satu pihak belum merasa siap dan yakin dengan pilihannya. Bukanku bermaksud tak mensyukuri nikmat tuhan dan terkesan pilih-pilih dalam urusan jodoh, namun ku belum yakin dengan kak imran yang menjadi pendamping untukku yang di kirimkan Allah.. salahkah dengan perasaan ini?? Yaaa Allah, ku mohon petunjukMu agar aku terhindar dalam golongan manusia yang tak pernah bersyukur dengan nikmat yang kau berikan..”
keluh bibir ini untuk mengeluarkan kata-kata yang pantas ku ucapkan kepada kak imran. kumulai dengan ucapan maaf, “maaf kak, tak pantas bagiku untuk menjawab pertanyaan mu tanpa harus ku mulai bertanya kepada Allah, memohon petunjuk darinya, memohon keridhoan dan ketetapan hati dariNya”.. jawabku dengan tenang.
“iyya dek’ saya paham maksud ta’, kita shalat istikhara mi dulu, jika yang terbaik itu akan segera di tunjukkan secara jelas oleh Allah”..
Tiga hari ku laksanakan shalat istikhara memohon petunjuk darinya, dalam doa kusebut nama kak Imran, berharap ada petunjuk dari Allah.. namun suatu malam aku bermimpi, dalam mimpi itu kulihat wajah kak Imran dalam sebuah lukisan nan indah, namun kulihat ada seorang wanita yang membawa lukisan itu pergi jauh, tanpa ada sepatah katapun yang ia ucap. Kulihat wanita  itu semakin jauh pergi, hilang tanpa jejak dengan membawa lukisan kak Imran, lukisan wajah kak Imran dengan senyum kebahagiaan”.
Tidurku terbangunkan dengan suara adzan shubuh dari rumah-rumah Allah.. dalam sadarku terucap doa “ yaa Allah, inikah petunjuk dari mu??  Jalan hidup dariMu adalah yang terbaik bagiku”..
Hari-hari ku lalui tanpa pernah bertemu dengan kak Imran, tak ada komunikasi, dan belum ku sampaikan jawaban dari shalat istikhara ku semalam yang lalu. Hari itu mengapa sepulang dari kampus, aku merasa ingin shalat ashar di mesjid Ar-Rau’uf. Mesjid yang mempertemukan ku dengan kak imran secara tak sengaja. Ku sebut dia dalam doaku, semoga dia di pertemukan dengan jodoh yang terbaik untukknya, untukku dan masa depan kami masing-masing.
Saat di ujung pintu keluar mesjid, tanpa sengaja kami bertemu, saling memandang dengan perasaan berkecamuk. Aku yang merasa tak enak hati, mungkin kak imran dengan perasaan penuh harap dengan keputusanku.
“kak,” ku mulai percakapan itu, yang sebelumnya di awali dengan diam satu-sama lain.
“maaf kak, dalam shalat istikharaku, namamu ku sebut, doaku dengan mengikut sertakan namamu. Ku mohon kepada Allah agar memberiku petunjuk.” dengan rasa syukurku Allah memberiku jawaban dengan kemaha KasihNya.” Ku ceritakan mimpi yang kulihat setelah melaksanakan shalat istikhara. Dan ku katakan pada kak Imran, kalau saya tidak bisa menerima pinangannya, ada wanita lain yang menanti kesetian dan cinta darimu kak, dan itu bukan aku. Kakak bukan pria dalam doaku, Allah tak mengizinkan kita bersama.” Air mata tak terbendung, linangan air mata ini menjadi penegas bahwa di mesjid Ar-ra’uf (MahaKasih) kita bertemu dengan keMaha kasihNya, dan memisahkan kita dengan keMaha kasihNya yang tiada tara.. sebab manusia saling mencintai dan saling menyayangi karna keMaha KasiMu (Ar-ra’uf) yaa rabb, tuhan semesta Alam.
                 Musdalifah, 05-03-2014
     Galesong Utara, kerinduan dan cerita KKN ku.











  

Senin, 17 Februari 2014

kesempatan kedua

bila khilaf yang tertoreh..
izinkan maaf mengiringi...
bila salah tak terhindari..
tak ada kah kesempatan lagi ???
ku paksa kau mengerti keadaan yang kau tak bisa mengerti..
namun akhirnya, kesalahan yang terjadi...
kau meminta ku untuk memahami kondisi mu.
lalu, yang mencoba melihat beban ku tak ada seorng pun..
izinkan maaf itu ku ucapkan kembali..
sekalipun luka itu sudah tergores dalam...

Kamis, 12 September 2013

karna cinta tak harus saling memiliki


Aku mahasiswa baru di salah satu universitas Islam negeri di Makassar, mahasiswa baru seperti aku yg hanya berasal dari kampung dan harus bertahan hidup di kota metropolitan seperti di Makassar memang bukan hal yang mudah. Ada banyak hal yang harus di jaga dan tingkah laku orang kota yg sangat berbeda jauh dengan aku yg berasal dari desa kecil. Sebisa mungkin tujuan ku untuk ke Makassar adalah menuntut ilmu mendapat gelar sarjana secepatnya dan membanggakan orang tua ku di kampung.
“Hai siapa nama ta’. Tanya seorang perempuan dengan tubuh yang sedikit berisi.
“Saya herni.. kita?? Tanyaku kembali.
“Nama saya hikma,, kalau boleh tau ambil jurusan apaki’” ?? sambil tersenyum hangat.
“Ambil jurasan manajemen pendidikan islam fakultas tarbiyah dan keguruan”. Jawab ku dengan lengkap. Suasana saat itu terbagun mulai akrab antara kami berdua.
“Oooo sama ki kalau begitu,, saya juga ambil jurusan MPI.” Kali ini ia dengan senyum yang sangat riang, mungkin di benaknya, ia senang karna telah menemukan teman yang akan menjadi teman sekelasnya nanti pada saat penerimaan mahasiswa berlangsung.
“Oh yaa.. dari mana asal ta’?? pertanyaan yang sedikit menyelidiki.
“Saya asli soppeng, kalau kita”?? Tanya ku balik. Sepertinya dia tipe cewek yg banyak ingin tau.
“Asli orang sini ji. Jawabnya singkat.”
Sejak perkenalan kami berdua di kampus hijau ini, kami menjadi semakin akrab dan setiap jalan kemana kami berdua selalu bersama. Dan pengumuman penempatan kelas pun sudah di tentukan aku dan hikma juga di dalam kelas yang sama.
“Ahh.. kuliah perdananya kurang menyenagkan, senior-senior yang masuk ke kelas hanya datang buat kekacauan”. Keluh si hikma yang sudah Nampak kelelahan,! mengikuti kuliah dari pagi sampai pukul 2 siang, dengan cuaca yg sangat terik memang membuat orang merasa selalu ingin cepat2 pulang kerumah dan beristirahat.
“Eh, herni tinggal kost ki? Tanya nya mengagetkan ku..
“Iya, kenapa?? Mauki ke kost jalan-jalan?? Jawabku sambil memegang pundaknya..
“Tidak ji, nanti insya Allah lain waktu. Ada ku dengar asrama khusus orang soppeng, organisasi daerah (organda) yang punya, katanya tinggal di sana gratis uang kamarnya hanya bayar uang listrik saja”. Kata si hikma dengan penuh antusias.
“Emm,, enda ji dulu deh, nanti mungkin semester atas pi’, soalnya di kost ada juga teman ku 2 orang yang satu kampung dengan ku, kalau saya sendiri yang pindah tidak enak sama yang lainnya”.
“Oohh.. dari kita ji’..
Perbincangan kami berakhir setelah kami berdua telah selesai mengikuti program PIKIH. PIKIH seperti kuliah tambahan di luar kelas yang mengajarkan bahasa inggris, bahasa arab, dan ilmu retorika. Katanya program belajar ini yang menjadi unggulan si kampus hijau..
            Hari demi hari kami lewati bersama, aku dan hikma sudah sangat akrab dibandingkan teman sekelas yang lain, namun kali ini satu teman kami lagi bertambah, namanya ariska, dia sedikit berbeda penampilan dengan kami berdua, Ariska berkudung panjang menutup full badan bagian depan dengan kerudung panjang sampai ke lengan. Hal ini juga di dukung dengan bakat yang dia miliki, dia seorang penghafal Qur’an dan sudah sering mengikuti lomba tahfidz Qur’an.
            Seperti hari biasanya, aku berangkat dan pulang dari kampus dengan menggunakan mobil angkutan umum ( pete-pete) . tidak seperti kedua kawanku hikma dan riska yang memiliki kendaraan sendiri, namun apapun itu saya sudah sangat bersyukur.
            “Assalamu alaikum’..!!
            “Waalaikum salam. jawab salah satu teman sekamar ku yang hari ini sedang tak  ada aktivitas kuliah di jurusannya. Namanya evi dia ambil jurusan social kemasyarakatan di fakultas dakwa dan komunikasi. Jurusan yang masuk daftar pilihan jurusan di formulir pendaftran mahasiswa ku dulu, namun tuhan menghendaki aku untuk berada di jurusan ku sekarang ini..
“Enda ke kampus ki”?? Tanyaku ke evi yang sedang kedatangan tamu pria.
“Kosong kuliah ku ini hari”. Jawab evi yang sedang sibuk membawa segelas minum untuk tamu prianya itu.
“Orang soppeng juga ini Evi?? Kata pria itu yang sedang memandang ke arahku.
“Iye’ kak ambil jurusan Mpi di tarbiyah”. Jawab singkat si evi.
Aku yang di pandang dengan pria itu hanya bisa tersipu malu, dan aku melangkahkan kaki kedalam tanpa ada sepata kata pun yang terucap.
Ada hal yang aneh sedikit mengganjal di hatiku, wajah manis dengan badan yang tinggi kurus itu selalu terbayang di benakku. Entahlah perasaan seperti apa yang ku hadapi sekarang.
            Rutinitas dikampus semakin padat, tugas kuliah yang menumpuk dan membutuhkan referensi yang banyak. Aku dan kedua kawan ku sering mengerjakan tugas bersama dan ada hal-hal yang selalu kita bagi bersama entah itu peristiwa yang menyenangkan ataupun kurang menyenangkan.
            Dan tak terasa sudah setahun berjalan. Semester 3 itu berarti akan ada banyak kisah baru dan pengetahuan baru yang akan kami dapat. Candaan yang sering terjadi di kelas sudah merupakan hal yang sangat menyenagkan bagi ku, terlebih si hikma, teman ku yang satu ini memang sudah terlahir dengan pribadi yang cerewat, banyak lelucon yang sering ia lakukan, dan itu membantu menghilangkan penat kami setelah seharian berkutat dengan pelajaran, diskusi dan tugas-tugas kuliah lainnya.
            Aku beruntung menjadi bagian dari teman-teman ku saat ini, walaupun kata orang jurusan kami saat ini bukan jurusan yang menjamin masa depan kami pada saat mencari pekerjaan nantinya setelah lulus. bukan itu yang menjadi urusanku, aku hanya perlu belajar dan mempersiapkan diri, masalah pekerjaan itu sudah menjadi tanggung jawab tuhan kepada makhluknya yang senantiasa selalu berusaha tanpa harus memandang keunggulan jurusan.
            “Hai herni..!! seorang menyapaku saat aku berjalan hendak menuju masjid. Kedua temanku sedang kompak berhalangan. Aku berbalik dan mencari sumber suara yang sudah tak asing lagi ku dengar.
            Ternyata suara itu berasal dari pria berwajah manis dan tubuh yang sedikit agak kurus.
            “Eh, kakak temanya evi”.. jawabku sedikit agak grogi.
            Heheh… masa di panggil ka temannya evi,, kayak tidak ada nama ku kasian. Katanya sambil tersenyum hangat.
            “Eh,, maaf kakak” !! aku sambil menundukkan kepala.
            “Panggil mka saja Imran”..
            “em,, iye kak.. jawab ku yang malu sendiri.
            “Masih ada kuliah ta” kah?
            “Iye kak jam 1”.!!
            “oo.. pergi mki pale shalat dulu, ku halangi mki ini.” !! katanya mengingatkan.
            “Duluan ka pale die’ mauka ke fakultas’.!! katanya berpamitan.
Sekali lagi, pertemuan yang singkat ini memancing timbulnya perasaan yang sekali lagi sangat aneh ku rasakan , perasaan macam apa yang sedang terjadi pada ku saat ini..
Ah,, ku bergegas melaksanakan kewajibanku untuk menemui sang penciptaku, mungkin ia akan memberi penjelasan tentang perasaan ku saat ini..
            “Herni…. Bunyi ki hape ta’ ada panggilan dari kak agus.” Teriak evi teman sekamar ku.
            “Iyaa.. tunggu.. !!
            “Halo assalamu alaikum kak.” Jawabku masih dengan mukenah yang ku kenakan sehabis shalat isya..
            “Herni ke rumah ki jalan-jalan na cari ki mama. Katanya suruh datang ke rumah masa tantenya sendiri tidak pernah na kunjingi”.. kata pria itu di telepon genggamku.
            “Maaf kak belum sempat ka’ sibuk-sibuknya kuliah ku bela’.. salam ku sama tante haji, minta maafka. insya Allah lusa ke rumahta ka tapi mauka di jemput itu” hehe.. kata ku dengan bergurau.
            “Jangankan di jemput, antar pulang kerumah, bahkan keliling Makassar ku temani ki adik sepupu tersayang”. Jawab pria itu dengan akrab.
            “Sudah dulu nag, maaf mengganggu heheh”.. assalamu alaikum..”
Senang rasanya masih ada kakak sepupu yang perhatian, tinggal di Makassar sangat kesepian untung ada kak agus. Sepupuh dari keturunan keluarga ayah itu juga kuliah di jurusan yang sama dengan kak Imran, pria manis yang selalu membuat ku salah tingkah saat di depannya.
            Hari demi hari, intensitas ketemuan ku dengan kak Imran dan kakak sepupu ku agus semakin sering, ini disebabkan aku ikut gabung organisasi pergerakan mahasiswa islam indonesa(PMII). Aku semakin mengagumi kak Imran, selain wajah yang manis dia juga aktivis yang tak mengecewakan di dalam urusan akademisinya, tak seperti mahasiswa aktivis lain yang ku kenal. Hal ini yang semakin membuat ku kagum dengannya, dan sepertinya komunikasi yang sering terjalin dan bertemu seiring waktu membuat perasaan kagum ku padanya berubah pada perasaan cinta. Aku mulai suka sifatnya yang ramah dan baik, hingga sedikit pun tak ingin melewatkan waktu bersamanya. Kegiatan di PMII hanya menjadi alasan buatku untuk bisa bertemu dengannya.!!
            Sms, telepon dan chatting sudah kebiasaan yang selalu ku lakukan dengan kak Imran, dia membuatku merasa nyaman ketika masalah kuliah, pribadi dan hal-hal lainnya ku curahkan padanya. Ada perasaan lega yang kurasa saat beban di pundakku sudah ku utarakan kepadanya, ia seperti kakak sekaligus teman buat ku.
            “Herni ada kegiatannya PMII besok malam di tanjung mau ikut ??” Kata evi yang juga anggota PMII..
            “Mauka ikut kalau ikut ki juga”.. jawabku singkat.
            “Iyaa mauka, ada ji juga kak Imran dengan kak agus ikut”..
Mendengar nama orang pertama yang di sebut Evi membuatku semakin antusias mengikuti kegiatan PMII ini, sekali lagi tak dapat ku ingkari kalau kegiatan PMII hanya sarana dan alasan yang ku gunakan agar bisa selalu melihat dan bertemu dengan kak Imran.
            “ herni ikut ki kegiatannya PMII besok di tanjung nag’ nanti saya jemput ki di kos ta’ .. by agus.”
Sms dari kakak sepupu ku itu, membuatku putus harapan, bukan ajakan kakak sepupu ku itu yang ku tunggu tapi aku berharap kak Imran yang mengirim pesan singgkat itu untuk ku..
Tepat pukul 05.35 kak agus menjemputku di kos-an. Aku benar-benar berangkat dengannya. Kakak sepupu yang kurasa juga sangat perhatian yang berlebihan kepada ku..
            Tanjung bayam yang menjadi tempat pilihan kegiatan PMII kali ini.. kak Imran belum menampakkan batang hidungnya, wajah manis yang sedari tadi ku nantikan belum juga datang. Mungkin dia datang malam nanti pas acaranya sudah berlangsung. Kataku dalam hati seolah ingin menepis kekhawatiran dan kerinduanku.
            Rangkaian demi rangkaian kegiatan PMII sudah terlaksana, dan kak Imran sudah datang, ia asyik berbincang dengan teman-temannya. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan, senyum khasnya masih tetap sama waktu pertama kali aku betertemu dengannya..
            “Herni ayo ke pantai ki jalan-jalan eh’”.. kata evi membuyarkan lamunan ku..
            “Ayo mi !!” kami bergegas melangkah menuju pantai tempat di mana muda-mudi sedang asyik bersantai gurau, ada yang main music, ada yang befoto, ada yang sedang pacaran dan aku hanya duduk di bangku kayu sambil menatap langit luas di malam hari..
            “Heyy.. kenapa menghayal??” sapaan Suara yang sejak tadi sudah ku nantikan..
            “”Eh kak Imran kaget ku deh” ..!! jawabku malu.
            Banyak hal yang kami perbincangkan malam itu, hingga membawa pada pembicaraan yang cukup serius masalah tentang kami berdua.. aku dan kak Imran.
            “Emmm… herny” katanya membuka pembahasan baru.
            “Ada yang mau ku sampaikan sama kita, jangan ki marah nag.. mau jka saja kasih tau ki, biar saya juga merasa lega dengan perasaan ku sendiri”..
            “Kenapa ki kak?” Tanya ku penuh rasa penasaran..
            “pertama kali ku lihat ki di kost ta’ dan saat ku tau kalau adik sepupunya ki agus yang tak lain sahabat ku di kampus. Sepertinya perasaan ini bukan sebatas adik kakak atau teman biasa. “Ku suka ki’ dan entah kapan mulainya perasaan ini muncul.” Kata nya dengan wajah menunduk penuh rasa malu..
Aku yang mendengar kata itu,, sepertinya menjawab semua keraguan, rasa gelisa dan harapan ku selama ini.. aku sepertinya di buat tak berdaya dengan pengakuan yang ia ucapkan..
            “Sebenarnya, saya mungkin sudah jauh lebih dulu suka ki’kak.. alasan ku ikut gabung di PMII itu jadi alasan nomor dua, sebab alasan utama ku hanya ingin melihat dan bertemu dengan kita.. sepertinya ada perasaan yang berbeda yang kurasa saat di dekat ta’.. perasaan wanita yang juga menyukai seorang pria”.. kataku dengan rasa grogi.
Ia menatapku.. ada gurat kesedihan di matanya,, entah apa yang ada di benakknya.. ada sesuatu yang mengganjal di wajahnya..
            “Tapi ada orang yang jauh lebih pantas dekat dan sayang sama kita’ herni.. saya tidak mau menyakiti perasaan orang itu,, saya hanya ingin mengungkapkan perasaan ku agar kita tau dan tidak lagi membebani pikiran ku.. cukup hanya ingin ku utarakan bahkan tak ada harapan untuk mendapat balasan perasaan yang sama dari mu”..
            “Orang itu yang pantas bersama mu,, dan saya berharap belajar ki’ untuk suka sama itu orang dan hapuskan bayang-bayang ku di dalam pikiran ta’ bahkan kalau saya harus pergi jauh untuk menghindar dari mu, sebagai bentuk pengorbanan untuk sahabat ku itu akan aku lakukan.. agar sahabatku bisa bersama mu. Minta maaf kalau yang ku katakan hanya melukai persaan mu.. “Kita saling menyukai bukan berarti harus saling memiliki.. cinta tak selamanya mengharap balasan agar bisa saling memiliki” saya tidak mau ada yang tersakiti dengan perasaan ku ini, terlebih jika itu adalah sahabat ku sendiri..”
ia pergi meninggalkan ku sendiri di kursi kayu yang rapuh ini, di selimuti dinginnya angina malam,, tak dapat ku bendung lagi air mata ku jatuh membasahi pipi, hatiku terguncang, ingin ku berlari sejauh mungkin dan menghempaskan perasaan ini , perasaan yang semakin menyesakkan dada..
            malam itu menjadi malam yang sangat pahit untukku.. kawan yang menjadi teman curhatku hanya bisa menyuruhku bersabar, dalam kondisi seperti ini aku masih mempunyai teman yang sangat perhatian dan mengerti perasaan ku,, bahkan ketika aku mulai merasa kesepian dan tak memiliki siapa-siapa..
            ku coba untuk melupakan kejadian kemarin malam itu,, ku susuri lorong demi lorong, langkah kaki yang semakin berat kurasa , berharap agar bisa sampai dengan cepat ke kos-an tempat di mana aku bernaung dari panasnya siang dan dinginnya malam.. teringat perkataan kak Imran “ ada orang yang suka ki’ dan jauh lebih pantas berada di dekat ta’ . sahabat yang tak ingin ku sakiti hanya karna perasaan ku ini”..
aku masih bertanya-tanya siapa orang itu?? Yang menyukai ku bahkan membuat kak Imran mengalah mengorbankan perasaannya hanya karna tak ingin menyakiti perasaan orang itu yang ia anggap sahabat??!! Seribu satu tanda Tanya melayang-layang di pikiranku.. ah,, entahlah.. biarkan waktu yang menjawab siapa dia..
            “hey,, herny naik mi sini ku antar pulang ke kost mu”.. suara pria itu menghentikan langkah ku..suara pria yang tak lain adalah kakak sepupu ku sendiri..
            “eh,, kak agus.. kebetulan sudah capek mka jalan mana lagi panas sekali.. hehe datang ki’ di waktu yang tepat kak”.. kataku menghangat kan suasana. Segera aku naik diatas kendaraan roda duanya berwarna biru hitam itu..
            “herny.. mauka bilang sesuatu tapi bukan sebagai kakak sepupu kepada adik sepupunya,, tapi ini perasaan yang di miliki oleh seorang pria kepada wanita yang di sukainya dan sudah lama di pendam..
            “ku suka ki de’.. ini mungkin hal yang terlalu cepat dan membuat mu kaget, tapi hal ini harus ku utarakan sebelum semuanya terlambat” maaf kalau ini kurang berkenan di hati mu..”
Semua sudah terjawab!, kak Imran mengorbankan perasaannya hanya untuk sahabatnya yang tak lain adalah kakak sepupu ku sendiri. Yaa kakak agus orangnya.. hal ini membuat ku semakin bingung, kepala ku serasa ingin pecah aku ingin berlari sejauh mugkin dari kenyataan ini. Aku menyukai kak Imran tapi ia lebih mempertahankan persahabatannya dengan kak agus dan sudah menjadi keharusan untukku untuk tetap menjaga hubungan persahabatan yang sudah terjalin sangat baik ini antara kak Imran dan kak agus, dan aku tak ingin menghancurkan itu..
            Jalan keluar yang sangat baik dalam situasi seperti ini, dengan tidak saling memiliki, satu sama lain.. persahabatan jauh lebih baik di banding harus mempertahankan keegoisan ku agar bisa bersama dengan kak Imran. Jangan ada yang tersakiti dalam masalah ini. aku mundur mengharap balasan perasaan dari kak Imran , dan kak agus akan jauh lebih baik jika ia cukup menjadi kakak sepupu ku..
Sebab sejatinya,, “CINTA TAK HARUS SALING MEMILIKI.”… :’(