Pengikut

Rabu, 21 Mei 2014

sajak kala KKN



                                                                                Sajak Pseudo Kehidupan

Meja bundar telah penuh
Berisi lingkaran orang yang berhimpitan
Satu kursi untuk satu pantat
Satu meja untuk semua siku.
Sebagian saling menatap
Selebihnya tak ada makna yang menetap.
Padahal semuanya saling menghadap dan mendekap.

Aku, melihatmu ragu-ragu termangu.
Dengan ponsel-gadget
Kawan di sampingmu sendiri asyik menjamu,
Entah siapa yang menjadi tamu.
juga kawan di kiri-kananku
mereka terbahak menghadap dunia yang semu.

Syahdan, semua sibuk menguntit keanehan ini.
Serentak tombol berhala kecil dikotak-katik
Semuanya lupa diri dalam kebersamaan
Masing-masing diri usah menarik diri,
Dari kenyataan menuju kemayaan.
sukmanya mengembara dalam jejaring sosial.
berkelana memasuki akun-akun twiter,
mengomentari status-status facebook,
dan mengukir kata di dinding kepalsuan.
hingga sukmanya terpelanting dalam tawa dan sedih yang tak keruan.

Oh kawan….
Apalah artinya bahasa dan kehidupan
Bila pertemuan sesak tanpa ungkapan,
Apalah artinya bersua dalam kebersamaan
Bila tatapan memandang tanpa senyuman.
Bahasa dan air muka hanyalah onggokan basa-basi,
Bahasa dan air muka tak lagi mewakili isi hati.
Kini ia hanya sesumbar suara dan rupa
Menyelusup lewat cela-cela euphoria dunia mereka.

Tetapi, Aku-kamu tetap seperti dulu,
Yang yakin bahwa pertemuan ini adalah kenyataan,
Dan pertemuan mereka adalah khayalan.
Ya! Inilah tandas Baudrillard sebagai hyperreality.
Khayalan telah sepadan dengan kenyataan
Menjadi medan magnet yang menarik ke dalam pseudo kehidupan.
Muhammad Aam D.
Pegiat Sanggar Ra’jat Kepanasan
Makassar, 3 Mei 2014.

malam... tahukah kau??



Malam… tahu kah kau, hari ini seorang gadis telah di sambut dengan jepretan kamera mewah…
Kanan-kiri tengok gadis itu, di sekililingnya terlihat mereka yang berdasi, berjas dgn wajah tampan, dan meraka dengan highheels-nya tampil dengan anggun bak cinderella dengan dayang-dayang yg setia mendampingi…
Malam … tahu kah kau, semua menatap dengan tajam, entah kepada siapa tatapan itu di tujukan. “hei,, lihat siapa dia dengan pakaian biru lusuh, jeans hitam kusam dan sendal coklat karna lumpur yang melekat” … seolah tatapan yang mengisyaratkan sindiran itu..
Malam … tahu kah kau, gadis itu pulang dengan perasaan “apa yg salah dengan penampilanku seperti ini?” ku tundukkan kepala, layaknya tersangka korupsi dalam layar kaca, karna MALU? Jelas IYA terus dengan alasan apa lagi..
Malam … gadis itu sampai di depan pintu rumah yang sederhana, di sambut dengan senyum wanita paruh baya yang nampak lelah seharian, kaki yang lemah dan kaku lantaran kelamaan menginjak mesin jahit yang menghasilkan pakaian layaknya selebriti dalam majalah terkenal… “kau sudah pulang nak?” Tanyanya pada gadis itu..
Malam … tahu kah kau, terjadi percakapan singkat antara gadis dengan wanita paruh baya itu..
Malam.. tahukah kau, apa yg mereka perbincangkan?? “kapan pakaian ku bisa semewah orang-orang tadi? Kapan dan bagaimana agar ku dapat menegakkan kepala tanpa ada rasa malu dan minder saat tatapan tajam orang-orang yang tadi terulang lagi?...
Malam … tahukah kau,, wanita paruh baya itu menjawab dengan sejuk layaknya embun di pagi hari, kata-kata yang terangkai dalam bentuk DOA… dari bibir kering tanpa warna yg menghiasi itu, keluar sebuah petuah “Nak, kain mewah yang menutupi tubuh tak menjadi jaminan kesuksesan seseorang, bukankah untuk sampai ke atas harus di mulai dengan satu pijakan yang paling bawah terlebih dulu?,, kelak kau akan menjadi seperti apa yang kau impikan, namun pastikan hal itu terwujud karna usaha dan kerja keras mu sendiri..”
Malam … tahu kah kau,,, kini gadis itu bertekad untuk menggapai bintang, takkan berpaling hanya karna satu batu sandungan kecil yang menghalangi..
Malam … tahu kah kau? Bahkan kini gadis itu hendak menjadi PUTIH, menjadi diri-nya sendiri tanpa harus menjadikan orang lain sebagai tolak ukurnya dalam menggapai bintang …
                                                                                                            Makassar 20-mei-2014
                                                                                                            Pukul 01:11
                                                                                                            Kamar tidur yang sederhana


Jumat, 02 Mei 2014

KKN UIN Alauddin angk. 49 , kecamatan galesong utara,



SAJAK WAKTU TANGGAL SATU
                                                Oleh: Muhammad Aam Darmawan.
                                                                     Korcam Galeseong Utara

Kami telah pulang
Meninggalkan seribu cerita
Pagi itu puluhan orang telah datang
kepada kami mereka bergumam cita.

Berjubel setengah tegak dan bungkuk sebagian
baya, muda, dan bocah bersua dalam kegalauan.
Ada berselimut sarung
Sempat senyum lalu kembali murung
Ada tanpa baju
menjabatiku lalu nangis melulu.
Ternyata mereka sedih
Tak ada lagi senyuman murah
Dan wajah baru yang ramah.

Dua bulan kami tinggal bersama
Makan bersama, Cerita bersama, Tidur bersama, dan kerja bersama, oh ya sesekali lapar bersama.
Dengan tuan rumah dan tetangga,
Yang balita hingga dewasa, tua-muda hingga janda
Hidup kami riang ceria
Saban bertemu saling menyapa
Saban hari selalu bersahaja. 
Awal rasa nelangsa
Tergusur ungkapan canda
Memekik dalam ruang tamu, ranjang, meja makan, balla’-balla’
Semuanya, menggema dalam luapan tawa.
Sayangnya berakhir dengan linangan air mata.

Gelinding air mata berkata:
Hati-hati, terima kasih, jangan lupa kenangan kita.
Air mata, keringat, bau mulut, rasa haru dan kenangan
Menyatu dalam diri dan kenyataan
Dalam bayangan ia menjadi hamparan tanah
Lalu menjelma menjadi sawah
Menyuara dalam gemricik saluran irigasi
mengilau bak sinar kemuning padi di sore hari,
dan menyebar kesejahteraan bagi keluarga para petani.

Tapi malang, nasib negeriku tak seindah tulisku
Serupa kampung parang, tak ada perubahan setelah kepergianku.
Tak beruntung mereka menangisi,
Apalagi mencintai,
Sebab kami, hanya memberi janji
dan kebohongan yang tersembunyi:
Tentang Posdaya dan Peradaban.
Maaf  kawan, Kami telah mengibuli.
Makassar, 2 Mei 2014.

Jumat, 07 Maret 2014

Bertemu dan Berpisah atas IzinMu yaa Ar-Ra'uf



“kring… kring…. Kring’’…. Seperti biasa setiap harinya pukul 4:25 jam weker itu selalu membangunkan di setiap pagi ku…
“allahu akbar’”… “alhamdulillahi lazie ahyana ba’da maa amatan wailaihin nuzurr”, terima kasih yaa Allah, krn kau telah menghidupkan ku setalah mati kecilku”…
Hari ini, rabu 25-5-2014.. ada banyak kegiatan yang harus ku kerjakan, sebagai seorang mahasisiwi, yang juga aktif dalam forum jurnalisme kampus.. profesi yang ku gemari dari dulu dan kini menjadi kesibukan rutin ku. Ada banyak pengalaman yang ku dapat dan berbagai macam karakter manusia telah ku temui dalam profesi ini, dan terkadang nyawa dan waktu extra yang menjadi tanggungannya.
Hari ini ada kegiatan kampus yang harus ku liput, mengenai kedatangan ketua KPK ke kampus UIN makassar membawakan kuliah umum kepada mahasiswa dalam rangka mencegah bahaya laten korupsi sejak dini. Kurang lebih 3 jam ketua KPK  Dr. abraham samad.,S.H,M.H membawakan materi pemberantasan korupsi di depan mahasiswa, gema suara mahasiswa dan tepukan riuh kekaguman mahasiswa terhadap keberanian dan ketegasan ketua KPK dalam memberantas korupsi, petuah-petuah dan motivasi yang diberikan menambah kekaguman mahasiswa kepada putra daeng itu yang telah mengharumkan nama anak makassar. “saya berjanji untuk terus mengabdikan diri dan tenaga saya untuk negara dalam menangkap dan membongkar kasus korupsi skala besar di indonesia yang telah kejam membunuh secara perlahan rakyat indonesia, saya mohon bantuan kepada adik-adik mahasiswa untuk sama-sama mencegah bahaya korupsi yang senang tiasa berada dekat di sekelilng kita, mulailah dari hal yang kecil” tungkas abraham samad. “ sama seperti yang diajarkan baginda Rasulullah Saw bahwa ketika anaknya fatimah Azzahra mencuri maka nabi sendiri yang akan memotong tangan putrinya, maka suatu keharusan bagi sayapun bila sanak keluarga, sahabat saya yg terlibat kasus korupsi maka saya sendiri yang akan memberantasnya” tambah abraham samad dengan suara yang lantang dan tegas hingga membuat gemuru tepuk tangan mahasiswa semakin riuh.
Secara pribadi, saya mengikuti perjalanan sosok abraham samad saat mencalonkan jadi ketua KPK, dalam benak ku, sosok pemberani ini benarkah dari makassar? Mengapa terobesis sekali ingin menduduki jabatan di KPK? Melihat gaya bicara dan ketenagannya dalam menjawab pertanya dari berbagai media, saya mulai yakin bahwa harapan untuk memperbaiki bangsa ini yang sudah akut dipenuhi para perampok akan dimulai dari sosok yang bernama Abraham samad, perawakan tinggi kurus, berkulit hitam dengan janggut tipis yang mencerminkan sikap arogansinya dalam menuntas kebohongan, penggelapan dana dan berbagai kebusukan lainnya yang telah menempel di kalangan pejabat negara  di tanah air ku indonesia.
Dengan waktu yang singkat berita ini harus diterbitkan besok, dalam cakupan kampus bila informasi di ulur-ulur untuk mempublikasikannya akan terasa basi dan sudah tak diminati lagi di kalangan mahasiswa.
“airin kau yang susun ini materi kuliah umumnya pak abraham samad pagi tadi, edit dengan baik dan publikasikan besok di majalah kampus, biar saya yang publikasikan lewat website kampus. Kata kak agus. dia senior ku dalam forum jurnalis kampus ini, sebagai yunior apa lagi yang harus di jawab selain mengiyakan.
“iyee kak, insya Allah siap diterbitkan besok” jawabku dengan pasti.
“emmm…padahal lebih enak dan mudah kalau mempublikasikan lewat website di banding majalah kampus” gerutuku dalam hati.
Saat ku katakan saya “siap” maka saya sudah siap menjalankan tanggung jawab ini tanpah harus disesali. Kualitas seseorang di uji dengan kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan, itu prinsipku.
Akhirnya selesai, setelah menghabiskan waktu di depan monitor kurang lebih 5 jam akhirnya rampung dan siap di cetak,. Soal cetak mencetak itu bukan kapasitasku dan ku serahkan ke Adnan yang memang ahli dalam cetak mencetak.
“cetak mi’ ini sudah saya edit, kalau ada yang kurang atau salah kita mi yang perbaiki nagh?!! Pintaku ke Adnan. Adnan teman seperjuangan ku, sama-sama dari nol saat mulai gabung ke komunitas ini, dia juga partner yang baik menurutku.
“ok.. bos siiip”..
“Mau mko pulangkah??” tanya Adnan.
“iyya deh, sore mi bela mana lagi belum peka sholat Ashar”. Jawabku sambil menggerakkan badan ke kiri dan ke kanan hingga terdengar suara geretak tulang yang sudah kaku, dengan rasa lelah yang semakin berat kurasa.
“oo.. iya pale pulang mi cepat”
Kupacu motor bebek hijau ku, berharap bisa shalat ashar di rumah saja. Badan yang sudah terasa lengket dan berkeringat ingin cepat-cepat ku bersihakan lalu kemudian shalat Ashar dengan perasaan yang segar.
Saat harapan tak sesuai dengan keadaan yang terjadi, melintasi  jalan AP. Pettarani sangat mustahil bila sore hari tidak  di temukan yang namanya “macet”. Kendaraan lumpuh total, jam segini memang jam pulang kerja, berakhirnya segala aktivitas dari semua kalangan.
Kulihat jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 16:28 ..“aisssh,,,, kalau begini terus bisa-bisa habis waktu ashar hanya di jalan saja..”
Ku tengok pemandangan di sekelilingku, terlihat rumah Allah berwarna hijau yang menarik perhatian ku, dengan dikelilingi lampu hiasa sederhana, bertuliskan nama Nan indah,     “ Al- Ra’uf (maha Kasih)”, sungguh maha kasihMu tuhan Semesta Alam. Rumah-Mu yang senang tiasa memberi rasa aman, kepada siapa saja yang menginjakkan kaki di rumah yang suci ini, para musafir yang menjadikan tempat istirahat yang sungguh tiada tara memberi keteduhan dalam naugan keMaha kasih-Mu ya rabb.
Ku arahkan motor bebek hijau ku ke pekarangan masjid itu, menunaikan kewajibanku dan ingin ku haturkan rasa syukur atas ni’matMu yang tak henti-hentinya engkau limpahkan kepada ku. izinkan ku sejenak melepas penat dan lelahku di rumahMu yaaa… tuhan !!, berharap ada kekuatan jiwa raga dan keteguhan hati dalam menelusuri jejak keridhoanMu, ketegaran melewati rintangan dan ujian bagi para penuntut ilmu, fakir pengetahuan seperti hambaMu ini.
Basuhan air, menyegarkan hati dan pikiran ini, menyadarkan hamba dengan kalamMu dalam kitab suci Al-Qur’an bahwa“ Ni’mat Tuhan Manakah yang engkau ingkari”. Bukan persoalan besar dan kecil rezki yang kita dapat melainkan seberapa sering rasa syukur terucap di bibir ini. Doa yang ku haturkan kepadamu yaa raab, “perkenankanlah untuk hamba, kesehatan untuk orang tua dan orang-orang yang mengajarku ilmu pengetahuan, ampuni segala dosanya beri ia tempat yang mulia di sisiMu, bagi guru-guru hamba yang telah tiada berilah balasan syurga atas ilmu yang telah ia ajarkan kepada kami. Karuniakan reski yang halal untuk keluarga hamba, kuatkan hamba dalam menggapai ridhoMu, serta lindungi hamba dan keluarga hamba dari segala kejahatan dan marabahaya, Ya Allah hal yang wajar bila seorang wanita meminta pria yang dapat menjadi imam untuk hamba dan ayah yang baik bagi anak-anakku kelak, pertemukanlah hamba dengan pria yang mampu mendekatkan hamba di jalanmu”.. Amiiinn yaaa Allah…!!
Alhamdulillah… kalimat yang pantas mengambarkan karunia Allah hari ini..
“istirahat sebentar dulu deh’ masih macet ki bela” dialog ku dalam hati!! Sambil duduk di teras masjid memandangi setiap sudut jalan, keramaian orang-orang yang lalu-lalang. Rumah makan dari yang modern ala barat sampai warungan ala anak Kos-kosan terhampar di depan mataku..
“Jurnalisme UIN alauddin Makassar”.. suara pria dari arah belakangku.
Seorang pria yang tak kukenal tepat berdiri di belakangku, yang sedang membaca dengan suara keras tulisan di bagian pundak jaket hitam yang ku kenakan.. dia tersenyum kepada ku, namun tak ku hiraukan. Sebagai orang yang menggeluti dunia jurnalis, sangat dekat dan sudah familiar dengan berita kriminalitas maka hal yang sangat wajar bagi saya untuk bernegative thinking dengan pria ini. “iii… siapa itu?? Bikin takutnya! Keluhku dalam hati.. “yaa Allah lindungi hamba dari segala bentuk kejahatan manusia”.
“Ade’ kuliah di UIN?? Jurusan jurnalisme semester berapa??” tanya pria yang mungkin 2 tahun lebih tua dari ku.
“semester 7” jawabku dengan nada sedikit ketus.
“ooo.. kalau boleh tau siapa nama ta’?” masih dengan pertanyaan yang membuatku canggung.
“Airin” jawabku singkat.
“lagi nunggu siapa?” tanyanya lagi.
“tdk lagi nunggu siapa2, cuman belum mau pulang soalnya lagi macet sekali didepan”, tapi sekarang sudah mau pulang” kataku sambil bergegas memasang sepatuku.. lagi-lagi dipikiranku bawaanya parno melulu, takut di hipnotislah, di jambertlah..
“maaf, kalau ganggu de’, sampai-sampai buru-buru mau pulang, saya bukan orang jahat ko dek’ saya juga habis shalat dan berdoa sambil nangis sama seperti adek’..” jelasnya panjang lebar.
“kok dia tau kalau saya nangis saat berdoa”?? tanyaku dalam hati yang semakin membuatku binggung bukan mainn…
“kita lihatka nangis waktu berdoa?” kataku penasaran.
“iyee” cuman tidak sengaja tadi liatnya” jawab pria itu sambil tersenyum.
“loo kok diam,?? Katanya mau pulang”. Suara pria ini membuyarkan rasa penasaranku.
“saya duluan kak, assalamu alaikum” pamitku pada pria yang tak sempat ku tanyakan namanya itu.
“waalaikumus salam airin”.
Mendengar pria itu menyebut namaku membuatku merinding, semakin membuatku takut dengan sikap yang sok kenal dan sok akrabnya yang dia tujukan.
Dua pekan berlalu dari pertemuan dengan pria yang tak ku kenal itu, namun membuatku penasaran ingin menayakan namanya, dan kenapa heran kalau liat orang nangis saat berdoa?? Bukankah itu hal yang wajar?.. ahhhh.. entahlah kenapa pikiranku jadi Kepo”(bahasa anak muda jaman sekarang) begini..
“airin besok ada seminar yang diadakan PWI (persatuan Wartawan Indonesia) mau ikut??” suara cempreng yang sudah tak asing ku dengar. Namanya Imma, dia juga partner baik ku di forum jurnalisme ini, bawaan yang cerewet, jail, dan ceria sudah melekat padanya.
“iyya,, kau mau ikut juga?? Tanyaku balik.
“iyya mauka, samaki pale nagh,, tapi jemputka di kos?” paksanya.
“biar tidak bilangko, sudah ku tau memang mau mu, heheh..”
“hihihi… tau ajah’…
Seminar PWI, bertemu dengan wartawan-wartawan senior, bisa dapat pengalaman baru, belajar dari cerita suka dan duka selama jadi jurnalis. Ini yang membuatku semangat 45 untuk datang ke acara ini..
“perjuangan dan kerja keras jurnalis tak sebanding dengan gajinya,, ahh kasihan”.. keluh Imma saat selesai mendengarkan pembicaraan dalam seminar tadi.
Semua akan sepakat dengan apa yang dikatakan imma barusan, jadi jurnalis mengorbankan hidup dan matinya, meninggalkan keluarga saat harus bertugas dengan lokasi yang jauh, siap di tempatkan di mana saja, dan siap pasang badan saat ada konflik terjadi demi mendapat hasil gambar yang bagus. Namun dengan gaji, yang sama dengan buruh bangunan. Miris memang dengan ketidak adilan bangsa ini.
“sudahlah Imma, mau di apa? Kalau sudah terjun di dunia jurnalis berarti siap dengan segala konsekuensi yang ada, sabar mi saja, atau berhenti dari sekarang.” Kataku yang mencoba menenangkan Imma.
Tanpa jawaban, Imma hanya berjalan dengan lemas dan sedikit mo’joo (cemberut)..
“airin”… suara itu menghentikan langkah kami berdua, dan menoleh secara bersamaan.
Wajah pria ini, sepertinya tidak asing lagi, tapi siapa die’?? dalam benakku pertanyaan yang jawab sendiri,”ooo… pria yang kutemui di mesjid Al-Ra’uf 2 pekan yang lalu”..
“ehhh.. kak Imran” sapaa Imma. Yang ternyata sudah saling kenal.
“airin,, ini kak Imran sepupunya kak Agus, senior ta’..” semangat Imma yang memperkenalkan.
“sudah mka ketemu 2 minggu yang lalu kalau tidak salah, di mesjid jalan AP. Pettarani, cuman Airin belum tau namaku, soalnya buru-buru ki’ mau pulang mungkin na lihat penjahatka’.. heheh.. terangnya dengan gaya khasnya yang sok akrab.
“bukan begitu kak, cuman…” jawabku yang dengan jelas tengah mencari-cari alasan yang masuk akal..
“endak apa2 ji maklum jka dek’.. katanya
“hmmmmmm…… !! suara batuk Imma yang di paksakan, untuk menegaskan kalau kami bertiga, kok ngobrolnya cuman asyik berdua..
Dari pertemuan kedua ku dengan kak Imran, namanya dan siapa dia sudah ku tau sedikit demi sedikit dari informasi yang Imma berikan, dia lulusan sosiologi UNM satu tahun yang lalu, sekarang juga aktif di dunia jurnalisme, dengan status pegawai tetap di salah satu stasiun televisi di makassar.
Setelah pertemuan yang kedua dihari itu, aku merasa bahwa ada rasa kagum yg kurasa saat mendengar cerita tentang kak Imran. Perjuangannnya yang rela banting tulang demi menghidupi keluarganya, sebagai seorang anak laki-laki yang telah di tinggal pergi oleh ayahnya maka tugasnya harus menjadi tulang punggung dalam keluarganya.
“Semoga hanya sekedar rasa kagum”..
“mungkin memang ku cinta, mungkin mmg ku sesali.. telah terhiraukan rasamu dulu.. aku hanya ingkari kata hatiku saja.. tp mengapa kini cinta datang terlambat..” bunyi ringtone Hpku dari maudy ayunda mengagetkan ku.. ada pangilan dari nomor handphone yang tak di cantumkan namanya..
“yaa… halo.. Assalamu alaikum??..” terdengar suara pria dari ujung Hpku.
“waalaikumu salam”… jawabku.
“ini dengan Airin??”
“iyya.. ini siapa yaa??” tanyaku balik.
“emm.. saya Imran dek’,.” Jawabnya singkat.
Dengan mendengar namanya, kenapa rasa kaget yang muncul,, ahh kenapa dengan diriku ini,, ini mungkin kagum yang berlebihan..
Ku jawab segera dengan nada suara yang sedikit terbata “oo.. kak Imran, iya kenapa Kak?”
“mauka minta tolong sama kita, bisa ki’ temani ka bawakan materi kepenulisan di acara pelatihan jurnalistik di anak-anak SMA??”
Kenapa harus saya, dan mengapa pake kata2 menemani?? Aissh,, pertanya dalam hati yang membuatku bingung sendiri memikirkan jawabannya.
“oh,, iye kak bisa ji’, kapan kak?”
“besok lusa dek’, sekitar jam 10:00 an, nanti saya kirimkan ki alamat lokasinya”..
“oh, iyee”.. jawaban yg tak perlu ku pertimbangkan terlalu lama, bahkan tak sempat ku tanyakan knp harus saya yang di suruh menemani?” besok lusa, kalau begitu perlu persiapan yang ekstra kalau begitu..”
Hari itu tiba, kak Imran membawakan materi kepenulisan dengan gaya khas anak muda, sehingga audiens yang mendengarnya merasa lebih mudah memahami materinya. Dengan kemeja biru tua, dan jaket joklat kak Imran terlihat dewasa. Entahlah, kebodohan apalagi yang terjadi padaku?.. semoga ini hanya benar-benar perasaan kagum semata, tak lebih.
Komunikasi ku dengan Kak Imran semakin rutin, memberiku banyak pengetahuan baru, berbagi pengalaman selama ia menjadi jurnalis biasa, dan obrolan mengenai hoby masing-masing pun semakin nyambung. Kak imran yang senang dengan film action, music instrumental, koleksi novel, dan penyanyi idola pun hampir sama denganku.
Empat bulan saling mengenal satu sama lain, bukan waktu yang singkat menurutku. Hingga hari itu tiba, hari dimana setiap wanita ingin merasakanya, hari dimana wanita merasa di hargai dan senang.
“dek bisa ki’ ketemuan di mesjid Ar-ra’uf yang di AP. Petarani besok?”
Pesan singkat yang ku dapat dari kak imran, perasaanku sepertinya di liputi rasa senang dan sekaligus penasaran. Senang karna dapat bertemu dengan sosok yang ku kagumi dan penasaran kenapa harus di mesjid Ar-ra’uf tempat pertama kali kita bertemu.
“dek’ airin””. Kak Imran memulai percakapan.
“saya bukan laki-laki yang sempurna, namun saya selalu mencoba untuk menjadi yang terbaik bagimu.. saya bukan pria idaman setiap wanita, tapi saya selalu belajar untuk bisa menjadi imam yang baik di mata mu, ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti, pantaskah saya untuk memintamu untuk menjadi pendamping hidupku, menemani sisa hidupku, menjadi pelengkap dari tulang rusukku yang hilang?? aku ingin membangun keluarga bahagia dunia akhiratku bersama mu”…
Kata-kata yang kudengar membuatku terhanyut dan bahagia. namun, jauh di lubuk hatiku masih ada keraguan dan rasa belum siap untuk membina rumah tangga, ingin ku ungkapkan kegundahanku, keraguanku namun tak kuasa ku menyakiti keseriusan kak imaran. Namun jika ku bohongi perasaan ini, akankah kami bahagia bersama saat di satu pihak belum merasa siap dan yakin dengan pilihannya. Bukanku bermaksud tak mensyukuri nikmat tuhan dan terkesan pilih-pilih dalam urusan jodoh, namun ku belum yakin dengan kak imran yang menjadi pendamping untukku yang di kirimkan Allah.. salahkah dengan perasaan ini?? Yaaa Allah, ku mohon petunjukMu agar aku terhindar dalam golongan manusia yang tak pernah bersyukur dengan nikmat yang kau berikan..”
keluh bibir ini untuk mengeluarkan kata-kata yang pantas ku ucapkan kepada kak imran. kumulai dengan ucapan maaf, “maaf kak, tak pantas bagiku untuk menjawab pertanyaan mu tanpa harus ku mulai bertanya kepada Allah, memohon petunjuk darinya, memohon keridhoan dan ketetapan hati dariNya”.. jawabku dengan tenang.
“iyya dek’ saya paham maksud ta’, kita shalat istikhara mi dulu, jika yang terbaik itu akan segera di tunjukkan secara jelas oleh Allah”..
Tiga hari ku laksanakan shalat istikhara memohon petunjuk darinya, dalam doa kusebut nama kak Imran, berharap ada petunjuk dari Allah.. namun suatu malam aku bermimpi, dalam mimpi itu kulihat wajah kak Imran dalam sebuah lukisan nan indah, namun kulihat ada seorang wanita yang membawa lukisan itu pergi jauh, tanpa ada sepatah katapun yang ia ucap. Kulihat wanita  itu semakin jauh pergi, hilang tanpa jejak dengan membawa lukisan kak Imran, lukisan wajah kak Imran dengan senyum kebahagiaan”.
Tidurku terbangunkan dengan suara adzan shubuh dari rumah-rumah Allah.. dalam sadarku terucap doa “ yaa Allah, inikah petunjuk dari mu??  Jalan hidup dariMu adalah yang terbaik bagiku”..
Hari-hari ku lalui tanpa pernah bertemu dengan kak Imran, tak ada komunikasi, dan belum ku sampaikan jawaban dari shalat istikhara ku semalam yang lalu. Hari itu mengapa sepulang dari kampus, aku merasa ingin shalat ashar di mesjid Ar-Rau’uf. Mesjid yang mempertemukan ku dengan kak imran secara tak sengaja. Ku sebut dia dalam doaku, semoga dia di pertemukan dengan jodoh yang terbaik untukknya, untukku dan masa depan kami masing-masing.
Saat di ujung pintu keluar mesjid, tanpa sengaja kami bertemu, saling memandang dengan perasaan berkecamuk. Aku yang merasa tak enak hati, mungkin kak imran dengan perasaan penuh harap dengan keputusanku.
“kak,” ku mulai percakapan itu, yang sebelumnya di awali dengan diam satu-sama lain.
“maaf kak, dalam shalat istikharaku, namamu ku sebut, doaku dengan mengikut sertakan namamu. Ku mohon kepada Allah agar memberiku petunjuk.” dengan rasa syukurku Allah memberiku jawaban dengan kemaha KasihNya.” Ku ceritakan mimpi yang kulihat setelah melaksanakan shalat istikhara. Dan ku katakan pada kak Imran, kalau saya tidak bisa menerima pinangannya, ada wanita lain yang menanti kesetian dan cinta darimu kak, dan itu bukan aku. Kakak bukan pria dalam doaku, Allah tak mengizinkan kita bersama.” Air mata tak terbendung, linangan air mata ini menjadi penegas bahwa di mesjid Ar-ra’uf (MahaKasih) kita bertemu dengan keMaha kasihNya, dan memisahkan kita dengan keMaha kasihNya yang tiada tara.. sebab manusia saling mencintai dan saling menyayangi karna keMaha KasiMu (Ar-ra’uf) yaa rabb, tuhan semesta Alam.
                 Musdalifah, 05-03-2014
     Galesong Utara, kerinduan dan cerita KKN ku.











  

Senin, 17 Februari 2014

kesempatan kedua

bila khilaf yang tertoreh..
izinkan maaf mengiringi...
bila salah tak terhindari..
tak ada kah kesempatan lagi ???
ku paksa kau mengerti keadaan yang kau tak bisa mengerti..
namun akhirnya, kesalahan yang terjadi...
kau meminta ku untuk memahami kondisi mu.
lalu, yang mencoba melihat beban ku tak ada seorng pun..
izinkan maaf itu ku ucapkan kembali..
sekalipun luka itu sudah tergores dalam...