Aku mahasiswa baru di salah satu universitas Islam negeri di
Makassar, mahasiswa baru seperti aku yg hanya berasal dari kampung dan harus
bertahan hidup di kota metropolitan seperti di Makassar memang bukan hal yang
mudah. Ada banyak hal yang harus di jaga dan tingkah laku orang kota yg sangat
berbeda jauh dengan aku yg berasal dari desa kecil. Sebisa mungkin tujuan ku
untuk ke Makassar adalah menuntut ilmu mendapat gelar sarjana secepatnya dan
membanggakan orang tua ku di kampung.
“Hai siapa nama ta’. Tanya seorang perempuan dengan tubuh yang
sedikit berisi.
“Saya herni.. kita?? Tanyaku kembali.
“Nama saya hikma,, kalau boleh tau ambil jurusan apaki’” ?? sambil
tersenyum hangat.
“Ambil jurasan manajemen pendidikan islam fakultas tarbiyah dan
keguruan”. Jawab ku dengan lengkap. Suasana saat itu terbagun mulai akrab
antara kami berdua.
“Oooo sama ki kalau begitu,, saya juga ambil jurusan MPI.” Kali
ini ia dengan senyum yang sangat riang, mungkin di benaknya, ia senang karna
telah menemukan teman yang akan menjadi teman sekelasnya nanti pada saat
penerimaan mahasiswa berlangsung.
“Oh yaa.. dari mana asal ta’?? pertanyaan yang sedikit menyelidiki.
“Saya asli soppeng, kalau kita”?? Tanya ku balik. Sepertinya dia tipe
cewek yg banyak ingin tau.
“Asli orang sini ji. Jawabnya singkat.”
Sejak perkenalan kami berdua di kampus hijau ini, kami menjadi
semakin akrab dan setiap jalan kemana kami berdua selalu bersama. Dan pengumuman
penempatan kelas pun sudah di tentukan aku dan hikma juga di dalam kelas yang
sama.
“Ahh.. kuliah perdananya kurang menyenagkan, senior-senior yang
masuk ke kelas hanya datang buat kekacauan”. Keluh si hikma yang sudah Nampak
kelelahan,! mengikuti kuliah dari pagi sampai pukul 2 siang, dengan cuaca yg
sangat terik memang membuat orang merasa selalu ingin cepat2 pulang kerumah dan
beristirahat.
“Eh, herni tinggal kost ki? Tanya nya mengagetkan ku..
“Iya, kenapa?? Mauki ke kost jalan-jalan?? Jawabku sambil memegang
pundaknya..
“Tidak ji, nanti insya Allah lain waktu. Ada ku dengar asrama
khusus orang soppeng, organisasi daerah (organda) yang punya, katanya tinggal
di sana gratis uang kamarnya hanya bayar uang listrik saja”. Kata si hikma
dengan penuh antusias.
“Emm,, enda ji dulu deh, nanti mungkin semester atas pi’, soalnya
di kost ada juga teman ku 2 orang yang satu kampung dengan ku, kalau saya
sendiri yang pindah tidak enak sama yang lainnya”.
“Oohh.. dari kita ji’..
Perbincangan kami berakhir setelah kami berdua telah selesai
mengikuti program PIKIH. PIKIH seperti kuliah tambahan di luar kelas yang
mengajarkan bahasa inggris, bahasa arab, dan ilmu retorika. Katanya program
belajar ini yang menjadi unggulan si kampus hijau..
Hari demi hari
kami lewati bersama, aku dan hikma sudah sangat akrab dibandingkan teman
sekelas yang lain, namun kali ini satu teman kami lagi bertambah, namanya
ariska, dia sedikit berbeda penampilan dengan kami berdua, Ariska berkudung
panjang menutup full badan bagian depan dengan kerudung panjang sampai ke
lengan. Hal ini juga di dukung dengan bakat yang dia miliki, dia seorang
penghafal Qur’an dan sudah sering mengikuti lomba tahfidz Qur’an.
Seperti hari
biasanya, aku berangkat dan pulang dari kampus dengan menggunakan mobil
angkutan umum ( pete-pete) . tidak seperti kedua kawanku hikma dan riska yang
memiliki kendaraan sendiri, namun apapun itu saya sudah sangat bersyukur.
“Assalamu
alaikum’..!!
“Waalaikum salam.
jawab salah satu teman sekamar ku yang hari ini sedang tak ada aktivitas kuliah di jurusannya. Namanya
evi dia ambil jurusan social kemasyarakatan di fakultas dakwa dan komunikasi.
Jurusan yang masuk daftar pilihan jurusan di formulir pendaftran mahasiswa ku
dulu, namun tuhan menghendaki aku untuk berada di jurusan ku sekarang ini..
“Enda ke kampus ki”?? Tanyaku ke evi yang sedang kedatangan tamu
pria.
“Kosong kuliah ku ini hari”. Jawab evi yang sedang sibuk membawa
segelas minum untuk tamu prianya itu.
“Orang soppeng juga ini Evi?? Kata pria itu yang sedang memandang
ke arahku.
“Iye’ kak ambil jurusan Mpi di tarbiyah”. Jawab singkat si evi.
Aku yang di pandang dengan pria itu hanya bisa tersipu malu, dan aku
melangkahkan kaki kedalam tanpa ada sepata kata pun yang terucap.
Ada hal yang aneh sedikit mengganjal di hatiku, wajah manis dengan
badan yang tinggi kurus itu selalu terbayang di benakku. Entahlah perasaan
seperti apa yang ku hadapi sekarang.
Rutinitas dikampus
semakin padat, tugas kuliah yang menumpuk dan membutuhkan referensi yang
banyak. Aku dan kedua kawan ku sering mengerjakan tugas bersama dan ada hal-hal
yang selalu kita bagi bersama entah itu peristiwa yang menyenangkan ataupun
kurang menyenangkan.
Dan tak terasa
sudah setahun berjalan. Semester 3 itu berarti akan ada banyak kisah baru dan
pengetahuan baru yang akan kami dapat. Candaan yang sering terjadi di kelas
sudah merupakan hal yang sangat menyenagkan bagi ku, terlebih si hikma, teman
ku yang satu ini memang sudah terlahir dengan pribadi yang cerewat, banyak
lelucon yang sering ia lakukan, dan itu membantu menghilangkan penat kami
setelah seharian berkutat dengan pelajaran, diskusi dan tugas-tugas kuliah
lainnya.
Aku beruntung
menjadi bagian dari teman-teman ku saat ini, walaupun kata orang jurusan kami
saat ini bukan jurusan yang menjamin masa depan kami pada saat mencari
pekerjaan nantinya setelah lulus. bukan itu yang menjadi urusanku, aku hanya
perlu belajar dan mempersiapkan diri, masalah pekerjaan itu sudah menjadi
tanggung jawab tuhan kepada makhluknya yang senantiasa selalu berusaha tanpa
harus memandang keunggulan jurusan.
“Hai herni..!!
seorang menyapaku saat aku berjalan hendak menuju masjid. Kedua temanku sedang
kompak berhalangan. Aku berbalik dan mencari sumber suara yang sudah tak asing
lagi ku dengar.
Ternyata suara itu
berasal dari pria berwajah manis dan tubuh yang sedikit agak kurus.
“Eh, kakak temanya
evi”.. jawabku sedikit agak grogi.
Heheh… masa di
panggil ka temannya evi,, kayak tidak ada nama ku kasian. Katanya sambil
tersenyum hangat.
“Eh,, maaf kakak”
!! aku sambil menundukkan kepala.
“Panggil mka saja
Imran”..
“em,, iye kak..
jawab ku yang malu sendiri.
“Masih ada kuliah
ta” kah?
“Iye kak jam 1”.!!
“oo.. pergi mki
pale shalat dulu, ku halangi mki ini.” !! katanya mengingatkan.
“Duluan ka pale
die’ mauka ke fakultas’.!! katanya berpamitan.
Sekali lagi, pertemuan yang singkat ini memancing timbulnya
perasaan yang sekali lagi sangat aneh ku rasakan , perasaan macam apa yang
sedang terjadi pada ku saat ini..
Ah,, ku bergegas melaksanakan kewajibanku untuk menemui sang
penciptaku, mungkin ia akan memberi penjelasan tentang perasaan ku saat ini..
“Herni…. Bunyi ki
hape ta’ ada panggilan dari kak agus.” Teriak evi teman sekamar ku.
“Iyaa.. tunggu..
!!
“Halo assalamu
alaikum kak.” Jawabku masih dengan mukenah yang ku kenakan sehabis shalat
isya..
“Herni ke rumah ki
jalan-jalan na cari ki mama. Katanya suruh datang ke rumah masa tantenya
sendiri tidak pernah na kunjingi”.. kata pria itu di telepon genggamku.
“Maaf kak belum
sempat ka’ sibuk-sibuknya kuliah ku bela’.. salam ku sama tante haji, minta
maafka. insya Allah lusa ke rumahta ka tapi mauka di jemput itu” hehe.. kata ku
dengan bergurau.
“Jangankan di
jemput, antar pulang kerumah, bahkan keliling Makassar ku temani ki adik sepupu
tersayang”. Jawab pria itu dengan akrab.
“Sudah dulu nag,
maaf mengganggu heheh”.. assalamu alaikum..”
Senang rasanya masih ada kakak sepupu yang perhatian, tinggal di
Makassar sangat kesepian untung ada kak agus. Sepupuh dari keturunan keluarga
ayah itu juga kuliah di jurusan yang sama dengan kak Imran, pria manis yang
selalu membuat ku salah tingkah saat di depannya.
Hari demi hari,
intensitas ketemuan ku dengan kak Imran dan kakak sepupu ku agus semakin
sering, ini disebabkan aku ikut gabung organisasi pergerakan mahasiswa islam
indonesa(PMII). Aku semakin mengagumi kak Imran, selain wajah yang manis dia
juga aktivis yang tak mengecewakan di dalam urusan akademisinya, tak seperti
mahasiswa aktivis lain yang ku kenal. Hal ini yang semakin membuat ku kagum
dengannya, dan sepertinya komunikasi yang sering terjalin dan bertemu seiring
waktu membuat perasaan kagum ku padanya berubah pada perasaan cinta. Aku mulai
suka sifatnya yang ramah dan baik, hingga sedikit pun tak ingin melewatkan
waktu bersamanya. Kegiatan di PMII hanya menjadi alasan buatku untuk bisa
bertemu dengannya.!!
Sms, telepon dan
chatting sudah kebiasaan yang selalu ku lakukan dengan kak Imran, dia membuatku
merasa nyaman ketika masalah kuliah, pribadi dan hal-hal lainnya ku curahkan
padanya. Ada perasaan lega yang kurasa saat beban di pundakku sudah ku utarakan
kepadanya, ia seperti kakak sekaligus teman buat ku.
“Herni ada
kegiatannya PMII besok malam di tanjung mau ikut ??” Kata evi yang juga anggota
PMII..
“Mauka ikut kalau
ikut ki juga”.. jawabku singkat.
“Iyaa mauka, ada
ji juga kak Imran dengan kak agus ikut”..
Mendengar nama orang pertama yang di sebut Evi membuatku semakin
antusias mengikuti kegiatan PMII ini, sekali lagi tak dapat ku ingkari kalau
kegiatan PMII hanya sarana dan alasan yang ku gunakan agar bisa selalu melihat
dan bertemu dengan kak Imran.
“ herni ikut ki
kegiatannya PMII besok di tanjung nag’ nanti saya jemput ki di kos ta’ .. by
agus.”
Sms dari kakak sepupu ku itu, membuatku putus harapan, bukan ajakan
kakak sepupu ku itu yang ku tunggu tapi aku berharap kak Imran yang mengirim
pesan singgkat itu untuk ku..
Tepat pukul 05.35 kak agus menjemputku di kos-an. Aku benar-benar
berangkat dengannya. Kakak sepupu yang kurasa juga sangat perhatian yang
berlebihan kepada ku..
Tanjung bayam yang
menjadi tempat pilihan kegiatan PMII kali ini.. kak Imran belum menampakkan
batang hidungnya, wajah manis yang sedari tadi ku nantikan belum juga datang.
Mungkin dia datang malam nanti pas acaranya sudah berlangsung. Kataku dalam hati
seolah ingin menepis kekhawatiran dan kerinduanku.
Rangkaian demi
rangkaian kegiatan PMII sudah terlaksana, dan kak Imran sudah datang, ia asyik
berbincang dengan teman-temannya. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan,
senyum khasnya masih tetap sama waktu pertama kali aku betertemu dengannya..
“Herni ayo ke
pantai ki jalan-jalan eh’”.. kata evi membuyarkan lamunan ku..
“Ayo mi !!” kami
bergegas melangkah menuju pantai tempat di mana muda-mudi sedang asyik
bersantai gurau, ada yang main music, ada yang befoto, ada yang sedang pacaran
dan aku hanya duduk di bangku kayu sambil menatap langit luas di malam hari..
“Heyy.. kenapa
menghayal??” sapaan Suara yang sejak tadi sudah ku nantikan..
“”Eh kak Imran
kaget ku deh” ..!! jawabku malu.
Banyak hal yang
kami perbincangkan malam itu, hingga membawa pada pembicaraan yang cukup serius
masalah tentang kami berdua.. aku dan kak Imran.
“Emmm… herny”
katanya membuka pembahasan baru.
“Ada yang mau ku
sampaikan sama kita, jangan ki marah nag.. mau jka saja kasih tau ki, biar saya
juga merasa lega dengan perasaan ku sendiri”..
“Kenapa ki kak?”
Tanya ku penuh rasa penasaran..
“pertama kali ku
lihat ki di kost ta’ dan saat ku tau kalau adik sepupunya ki agus yang tak lain
sahabat ku di kampus. Sepertinya perasaan ini bukan sebatas adik kakak atau
teman biasa. “Ku suka ki’ dan entah kapan mulainya perasaan ini muncul.” Kata
nya dengan wajah menunduk penuh rasa malu..
Aku yang mendengar kata itu,, sepertinya menjawab semua keraguan,
rasa gelisa dan harapan ku selama ini.. aku sepertinya di buat tak berdaya
dengan pengakuan yang ia ucapkan..
“Sebenarnya, saya
mungkin sudah jauh lebih dulu suka ki’kak.. alasan ku ikut gabung di PMII itu
jadi alasan nomor dua, sebab alasan utama ku hanya ingin melihat dan bertemu
dengan kita.. sepertinya ada perasaan yang berbeda yang kurasa saat di dekat
ta’.. perasaan wanita yang juga menyukai seorang pria”.. kataku dengan rasa
grogi.
Ia menatapku.. ada gurat kesedihan di matanya,, entah apa yang ada
di benakknya.. ada sesuatu yang mengganjal di wajahnya..
“Tapi ada orang
yang jauh lebih pantas dekat dan sayang sama kita’ herni.. saya tidak mau
menyakiti perasaan orang itu,, saya hanya ingin mengungkapkan perasaan ku agar
kita tau dan tidak lagi membebani pikiran ku.. cukup hanya ingin ku utarakan
bahkan tak ada harapan untuk mendapat balasan perasaan yang sama dari mu”..
“Orang itu yang
pantas bersama mu,, dan saya berharap belajar ki’ untuk suka sama itu orang dan
hapuskan bayang-bayang ku di dalam pikiran ta’ bahkan kalau saya harus pergi
jauh untuk menghindar dari mu, sebagai bentuk pengorbanan untuk sahabat ku itu akan
aku lakukan.. agar sahabatku bisa bersama mu. Minta maaf kalau yang ku katakan
hanya melukai persaan mu.. “Kita saling menyukai bukan berarti harus saling
memiliki.. cinta tak selamanya mengharap balasan agar bisa saling memiliki”
saya tidak mau ada yang tersakiti dengan perasaan ku ini, terlebih jika itu
adalah sahabat ku sendiri..”
ia pergi meninggalkan ku sendiri di kursi kayu yang rapuh ini, di
selimuti dinginnya angina malam,, tak dapat ku bendung lagi air mata ku jatuh
membasahi pipi, hatiku terguncang, ingin ku berlari sejauh mungkin dan
menghempaskan perasaan ini , perasaan yang semakin menyesakkan dada..
malam itu menjadi
malam yang sangat pahit untukku.. kawan yang menjadi teman curhatku hanya bisa
menyuruhku bersabar, dalam kondisi seperti ini aku masih mempunyai teman yang
sangat perhatian dan mengerti perasaan ku,, bahkan ketika aku mulai merasa
kesepian dan tak memiliki siapa-siapa..
ku coba untuk
melupakan kejadian kemarin malam itu,, ku susuri lorong demi lorong, langkah
kaki yang semakin berat kurasa , berharap agar bisa sampai dengan cepat ke
kos-an tempat di mana aku bernaung dari panasnya siang dan dinginnya malam..
teringat perkataan kak Imran “ ada orang yang suka ki’ dan jauh lebih pantas
berada di dekat ta’ . sahabat yang tak ingin ku sakiti hanya karna perasaan ku
ini”..
aku masih bertanya-tanya siapa orang itu?? Yang menyukai ku bahkan
membuat kak Imran mengalah mengorbankan perasaannya hanya karna tak ingin
menyakiti perasaan orang itu yang ia anggap sahabat??!! Seribu satu tanda Tanya
melayang-layang di pikiranku.. ah,, entahlah.. biarkan waktu yang menjawab
siapa dia..
“hey,, herny naik
mi sini ku antar pulang ke kost mu”.. suara pria itu menghentikan langkah
ku..suara pria yang tak lain adalah kakak sepupu ku sendiri..
“eh,, kak agus..
kebetulan sudah capek mka jalan mana lagi panas sekali.. hehe datang ki’ di
waktu yang tepat kak”.. kataku menghangat kan suasana. Segera aku naik diatas
kendaraan roda duanya berwarna biru hitam itu..
“herny.. mauka
bilang sesuatu tapi bukan sebagai kakak sepupu kepada adik sepupunya,, tapi ini
perasaan yang di miliki oleh seorang pria kepada wanita yang di sukainya dan sudah
lama di pendam..
“ku suka ki de’..
ini mungkin hal yang terlalu cepat dan membuat mu kaget, tapi hal ini harus ku
utarakan sebelum semuanya terlambat” maaf kalau ini kurang berkenan di hati
mu..”
Semua sudah terjawab!, kak Imran mengorbankan perasaannya hanya
untuk sahabatnya yang tak lain adalah kakak sepupu ku sendiri. Yaa kakak agus
orangnya.. hal ini membuat ku semakin bingung, kepala ku serasa ingin pecah aku
ingin berlari sejauh mugkin dari kenyataan ini. Aku menyukai kak Imran tapi ia
lebih mempertahankan persahabatannya dengan kak agus dan sudah menjadi
keharusan untukku untuk tetap menjaga hubungan persahabatan yang sudah terjalin
sangat baik ini antara kak Imran dan kak agus, dan aku tak ingin menghancurkan
itu..
Jalan keluar yang
sangat baik dalam situasi seperti ini, dengan tidak saling memiliki, satu sama
lain.. persahabatan jauh lebih baik di banding harus mempertahankan keegoisan
ku agar bisa bersama dengan kak Imran. Jangan ada yang tersakiti dalam masalah
ini. aku mundur mengharap balasan perasaan dari kak Imran , dan kak agus akan
jauh lebih baik jika ia cukup menjadi kakak sepupu ku..
Sebab sejatinya,, “CINTA TAK HARUS SALING MEMILIKI.”… :’(