Pengikut

Kamis, 12 September 2013

karna cinta tak harus saling memiliki


Aku mahasiswa baru di salah satu universitas Islam negeri di Makassar, mahasiswa baru seperti aku yg hanya berasal dari kampung dan harus bertahan hidup di kota metropolitan seperti di Makassar memang bukan hal yang mudah. Ada banyak hal yang harus di jaga dan tingkah laku orang kota yg sangat berbeda jauh dengan aku yg berasal dari desa kecil. Sebisa mungkin tujuan ku untuk ke Makassar adalah menuntut ilmu mendapat gelar sarjana secepatnya dan membanggakan orang tua ku di kampung.
“Hai siapa nama ta’. Tanya seorang perempuan dengan tubuh yang sedikit berisi.
“Saya herni.. kita?? Tanyaku kembali.
“Nama saya hikma,, kalau boleh tau ambil jurusan apaki’” ?? sambil tersenyum hangat.
“Ambil jurasan manajemen pendidikan islam fakultas tarbiyah dan keguruan”. Jawab ku dengan lengkap. Suasana saat itu terbagun mulai akrab antara kami berdua.
“Oooo sama ki kalau begitu,, saya juga ambil jurusan MPI.” Kali ini ia dengan senyum yang sangat riang, mungkin di benaknya, ia senang karna telah menemukan teman yang akan menjadi teman sekelasnya nanti pada saat penerimaan mahasiswa berlangsung.
“Oh yaa.. dari mana asal ta’?? pertanyaan yang sedikit menyelidiki.
“Saya asli soppeng, kalau kita”?? Tanya ku balik. Sepertinya dia tipe cewek yg banyak ingin tau.
“Asli orang sini ji. Jawabnya singkat.”
Sejak perkenalan kami berdua di kampus hijau ini, kami menjadi semakin akrab dan setiap jalan kemana kami berdua selalu bersama. Dan pengumuman penempatan kelas pun sudah di tentukan aku dan hikma juga di dalam kelas yang sama.
“Ahh.. kuliah perdananya kurang menyenagkan, senior-senior yang masuk ke kelas hanya datang buat kekacauan”. Keluh si hikma yang sudah Nampak kelelahan,! mengikuti kuliah dari pagi sampai pukul 2 siang, dengan cuaca yg sangat terik memang membuat orang merasa selalu ingin cepat2 pulang kerumah dan beristirahat.
“Eh, herni tinggal kost ki? Tanya nya mengagetkan ku..
“Iya, kenapa?? Mauki ke kost jalan-jalan?? Jawabku sambil memegang pundaknya..
“Tidak ji, nanti insya Allah lain waktu. Ada ku dengar asrama khusus orang soppeng, organisasi daerah (organda) yang punya, katanya tinggal di sana gratis uang kamarnya hanya bayar uang listrik saja”. Kata si hikma dengan penuh antusias.
“Emm,, enda ji dulu deh, nanti mungkin semester atas pi’, soalnya di kost ada juga teman ku 2 orang yang satu kampung dengan ku, kalau saya sendiri yang pindah tidak enak sama yang lainnya”.
“Oohh.. dari kita ji’..
Perbincangan kami berakhir setelah kami berdua telah selesai mengikuti program PIKIH. PIKIH seperti kuliah tambahan di luar kelas yang mengajarkan bahasa inggris, bahasa arab, dan ilmu retorika. Katanya program belajar ini yang menjadi unggulan si kampus hijau..
            Hari demi hari kami lewati bersama, aku dan hikma sudah sangat akrab dibandingkan teman sekelas yang lain, namun kali ini satu teman kami lagi bertambah, namanya ariska, dia sedikit berbeda penampilan dengan kami berdua, Ariska berkudung panjang menutup full badan bagian depan dengan kerudung panjang sampai ke lengan. Hal ini juga di dukung dengan bakat yang dia miliki, dia seorang penghafal Qur’an dan sudah sering mengikuti lomba tahfidz Qur’an.
            Seperti hari biasanya, aku berangkat dan pulang dari kampus dengan menggunakan mobil angkutan umum ( pete-pete) . tidak seperti kedua kawanku hikma dan riska yang memiliki kendaraan sendiri, namun apapun itu saya sudah sangat bersyukur.
            “Assalamu alaikum’..!!
            “Waalaikum salam. jawab salah satu teman sekamar ku yang hari ini sedang tak  ada aktivitas kuliah di jurusannya. Namanya evi dia ambil jurusan social kemasyarakatan di fakultas dakwa dan komunikasi. Jurusan yang masuk daftar pilihan jurusan di formulir pendaftran mahasiswa ku dulu, namun tuhan menghendaki aku untuk berada di jurusan ku sekarang ini..
“Enda ke kampus ki”?? Tanyaku ke evi yang sedang kedatangan tamu pria.
“Kosong kuliah ku ini hari”. Jawab evi yang sedang sibuk membawa segelas minum untuk tamu prianya itu.
“Orang soppeng juga ini Evi?? Kata pria itu yang sedang memandang ke arahku.
“Iye’ kak ambil jurusan Mpi di tarbiyah”. Jawab singkat si evi.
Aku yang di pandang dengan pria itu hanya bisa tersipu malu, dan aku melangkahkan kaki kedalam tanpa ada sepata kata pun yang terucap.
Ada hal yang aneh sedikit mengganjal di hatiku, wajah manis dengan badan yang tinggi kurus itu selalu terbayang di benakku. Entahlah perasaan seperti apa yang ku hadapi sekarang.
            Rutinitas dikampus semakin padat, tugas kuliah yang menumpuk dan membutuhkan referensi yang banyak. Aku dan kedua kawan ku sering mengerjakan tugas bersama dan ada hal-hal yang selalu kita bagi bersama entah itu peristiwa yang menyenangkan ataupun kurang menyenangkan.
            Dan tak terasa sudah setahun berjalan. Semester 3 itu berarti akan ada banyak kisah baru dan pengetahuan baru yang akan kami dapat. Candaan yang sering terjadi di kelas sudah merupakan hal yang sangat menyenagkan bagi ku, terlebih si hikma, teman ku yang satu ini memang sudah terlahir dengan pribadi yang cerewat, banyak lelucon yang sering ia lakukan, dan itu membantu menghilangkan penat kami setelah seharian berkutat dengan pelajaran, diskusi dan tugas-tugas kuliah lainnya.
            Aku beruntung menjadi bagian dari teman-teman ku saat ini, walaupun kata orang jurusan kami saat ini bukan jurusan yang menjamin masa depan kami pada saat mencari pekerjaan nantinya setelah lulus. bukan itu yang menjadi urusanku, aku hanya perlu belajar dan mempersiapkan diri, masalah pekerjaan itu sudah menjadi tanggung jawab tuhan kepada makhluknya yang senantiasa selalu berusaha tanpa harus memandang keunggulan jurusan.
            “Hai herni..!! seorang menyapaku saat aku berjalan hendak menuju masjid. Kedua temanku sedang kompak berhalangan. Aku berbalik dan mencari sumber suara yang sudah tak asing lagi ku dengar.
            Ternyata suara itu berasal dari pria berwajah manis dan tubuh yang sedikit agak kurus.
            “Eh, kakak temanya evi”.. jawabku sedikit agak grogi.
            Heheh… masa di panggil ka temannya evi,, kayak tidak ada nama ku kasian. Katanya sambil tersenyum hangat.
            “Eh,, maaf kakak” !! aku sambil menundukkan kepala.
            “Panggil mka saja Imran”..
            “em,, iye kak.. jawab ku yang malu sendiri.
            “Masih ada kuliah ta” kah?
            “Iye kak jam 1”.!!
            “oo.. pergi mki pale shalat dulu, ku halangi mki ini.” !! katanya mengingatkan.
            “Duluan ka pale die’ mauka ke fakultas’.!! katanya berpamitan.
Sekali lagi, pertemuan yang singkat ini memancing timbulnya perasaan yang sekali lagi sangat aneh ku rasakan , perasaan macam apa yang sedang terjadi pada ku saat ini..
Ah,, ku bergegas melaksanakan kewajibanku untuk menemui sang penciptaku, mungkin ia akan memberi penjelasan tentang perasaan ku saat ini..
            “Herni…. Bunyi ki hape ta’ ada panggilan dari kak agus.” Teriak evi teman sekamar ku.
            “Iyaa.. tunggu.. !!
            “Halo assalamu alaikum kak.” Jawabku masih dengan mukenah yang ku kenakan sehabis shalat isya..
            “Herni ke rumah ki jalan-jalan na cari ki mama. Katanya suruh datang ke rumah masa tantenya sendiri tidak pernah na kunjingi”.. kata pria itu di telepon genggamku.
            “Maaf kak belum sempat ka’ sibuk-sibuknya kuliah ku bela’.. salam ku sama tante haji, minta maafka. insya Allah lusa ke rumahta ka tapi mauka di jemput itu” hehe.. kata ku dengan bergurau.
            “Jangankan di jemput, antar pulang kerumah, bahkan keliling Makassar ku temani ki adik sepupu tersayang”. Jawab pria itu dengan akrab.
            “Sudah dulu nag, maaf mengganggu heheh”.. assalamu alaikum..”
Senang rasanya masih ada kakak sepupu yang perhatian, tinggal di Makassar sangat kesepian untung ada kak agus. Sepupuh dari keturunan keluarga ayah itu juga kuliah di jurusan yang sama dengan kak Imran, pria manis yang selalu membuat ku salah tingkah saat di depannya.
            Hari demi hari, intensitas ketemuan ku dengan kak Imran dan kakak sepupu ku agus semakin sering, ini disebabkan aku ikut gabung organisasi pergerakan mahasiswa islam indonesa(PMII). Aku semakin mengagumi kak Imran, selain wajah yang manis dia juga aktivis yang tak mengecewakan di dalam urusan akademisinya, tak seperti mahasiswa aktivis lain yang ku kenal. Hal ini yang semakin membuat ku kagum dengannya, dan sepertinya komunikasi yang sering terjalin dan bertemu seiring waktu membuat perasaan kagum ku padanya berubah pada perasaan cinta. Aku mulai suka sifatnya yang ramah dan baik, hingga sedikit pun tak ingin melewatkan waktu bersamanya. Kegiatan di PMII hanya menjadi alasan buatku untuk bisa bertemu dengannya.!!
            Sms, telepon dan chatting sudah kebiasaan yang selalu ku lakukan dengan kak Imran, dia membuatku merasa nyaman ketika masalah kuliah, pribadi dan hal-hal lainnya ku curahkan padanya. Ada perasaan lega yang kurasa saat beban di pundakku sudah ku utarakan kepadanya, ia seperti kakak sekaligus teman buat ku.
            “Herni ada kegiatannya PMII besok malam di tanjung mau ikut ??” Kata evi yang juga anggota PMII..
            “Mauka ikut kalau ikut ki juga”.. jawabku singkat.
            “Iyaa mauka, ada ji juga kak Imran dengan kak agus ikut”..
Mendengar nama orang pertama yang di sebut Evi membuatku semakin antusias mengikuti kegiatan PMII ini, sekali lagi tak dapat ku ingkari kalau kegiatan PMII hanya sarana dan alasan yang ku gunakan agar bisa selalu melihat dan bertemu dengan kak Imran.
            “ herni ikut ki kegiatannya PMII besok di tanjung nag’ nanti saya jemput ki di kos ta’ .. by agus.”
Sms dari kakak sepupu ku itu, membuatku putus harapan, bukan ajakan kakak sepupu ku itu yang ku tunggu tapi aku berharap kak Imran yang mengirim pesan singgkat itu untuk ku..
Tepat pukul 05.35 kak agus menjemputku di kos-an. Aku benar-benar berangkat dengannya. Kakak sepupu yang kurasa juga sangat perhatian yang berlebihan kepada ku..
            Tanjung bayam yang menjadi tempat pilihan kegiatan PMII kali ini.. kak Imran belum menampakkan batang hidungnya, wajah manis yang sedari tadi ku nantikan belum juga datang. Mungkin dia datang malam nanti pas acaranya sudah berlangsung. Kataku dalam hati seolah ingin menepis kekhawatiran dan kerinduanku.
            Rangkaian demi rangkaian kegiatan PMII sudah terlaksana, dan kak Imran sudah datang, ia asyik berbincang dengan teman-temannya. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan, senyum khasnya masih tetap sama waktu pertama kali aku betertemu dengannya..
            “Herni ayo ke pantai ki jalan-jalan eh’”.. kata evi membuyarkan lamunan ku..
            “Ayo mi !!” kami bergegas melangkah menuju pantai tempat di mana muda-mudi sedang asyik bersantai gurau, ada yang main music, ada yang befoto, ada yang sedang pacaran dan aku hanya duduk di bangku kayu sambil menatap langit luas di malam hari..
            “Heyy.. kenapa menghayal??” sapaan Suara yang sejak tadi sudah ku nantikan..
            “”Eh kak Imran kaget ku deh” ..!! jawabku malu.
            Banyak hal yang kami perbincangkan malam itu, hingga membawa pada pembicaraan yang cukup serius masalah tentang kami berdua.. aku dan kak Imran.
            “Emmm… herny” katanya membuka pembahasan baru.
            “Ada yang mau ku sampaikan sama kita, jangan ki marah nag.. mau jka saja kasih tau ki, biar saya juga merasa lega dengan perasaan ku sendiri”..
            “Kenapa ki kak?” Tanya ku penuh rasa penasaran..
            “pertama kali ku lihat ki di kost ta’ dan saat ku tau kalau adik sepupunya ki agus yang tak lain sahabat ku di kampus. Sepertinya perasaan ini bukan sebatas adik kakak atau teman biasa. “Ku suka ki’ dan entah kapan mulainya perasaan ini muncul.” Kata nya dengan wajah menunduk penuh rasa malu..
Aku yang mendengar kata itu,, sepertinya menjawab semua keraguan, rasa gelisa dan harapan ku selama ini.. aku sepertinya di buat tak berdaya dengan pengakuan yang ia ucapkan..
            “Sebenarnya, saya mungkin sudah jauh lebih dulu suka ki’kak.. alasan ku ikut gabung di PMII itu jadi alasan nomor dua, sebab alasan utama ku hanya ingin melihat dan bertemu dengan kita.. sepertinya ada perasaan yang berbeda yang kurasa saat di dekat ta’.. perasaan wanita yang juga menyukai seorang pria”.. kataku dengan rasa grogi.
Ia menatapku.. ada gurat kesedihan di matanya,, entah apa yang ada di benakknya.. ada sesuatu yang mengganjal di wajahnya..
            “Tapi ada orang yang jauh lebih pantas dekat dan sayang sama kita’ herni.. saya tidak mau menyakiti perasaan orang itu,, saya hanya ingin mengungkapkan perasaan ku agar kita tau dan tidak lagi membebani pikiran ku.. cukup hanya ingin ku utarakan bahkan tak ada harapan untuk mendapat balasan perasaan yang sama dari mu”..
            “Orang itu yang pantas bersama mu,, dan saya berharap belajar ki’ untuk suka sama itu orang dan hapuskan bayang-bayang ku di dalam pikiran ta’ bahkan kalau saya harus pergi jauh untuk menghindar dari mu, sebagai bentuk pengorbanan untuk sahabat ku itu akan aku lakukan.. agar sahabatku bisa bersama mu. Minta maaf kalau yang ku katakan hanya melukai persaan mu.. “Kita saling menyukai bukan berarti harus saling memiliki.. cinta tak selamanya mengharap balasan agar bisa saling memiliki” saya tidak mau ada yang tersakiti dengan perasaan ku ini, terlebih jika itu adalah sahabat ku sendiri..”
ia pergi meninggalkan ku sendiri di kursi kayu yang rapuh ini, di selimuti dinginnya angina malam,, tak dapat ku bendung lagi air mata ku jatuh membasahi pipi, hatiku terguncang, ingin ku berlari sejauh mungkin dan menghempaskan perasaan ini , perasaan yang semakin menyesakkan dada..
            malam itu menjadi malam yang sangat pahit untukku.. kawan yang menjadi teman curhatku hanya bisa menyuruhku bersabar, dalam kondisi seperti ini aku masih mempunyai teman yang sangat perhatian dan mengerti perasaan ku,, bahkan ketika aku mulai merasa kesepian dan tak memiliki siapa-siapa..
            ku coba untuk melupakan kejadian kemarin malam itu,, ku susuri lorong demi lorong, langkah kaki yang semakin berat kurasa , berharap agar bisa sampai dengan cepat ke kos-an tempat di mana aku bernaung dari panasnya siang dan dinginnya malam.. teringat perkataan kak Imran “ ada orang yang suka ki’ dan jauh lebih pantas berada di dekat ta’ . sahabat yang tak ingin ku sakiti hanya karna perasaan ku ini”..
aku masih bertanya-tanya siapa orang itu?? Yang menyukai ku bahkan membuat kak Imran mengalah mengorbankan perasaannya hanya karna tak ingin menyakiti perasaan orang itu yang ia anggap sahabat??!! Seribu satu tanda Tanya melayang-layang di pikiranku.. ah,, entahlah.. biarkan waktu yang menjawab siapa dia..
            “hey,, herny naik mi sini ku antar pulang ke kost mu”.. suara pria itu menghentikan langkah ku..suara pria yang tak lain adalah kakak sepupu ku sendiri..
            “eh,, kak agus.. kebetulan sudah capek mka jalan mana lagi panas sekali.. hehe datang ki’ di waktu yang tepat kak”.. kataku menghangat kan suasana. Segera aku naik diatas kendaraan roda duanya berwarna biru hitam itu..
            “herny.. mauka bilang sesuatu tapi bukan sebagai kakak sepupu kepada adik sepupunya,, tapi ini perasaan yang di miliki oleh seorang pria kepada wanita yang di sukainya dan sudah lama di pendam..
            “ku suka ki de’.. ini mungkin hal yang terlalu cepat dan membuat mu kaget, tapi hal ini harus ku utarakan sebelum semuanya terlambat” maaf kalau ini kurang berkenan di hati mu..”
Semua sudah terjawab!, kak Imran mengorbankan perasaannya hanya untuk sahabatnya yang tak lain adalah kakak sepupu ku sendiri. Yaa kakak agus orangnya.. hal ini membuat ku semakin bingung, kepala ku serasa ingin pecah aku ingin berlari sejauh mugkin dari kenyataan ini. Aku menyukai kak Imran tapi ia lebih mempertahankan persahabatannya dengan kak agus dan sudah menjadi keharusan untukku untuk tetap menjaga hubungan persahabatan yang sudah terjalin sangat baik ini antara kak Imran dan kak agus, dan aku tak ingin menghancurkan itu..
            Jalan keluar yang sangat baik dalam situasi seperti ini, dengan tidak saling memiliki, satu sama lain.. persahabatan jauh lebih baik di banding harus mempertahankan keegoisan ku agar bisa bersama dengan kak Imran. Jangan ada yang tersakiti dalam masalah ini. aku mundur mengharap balasan perasaan dari kak Imran , dan kak agus akan jauh lebih baik jika ia cukup menjadi kakak sepupu ku..
Sebab sejatinya,, “CINTA TAK HARUS SALING MEMILIKI.”… :’(


           

           






Senin, 08 Juli 2013

SEDEKAH TAK PERLU HITUNG HITUNGAN


SEDEKAH TAK PERLU HITUNG-HITUNGAN
Logika rezeki itu seperti pipa saluran air di air terjun. Semakin besar diameter pipa yang kita salurkan, akan semakin besar pula air yang memenuhi pipa tersebut, semakin deras pula pula air yang mengalir. Air terjun di umpamakan sebagai limpahan karunia tuhan yang mahakaya yang senantiasa mengalir setiap saat.
Pada era tahun 1970-1985 ada seorang pengusaha rotan dari Kalimantan. Ia seorang pengusaha sukses yang terkenal dengan kedermawanannya. Jika ada orang yang datang memerlukan bantuan, beliau tidak tanggung-tanggu memberikan uang bantuan dalam jumlah yang besar, terlebih kepada orang-orang yang kekurangan untuk menunaikan ibadah haji. Setiap kali selesai transaksi bisnis, pengusaha tersebut mendapat keuntungan puluhan juta rupiah.
Sampai-sampai ia harus menyimpannya dalam sebuah karung. Selain itu, beliau memiliki kebiasaan unik dalam bersedekah. Sebelum pulang kerumah, beliau selalu menyempatkan mampir sebentar di sebuah pondok pesantren dan menemui sahabat beliau yang merupakan ulama besar sekaligus pemimpin pondok pesantren tersebut.
Tanpan ragu-ragu beliau membelah karung tepung yang berisi uang tersebut menjadi dua bagian. Bagian pertama, ia sedekahkan tanpa menghitung berapa jumlahnya. Sedangkan sebagian yang lainnya ia bungkus kembali untuk di bawa pulang. Ketika di tanyakan mengapa beliau melakukan kebiasaan bersedekah seperti itu, pengusaha itu menjawab “ BUKANKAH ALLAH TIDAK PERNAH MENGHITUNG-HITUNG MEMBERIKAN KITA REZEKI, LANTAS MENGAPA KITA HARUS MENGHITUNG-HITUNG MEMBELANJAKAN REZEKI DI JALANNYA?”
Pengusaha itu memang sengaja tidak pernah mau menghitung berapa jumlah harta yang telah beliau sumbangkan, lantaran tidak ingin perasan riya atau tidak ikhlas muncul di hatinya. Prinsip beliau hanya ingin mendepositkan hartanya sebanyak-banyaknya untuk kebahagian di akhirat. Senada dengan hadits Rasulullah saw, “tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu”.


Kamis, 20 Juni 2013

kisah inspiratif


ORANG KAYA MASUK SURGA LEBIH DULU
Orang kaya lebih dulu masuk surga dari pada ulama, bahkan orang mati syahid sekalipun. Berikut buktinya :
Sebuah hadits Rasulullah S.a.w, menyatakan bahwa manakala orang-orang beriman yang sudah berhasil melewati intograsi dan uji kelayakan untuk masuk ke dalam surga , pintu surga pun terbuka. Demi melihat puncak keindahan dan kemegahan tiada tara, segolongan orang beriman yang berada di shaf terdepan sudah bersiap-siap masuk ke dalam surga. Sebelum kelompok orang-orang beriman itu di masukkan ke dalam surga, terjadilah dialog dengan malaikat penjaga surga.
Malaikat penjaga surga bertanya, “apakah yang menyebabkan kalian masuk surga?”
Mereka menjawab, “ kami adalah para syuhada yang gugur berjuang membela agama.”
“ mengapa kalian mau berjuang?” Tanya malaikat lagi.
“sebab Allah telah menjanjikan surga dengan segala kenikmatannya untuk kami,” sahut mereka.
“ dari mana kalian mengetahui janji Allah tersebut?” Tanya malaikat.
Para syuhada menjawab “ dari ilmu –ilmu yang di sampaikan oleh para ulama.”
“ oh, kalau begitu, ulama pantas lebih dulu untuk memasuki pintu surga lebih awal.
Sesampai mereka di depan pintu surga , malaikat kembali bertanya,“ amalan apa yang menyebabkan kalian masuk surga?”
Para ulama menjawab, “ kami golongan orang-orang yang berilmu ketika berada di dunia dan kami mengamalkan ilmu yang kami ketahui, sehingga Allah memasukkan kami ke dalam surga.”
“dari mana kalian mendapatkan kemudahan dan fasilitas untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya? Siapakah yang membangun gedung sekolah sebagai sarana belajar mengajar kalian? Siapakah yang membangun masjid untuk kalian beribadah?” Tanya malaikat lagi.
Para ulama menjawab “Semua itu berasal dari zakat, sedekah, dan infak para orang kaya.”
“oh, begitu, orang-orang kayalah yang lebih pantas masuk surga terlebih dahulu, bukan kalian,” ujar malaikat.
Kemudian di persilahkanlah golongan orang-orang kaya untuk masuk ke dalam surga lebih dulu, kemudian di ikutilah para ulama dan syuhada.
Kisah ini bukan mengada-ada, bukan pula bermaksud merendahkan kedudukan ulama atau meremehkan pahala para syuhada yang gugur berjuang di jalan Allah. Memang demikian kenyataan berdasarkan hadits Rasulullah saw, yang sahih.
Tapi jangan salah! Orang kaya yang di jamin masuk surga lebih dulu adalah orang-orang kaya yang dermawan, bukan orang-orang kaya yang pelit,  bukan pula orang-orang kaya yang hanya mengumpulkan kekayaan untuk memperkaya dirinya saja, apalagi memperoleh kekayaan dengan menghalalkan segala cara! Sedangkan orang-orang kaya dari hasil korupsi, tentunya mereka juga lebih dahulu masuk ke neraka. Memang begitulah kenyataannya.



Minggu, 09 Juni 2013

sang kiai dan air hujan


KISAH KIAI DAN AIR HUJAN
Di sebuah desa, terjadi kemarau panjang. Pada tahun itu panen gagal total, Sungai-sungai kering. Penyakit aneh pun mulai mewabah. Semua usaha sudah di lakukan warga, namun tidak membawa hasil apa-apa. Salah seorang warga mengusulkan untuk meminta doa dari seorang kiai sakti yang di yakini doanya sangat makbul.
 Pada hari yang sudah di sepakati, pergilah warga berbondong-bondong menuju tempat kediaman kiai tersebut di lereng gunung. Sesampai disana, sang kiai sudah menunggu kedatangan mereka. Salah satu tokoh desa maju kedepn dan mengajukan permintaan agar sang kiai berkenan mendoakan agar hujan turun di desa mereka.
Sebelum berdoa, sang kiai bertanya, “ apakah diantara kalian ada yang berdosa ? semua celingkukan, saling berpandang satu sama lain.
“ apakah kalian sudah meminta ampun atas dosa-dosa kalian dan memperbanyak membaca istigfar?” Tanya sang kiai lagi.
“ ya, kami sudah beristigfar dan memohon ampun atas dosa-dosa kami, bahkan kami sudah berulang-ulang melakukan ( doa memohon pertolongan)dan shalat istisyqa ( shalat meminta hujan ). Serta berzikir bersama, tapi tetap saja hujan belum juga turun,” sahut pemimpin desa, sedamgkan warga lainnya mengiyakan.
“ apakah kalian yakin kalau doa dan permohonan kalian di dengar oleh tuhan dan pasti di kabulkan?”  sang kiai kembali bertanya.
Kali ini semua warga menyahut serempak, “ ya kami sangat yakin tuhan maha mendengar doa-doa kami, dan dia pasti akan mengabulkan permohonan kami !”
“kalau begitu apakah kalian sudah mempersiapkan drum, ember, dan baskom kosong untuk menampung air ?” Tanya sang kiai dengan mimic wajah yang meragukan.
Warga desa pun menggeleng-geleng kepala.
“ kalian bagaimana sih,,,!!!!?? Dengan nada agak emosi sang kiai berdiri dan berkata, “ kalian yakin bahwa tuhan maha mendengar. Kalian yakin permohonan doa-doa kalian pasti dikabulkan, lantas mengapa kalian tidak mempersiapkan tempat untuk menampung air hujan yang akan turun??!!!
“ tapi bukankah belum ada tanda-tanda hujan akan turun?” sergah pemimpin desa.
“ bukankah doa-doa yang kalian pinta itu, merupakan tanda bahwa tuhan akan mengabulkan permintaan kalian? Sekiranya tidak mau menurunkan hujan sama sekali, dia pun akan menutup hati kalian untuk berdoa dan mengingat namaNya!! Sudah pulang sana!
Tak lama setelah sang kiai berkata seperti itu, tiba-tiba hujan mendadak turun. Semua warga berlarian menikmati hujan yang telah lama tidak membasahi desa mereka yang kering kerontang. Saking senangnya, mereka bermain air sampai basah kuyup hingga hujan kembali reda.
Begitu hujan reda,mereka baru sadar, ternyata  satu ada satu ember pun yang menanpung air hujan. Semenjak itu, hujan tak kunjung turun lagi berbulan-bulan lamanya. Tuhan memang sudah mengabulkan permohonan mereka, tapi mereka tidak pernah mempersiapkan anugrah besar itu.
Filosofi dari kisah diatas sederhana saja. Kisah ini menggambarkan tentang fenomena orang-orang yang sering kali berdoa mengharapkan sesuatu, akan tetapi dia tidak pernah mau mempersiapkan kehadiran sesuatu itu.