Pengikut

Senin, 08 Juli 2013

SEDEKAH TAK PERLU HITUNG HITUNGAN


SEDEKAH TAK PERLU HITUNG-HITUNGAN
Logika rezeki itu seperti pipa saluran air di air terjun. Semakin besar diameter pipa yang kita salurkan, akan semakin besar pula air yang memenuhi pipa tersebut, semakin deras pula pula air yang mengalir. Air terjun di umpamakan sebagai limpahan karunia tuhan yang mahakaya yang senantiasa mengalir setiap saat.
Pada era tahun 1970-1985 ada seorang pengusaha rotan dari Kalimantan. Ia seorang pengusaha sukses yang terkenal dengan kedermawanannya. Jika ada orang yang datang memerlukan bantuan, beliau tidak tanggung-tanggu memberikan uang bantuan dalam jumlah yang besar, terlebih kepada orang-orang yang kekurangan untuk menunaikan ibadah haji. Setiap kali selesai transaksi bisnis, pengusaha tersebut mendapat keuntungan puluhan juta rupiah.
Sampai-sampai ia harus menyimpannya dalam sebuah karung. Selain itu, beliau memiliki kebiasaan unik dalam bersedekah. Sebelum pulang kerumah, beliau selalu menyempatkan mampir sebentar di sebuah pondok pesantren dan menemui sahabat beliau yang merupakan ulama besar sekaligus pemimpin pondok pesantren tersebut.
Tanpan ragu-ragu beliau membelah karung tepung yang berisi uang tersebut menjadi dua bagian. Bagian pertama, ia sedekahkan tanpa menghitung berapa jumlahnya. Sedangkan sebagian yang lainnya ia bungkus kembali untuk di bawa pulang. Ketika di tanyakan mengapa beliau melakukan kebiasaan bersedekah seperti itu, pengusaha itu menjawab “ BUKANKAH ALLAH TIDAK PERNAH MENGHITUNG-HITUNG MEMBERIKAN KITA REZEKI, LANTAS MENGAPA KITA HARUS MENGHITUNG-HITUNG MEMBELANJAKAN REZEKI DI JALANNYA?”
Pengusaha itu memang sengaja tidak pernah mau menghitung berapa jumlah harta yang telah beliau sumbangkan, lantaran tidak ingin perasan riya atau tidak ikhlas muncul di hatinya. Prinsip beliau hanya ingin mendepositkan hartanya sebanyak-banyaknya untuk kebahagian di akhirat. Senada dengan hadits Rasulullah saw, “tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu”.


Kamis, 20 Juni 2013

kisah inspiratif


ORANG KAYA MASUK SURGA LEBIH DULU
Orang kaya lebih dulu masuk surga dari pada ulama, bahkan orang mati syahid sekalipun. Berikut buktinya :
Sebuah hadits Rasulullah S.a.w, menyatakan bahwa manakala orang-orang beriman yang sudah berhasil melewati intograsi dan uji kelayakan untuk masuk ke dalam surga , pintu surga pun terbuka. Demi melihat puncak keindahan dan kemegahan tiada tara, segolongan orang beriman yang berada di shaf terdepan sudah bersiap-siap masuk ke dalam surga. Sebelum kelompok orang-orang beriman itu di masukkan ke dalam surga, terjadilah dialog dengan malaikat penjaga surga.
Malaikat penjaga surga bertanya, “apakah yang menyebabkan kalian masuk surga?”
Mereka menjawab, “ kami adalah para syuhada yang gugur berjuang membela agama.”
“ mengapa kalian mau berjuang?” Tanya malaikat lagi.
“sebab Allah telah menjanjikan surga dengan segala kenikmatannya untuk kami,” sahut mereka.
“ dari mana kalian mengetahui janji Allah tersebut?” Tanya malaikat.
Para syuhada menjawab “ dari ilmu –ilmu yang di sampaikan oleh para ulama.”
“ oh, kalau begitu, ulama pantas lebih dulu untuk memasuki pintu surga lebih awal.
Sesampai mereka di depan pintu surga , malaikat kembali bertanya,“ amalan apa yang menyebabkan kalian masuk surga?”
Para ulama menjawab, “ kami golongan orang-orang yang berilmu ketika berada di dunia dan kami mengamalkan ilmu yang kami ketahui, sehingga Allah memasukkan kami ke dalam surga.”
“dari mana kalian mendapatkan kemudahan dan fasilitas untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya? Siapakah yang membangun gedung sekolah sebagai sarana belajar mengajar kalian? Siapakah yang membangun masjid untuk kalian beribadah?” Tanya malaikat lagi.
Para ulama menjawab “Semua itu berasal dari zakat, sedekah, dan infak para orang kaya.”
“oh, begitu, orang-orang kayalah yang lebih pantas masuk surga terlebih dahulu, bukan kalian,” ujar malaikat.
Kemudian di persilahkanlah golongan orang-orang kaya untuk masuk ke dalam surga lebih dulu, kemudian di ikutilah para ulama dan syuhada.
Kisah ini bukan mengada-ada, bukan pula bermaksud merendahkan kedudukan ulama atau meremehkan pahala para syuhada yang gugur berjuang di jalan Allah. Memang demikian kenyataan berdasarkan hadits Rasulullah saw, yang sahih.
Tapi jangan salah! Orang kaya yang di jamin masuk surga lebih dulu adalah orang-orang kaya yang dermawan, bukan orang-orang kaya yang pelit,  bukan pula orang-orang kaya yang hanya mengumpulkan kekayaan untuk memperkaya dirinya saja, apalagi memperoleh kekayaan dengan menghalalkan segala cara! Sedangkan orang-orang kaya dari hasil korupsi, tentunya mereka juga lebih dahulu masuk ke neraka. Memang begitulah kenyataannya.



Minggu, 09 Juni 2013

sang kiai dan air hujan


KISAH KIAI DAN AIR HUJAN
Di sebuah desa, terjadi kemarau panjang. Pada tahun itu panen gagal total, Sungai-sungai kering. Penyakit aneh pun mulai mewabah. Semua usaha sudah di lakukan warga, namun tidak membawa hasil apa-apa. Salah seorang warga mengusulkan untuk meminta doa dari seorang kiai sakti yang di yakini doanya sangat makbul.
 Pada hari yang sudah di sepakati, pergilah warga berbondong-bondong menuju tempat kediaman kiai tersebut di lereng gunung. Sesampai disana, sang kiai sudah menunggu kedatangan mereka. Salah satu tokoh desa maju kedepn dan mengajukan permintaan agar sang kiai berkenan mendoakan agar hujan turun di desa mereka.
Sebelum berdoa, sang kiai bertanya, “ apakah diantara kalian ada yang berdosa ? semua celingkukan, saling berpandang satu sama lain.
“ apakah kalian sudah meminta ampun atas dosa-dosa kalian dan memperbanyak membaca istigfar?” Tanya sang kiai lagi.
“ ya, kami sudah beristigfar dan memohon ampun atas dosa-dosa kami, bahkan kami sudah berulang-ulang melakukan ( doa memohon pertolongan)dan shalat istisyqa ( shalat meminta hujan ). Serta berzikir bersama, tapi tetap saja hujan belum juga turun,” sahut pemimpin desa, sedamgkan warga lainnya mengiyakan.
“ apakah kalian yakin kalau doa dan permohonan kalian di dengar oleh tuhan dan pasti di kabulkan?”  sang kiai kembali bertanya.
Kali ini semua warga menyahut serempak, “ ya kami sangat yakin tuhan maha mendengar doa-doa kami, dan dia pasti akan mengabulkan permohonan kami !”
“kalau begitu apakah kalian sudah mempersiapkan drum, ember, dan baskom kosong untuk menampung air ?” Tanya sang kiai dengan mimic wajah yang meragukan.
Warga desa pun menggeleng-geleng kepala.
“ kalian bagaimana sih,,,!!!!?? Dengan nada agak emosi sang kiai berdiri dan berkata, “ kalian yakin bahwa tuhan maha mendengar. Kalian yakin permohonan doa-doa kalian pasti dikabulkan, lantas mengapa kalian tidak mempersiapkan tempat untuk menampung air hujan yang akan turun??!!!
“ tapi bukankah belum ada tanda-tanda hujan akan turun?” sergah pemimpin desa.
“ bukankah doa-doa yang kalian pinta itu, merupakan tanda bahwa tuhan akan mengabulkan permintaan kalian? Sekiranya tidak mau menurunkan hujan sama sekali, dia pun akan menutup hati kalian untuk berdoa dan mengingat namaNya!! Sudah pulang sana!
Tak lama setelah sang kiai berkata seperti itu, tiba-tiba hujan mendadak turun. Semua warga berlarian menikmati hujan yang telah lama tidak membasahi desa mereka yang kering kerontang. Saking senangnya, mereka bermain air sampai basah kuyup hingga hujan kembali reda.
Begitu hujan reda,mereka baru sadar, ternyata  satu ada satu ember pun yang menanpung air hujan. Semenjak itu, hujan tak kunjung turun lagi berbulan-bulan lamanya. Tuhan memang sudah mengabulkan permohonan mereka, tapi mereka tidak pernah mempersiapkan anugrah besar itu.
Filosofi dari kisah diatas sederhana saja. Kisah ini menggambarkan tentang fenomena orang-orang yang sering kali berdoa mengharapkan sesuatu, akan tetapi dia tidak pernah mau mempersiapkan kehadiran sesuatu itu.

Selasa, 21 Mei 2013

inspirasi kami


Gurunda
Hingga pada akhirnya hanya Air mata yang mampu menggambarkan rasa kehilangan ini..
Apa yang  telah engkau berikan kepada kami hanya doa yang mampu kami berikan padamu..
Bahkan hal itu tak cukup untuk membalaskan keikhlasan ilmu yang senantiasa engkau curuhkan pada kami….
Engkau meninggalkan begitu banyak berkah untuk kami…
Ilmu, kebaikan, pengetahuan,  tuntunan untuk selalu berjalan diatas perintah Allah dan rasulnya…
Engkau tak lagi di dunia ini,, namun bagi kami engkau masih tetap hidup dalam hati dan jiwa kami..
Yang senang tiasa berjalan beriringan dengan kebaikan dan ilmu yang engkau tanamkan pada kami..
Tenanglah disana… beristirahatlah dengan penuh kedamaian…
Kini Amanah yang engkau emban sudah selesai kau tunaikan dengan baik…
 Hanya tugas kami sekarang untuk meneruskan kebaikan yang  telah engkau berikan pada kami..
Allah merindukan mu,, merindukan untuk segera memberimu Mahkota ……………………………………Selamat jalan gurunda tercinta…………………………

Kamis, 09 Mei 2013

IBU


UMMU
Saat aku melihat wajahmu yg penuh dengan keteduhan
Sungguh tuhan telah menciptakan manusia yang rela terluka..
Manusia yang rela tubuhnya di basahi oleh keringat bahkan darah sekalipun..
Saat ia berdoa kepada tuhannya, doa kebaikan yg di peruntukkan bukan untuk hidupnya,,
                                           Ia berusaha untuk mewujudkan sesuatu yang mustahil ia berikan
                                           Tapi tidak ada kata “tak mungkin” kata “tdk bisa”
                                            Bahkan jika yang aku pinta adalah bintang
                                 Kurasa ia akan terbang dan mengambil beribu bintang di langit
                                 Hanya untukku.
Namun di saat ia rela memberikan hidup dan matinya hanya untukku
Yang ku balas hanyalah rasa sakit dan umpatan-umpatan yang menyakitkan hati
Aku bahkan tak ingin mengingat apa yang telah engkau perjuangkan untukku
Dan ku katakan kalau hal itu sudah menjadi kewajiban mu untuk membahagiakan ku..
                              Hingga saat ku sadari semuanya,yang kau berikan tanpa ingin menerima
                              Kebahagianku adalah cintamu, tangisku adalah derita mu.
                              Syukurmu adalah senyum ku..
                               Dan kesuksesan ku adalah tujuan hidup mu..
IBU… IBU…IBU…
Kau adalah malaikat ku..
Kasih mu bagaikan udara yang tak akan habis
Cinta mu seluas hamparan laut di bumi
                                Maafkan anak mu ini,yang tak bisa membalas dan tak akan pernah bisa
                                Bahkan jika aku menopang mu untuk mendaki gunung yang tinggi
                                 Hal itu takkan mampu membalas setetes air susu mu..       
                                 Menggantikan setetes keringat yang membasahi tubuh mu..
Maafkan aku ibu..
Maafkan anak mu ini…
Maafkan krn tak berdayaan ku untuk membahagiakan mu..
Sekali lagi ku katakan maaf beribu-ribu maaf..